Pada sajak yang kau tanggalkan di kota tua itu, Aku berdoa, Jika kelak pagi tak jua lahir di kelopak matamu, Tubuhku akan kuperam menjadi sajak puisi yang bertebar di jalanan. Kata-kata yang telah menyusun sebagian ingatan, Akan tersebar, di sudut-sudut …
Telah kutemukan sisa tangismu yang mengerak di meja, Tubuh pesan yang kau susun di larik puisi terakhirmu itu, mengiba, Mereka lahir dengan terpaksa, Di ruangan pengap ini, Kesedihanmu tercecer di lantai, Mereka mengaduh, mengeluh, kerapkali dicumbu saban waktu, Tak ada …
Dari mana kelahiran akan bermuara? Aku acap kali mendebatkan pertanyaan itu di batok kepalaku, Roh-roh yang terlanjur mengantre di loket malaikat, Akan dihentikan, lalu berhentilah semua kelahiran di dunia, Hari itu hujan mendatangi bumi dengan malu-malu, Mimpi-mimpi yang kerapkali di …
Untuk kesedihan dalam sepekan Telah kuceritakan kelahiranmu, Di Kepak sayap Jibril itu, Rohmu tertiup, lalu menyatu di buritan. Hari ini, telah kuceritakan pada bangku, meja dan beberapa sisa napas yang mengerak di jendela. Bahtera Nuh telah dikenang-kekalkan di peraduan waktu.. …
Kutemukan jasadku tergeletak, Jasad yang kerapkali kau peluk itu, Kini terjerembab, Jatuh, Namun menolak mati di ujung jurang pikiranmu. Tubuh-tubuh yang dulu coba kau kekalkan, Kini jatuh satu-persatu bagai rintik hujan, Terpelanting, Sia-sia, Tubuh-tubuh itu menolak ditinggalkan, Aku, adalah satu …
Di bait sajak terakhir akan kutulis, Betapa aku ingin menjadi bola matamu, Yang merasakan cahaya datang, Lalu membias, Pada sebuah pagi di sela-sela sajak itu, Kau akan melihat, Huruf-huruf itu hidup, Membentuk makna, Meski kau bilang, Dunia kita sudah kehilangannya. …
Telah kudengar kabar kematianmu yang kedua, Kabar-kabar yang sengaja dikabarkan oleh jejak malam. Oleh sisa-sisa keramaian yang membekas di halaman pasar. Bau anyir kehidupan telah lama mengerak disetubuhi sepi. Tentu kau melihatnya, Kantung mataku adalah jawaban paling manusiawi, Dari sekian …