Hujan adalah tanda koma tentang kerinduan, sebelum menjadi titik pertemuan. Hujan kelak menjadi kurva, menghubungkan dua bola mataku dengan dua pasang telingamu, lantas kita menjamu perjalanan di singgasana perpisahan. Hujan adalah aku dan jalanan, menatapi bunga-bunga air yang berhamburan di …
;Seniman Bukan pada bait yang hendak dirangkai menjadi susunan kata padu Aku ingin engkau datang tanpa kata  terulang Panggilanku bukan rujukan Kepulanganku bukan pertemuan Adaku karena ragamu menyatu dalam darah suci titisan Tuhan Jika kau tampilkan mendung di awal harimu,  …
Hujan mengiringi kedatanganmu, Menyua memberikan mata nanar, menerima kehilangan Kau temui diriku, mengurangi beban pundakmu Kabut menggumpal di alam luar Embun-embun membasahi jendela. Kau ukir sebuah nama Ibu  Pelangi tidak datang mengantarkan kepergian Kau jatuhkan tubuh bersama rintik-rintik hujan Menghitung …
Kita bersapa saat malam menghabiskan jamuan Kau hitung angka kehidupan Aku menyusun logaritma kenangan, Di penghujung lelap, kita kuliti tubuh gelap Menggunakan pisau cahaya, Tentang harap terbangkan pekat Memutarkan detik juang, pada jarum pengorbanan Demi hidup, Kata rembulan menimpali. Kita …
;Akhmad Al Hasni Antara kesunyian, kegelisahan, keramaian, mengapa kau jadikan satu rumus kehidupan? Harusnya kau bubuhi dengan perkalian kebahagiaan, dikuadratkan dengan keceriaan Maka pertama kali mata bersua, ada sederet senyum manismu, bukan tangan yang mengeram di dalam dada Lagi— Kau …
;Yulia Sofyan Aku punya mimpi, Sederhana, seperti dandelion tertiup angin Kuhantarkan di atas telapakmu Meraba-raba kornea pandangmu Lekas, siulkan melodi kepergian Aku punya mimpi, Memasuki lorong bising, menekuri khayalak imaji, Kabar elang bertutup, sayapnya jatuh di pangkuan Pertiwi Peta rumahmu …
;Dwi Susiani  Untukmu… Kata yang tepat adalah ragu-ragu Bukan prosa romantis milik pujangga, Tak pandai aku membungakan sajak, Seperti melukis di atas kanvas hitam, adamu abstrak, Begitu pun, ketiadaan tak pantas kau sandang Kau di sini, Kutunjuk sebuah pusat kehidupan …
;Virga Puspita Chandra  Ada salam perpisahan tanpa lambaian, Sempat oktafmu kau tinggikan, untuk merangkum kepedulian Melayang pada ambang fatamorgana, menjadi rasi kerinduan Tiap malam, kau berkelip menggoda nostalgia masam Pernah kau berdiri di panggung merah, menjadikan mata sebagai punggung, memekarkan …
;Liara Divya  Jendela basah, embun memutik di dinding bening Ia jatuh dari ketinggian, takdirnya jatuh, kembali jatuh, arus dalam tanah menggumam, Kapankah hujan bangkit?  Sebelum masa terbenam, hujan akan selalu jatuh, Membasahi alam, menciptakan bunga-bunga di permukaan bumi, Menyelinap masuk …
;Indah Wulan Cahya Jika kau kuntum bunga, Izinkan aku mengawetkan kelopakmu, Akan kumasukkan ke dalam etalase masa depan Kan kujadikan kuntunmu sebagai pengharum keputus asaan Biarlah daunmu gugur di dadaku, supaya leluasa tersemayam di relung kasih sayang, Engkau seputih awan, …