Aku masih mematung di antara pasir, pecahan koral, dan hangatnya air yang menyapa tapak-tapak kaki Napasku dalam, Meratapi air yang diam di cekungan karang Entah hingga kapan? Atau sudah lama ia bosan Menguapkan tubuhnya memenuhi kehampaan Lihatlah ke arah jauh …
  Dan tiba lagi Gugur puisimu luruh Menerpa wajahku Dingin Sedingin besi digerus korosi Tak kau lihat Dari detik, yang setia menghujam Kulihat kau, Berperisai pedang menerjang tajam Di antara hujan yang menjatuhkan tubuhnya di tempat terdalam Semakin banyak enggan …
  Udara panas Trembesi meranggas Dalam siang ganas Oleh aspal yang enggan memelas Di titik jauh Linang-linang air mata Menyipit lelah Seperti oase Dehidrasi Lirih menggerutu Benak-benak kesialan Memaki keadaan Menyudutkan kehilangan Dari waktu Tiada mungkin kembali bersatu Oleh: Yuri Lumajang, …
mata, kata, hati, memang telah lama terintimidasi luka, lara, lirih, terbungkam dalam aksara tanpa suara nyala, nyata, bertunas, angan yang ingin aku larung dalam lautan air liur pergi, padam, diam, hanya satu-satunya jalan untuk berasumsi dan paragraf telah menjadi cerita-cerita …
  Diam, di antara senja yang akan hilang di antara malam tanpa kunang-kunang di antara pekat kabut meracun pikiran Nanar, mata yang binar dirembesi mata air jatuh mengucur membuat alir-alir tanpa suar enggan memendar menyipit menyimpulkan bukit-bukit. Dingin, Secangkir kopi …
  Segeralah pulang, Daun randu depan rumah sudah habis di ranggasi kemarau panjang, Hingga waktu sudah menyisakan tulang-belulang. Segeralah pulang, Luangkan lelah ‘tuk menyapu dedaunan kering menyerak di pelataran, Yang dulu sempat kau beri nama gelanggang permainan. Oleh: Yuri  Malang, 2017 …
Jejak yang tertinggal masih basah oleh bekas sepatu Saat kaki menapak langkah Kuselipkan sepucuk suara di telingamu “Dan aku kan menetap jika memang kau adalah rumah” Seketika hujan jatuh bersama gemuruh Oleh: Yuri  Kediri, 2017 Please follow and like us:
  Selarik garis di bawah lipatan kerut mata Mulai basah dengan air mata Ketika kau menatapku dari balik kaca mata Nyaris tanpa kata, tanpa mata-mata Kata-kata berlari Tanpa henti Merintih tiada spasi bahkan Intruksi kini beku ; nyaris mati Perlahan …
Gelap jalan dan lampu-lampu mengiring laku sayu-sayu desir-desir angin dingin riak air trotoar-trotoar lengang tanpa perlawanan tanpa hambatan Apakah kita hanya berjalan dengan hampa Tanpa titik serta belaian irama Hanya merana Ketakutan dengan sepi yang dihinggapi gulana Aku menyusur sunyi …
Dari balik jendela kaca Aku melirik ke arah jalan Masihkah ia sama? Akankah keraguan menyergap tiba-tiba? Politik, bola, dan kawan-kawannya Telah meracau di antara dua bangku Hanya telingaku yang enggan membahasnya Dan Di antara jendela kaca Kuseret kelambu coklat tua …