Mendekatlah pada dinding malam. Biarkan ia memelukmu erat dalam balutan gigil yang tajam. Izinkan getaran tubuhmu dirasakan aliran mata air yang bergemerisik ketika langit terpejam Relakan lelapmu digadaikan gelap yang abstrak dalam pikiranmu detik ini Jadikan penat sebagai pelipur laramu …
  Aku tidak pernah melupakanmu di sini. Pada setiap langkah yang terjejak dalam tanah. Pada uraian kata yang terpatri oleh sukma. Dirimu bukanlah kenangan termanis dalam perjalanan zaman, melainkan nyawa yang berembus menyejukkan dahaga. Suatu masa pernah engkau buat tandus, …
Tentang mata yang ingin terpejam. Tentang sepi yang memanjang. Pernah aku berusaha menggunting tali-tali waktu yang tergantung di ambang jurang, atau membuatkannya jembatan penghubung masa lalu dengan masa depan. Agar ketika hening menghanyutkan tawa ke hilir-hilir senja,  aku mampu memungutnya …
  Lihatlah! Insan-insan menyedihkan itu, Hilir-mudik membeli harga diri di emper-emper kekayaan Menghampurkan rupiah menundukkan kesenangan Wajah-wajah dengan potret masam Senyum lugu yang berubah kasar Jemari usil memuntahkan keringat lelah Abai dengan pemilik bulatnya bola mata di kolong-kolong langit palsu. …
  Tetapan kosong itu… Di samping tangga penghubung masa depan Terngiang jelas tanpa bayangan buram Pertanyaan memecah riak bimbang Antara jarak menghadap atau melenyap Kau melinangkan kesempatan Mengunci kenangan Mengabaikan harapan Membuat jiwa bergeligis di hadapan wajah ilalang Kau lebih …
  “Aku mencintaimu,” pipi pemuda itu basah sebab cairan jiwa yang pedih.Ia menggenggam amarah yang tak mampu diredam, sementara kasih sayang kandas berbenturan dengan rasa yang kian menggenang. Lima tahun perjalanan asmara menjadi usai, karena dua bola lensa melirik latar …
Karya Darah Mimpi Aku membuka pintu, senyumnya yang dihadiahkan. Sungguh menakjubkan. Paras ayunya diselimuti dengan rona kusut semalaman menenggelamkannya di bantal kumal. Rambutnya kacau. Bibirnya belum dipoles gincu serupa senja. Maka mentari yang hendak mengajak burung di langit mengepakkan sayapnya, …
S A T U “Sari tidak akan bisa Mbak, Sari tidak akan bisaaa…” setitik embun menetes di pipinya. Mendadak bahunya berguncang hebat. Isakan memecah keheningan malam. Wiwin menyesal karena telah menghardik adiknya. Dia mendekap Sari dengan kasih sayang. Merangkul asanya …