Serasanya baru kemarin Bermain dalam haru bersatu Dan memisah pada ragu beda Sekedip kisah direkap terjeda Sekitaran delapan enam Usai berbalut putih abu Bersekap dekat dengan lima langkah Kedua Kesempatan direkat untuk sebuah awal Satu dan dua Kerap berangkat tiap …
Bukankah tak ada ragu bersenda Dari perpautan dagu yang tergugu Sekerap raut meracik lagu bernada Masih dengan pertentangan berlaju Tanpa perih yang sedikit, berbendang Lambang menandakan sekembang bilangan Baru serupa pembuka tapi bukan Tembang merujuk seketika pada titian Merasa tak …
Bising kota tua kerap tak aku suka Imajinerku bermain, pada teriak pejantan subuh Merayu-rayu pada bisik kantuk dini tadi Ramai juga damai bila ku gapai Dalam seronok jantung kota kalbuku gondok Bising udara tak lagi bahkan terangnya audio senyap Salamku …
Dikatakan pada seratus tahunan lamanya Kau tersenyum pahit tuk bersapa Atas kehadiranmu serta tugas-Nya kedua kali Bagi insan-insan penyeruak bumi Kau redup kembangkan pada dua pertunjukan Melibatkan semesta juga antero insan Berhias titik-titik membasah udara teratas Atmosfer tergelitik pada spot …
Muda usia semasa itu Pencitraan tak lagi dia hiraukan Dia, nona tenar atas nada tenornya Masih pada memoar ciliknya Ruang waktu mengatakan tentang dia Tanpa menolak putaran cerita di kornea begitu jelas Nona cilik tersedu Pada kebisingan pelik peninggalan walidainnya …
Kita adalah kita Yang melanglang dalam cita Menyusun rautan jeda lepas lajang Bersimpul sederet lekas tentang asa Meredam segenap amarah sesaat Yang berujung pada ketidaksinkronan Kita adalah kita Yang t’lah berjanji pada setiap pendam nadi Supaya tiada dendam pada moment …
Bukankah kamu yang selalu terpuja? Yang terbelai dalam puji tanpa keji sedikitpun Tenang tapi tak jarang melenakan Melalui gelitikan caption apalagi suntingan Kamu, masih saja dengan kamu Tokoh yang masih sama Meraih relung syarafku di atas serotonik semata Bukankah kamu …
Deras aliran pelupuk mata berderai Melugas malam hingga pagi Lewat sudah dentang duabelas Membekas suka dan luka setiap kecap Sepertiganya dia terbangun sangat lekas Berjalan pelan dalam keharuan Merapat kemudian bersujud pada buaian-Nya Bukankah hujan senja kemarin usai reda? Pikir …
Ada rasa terselinap di mata Kau dihadapkan pada realita Rasa bercampur rapi dengan lumpur Pekat serupa gelap dalam petang Lumpur persatuan ragam rasa berwujud gelap, Pekat Aromanya menyuarakan kepedihan juga amarah Tak sedikit pekat rasa arupa merah bagai nanah melepuh …
:punggawa hawa Dari ribuan lisan mengucap Bibirku beku serta kelu menganga Detik masa berangsur berlaju Mengacak-acak setiap pesan biru Aku masih terpana membisu Bukan kali ini siapa yang berujar Apalagi merangkai sebuah lontar berpendar Menusuk setitik ulu kalbu bergetar Berulang …