Bagi sebagian orang Lupa adalah alibi jitu Untuk menjawab ribuan tanya Dari mereka yang ingin tahu Bagi sebagian insan Berpuisi adalah cara tepat Sebab tak semua kata Mampu disambungkan oleh lisan Lalu bagaimana denganku Manusia amnesia yang tak tahu lagi …
Lihatlah, bola mata mereka Selami dan temukan ribuan kegetiran Jangan terkejut jika kau disuguhkan air mata Begitulah hidup bagi anak-anak hujan Baju lusuh melekat di badan Rambut kering dibakar matahari Bibir hitam diolesi debu dan kotoran kendaraan Pada selaksa wajahnya …
Di mana puisiku? Sudah matikah Masih hidupkah Ah … Siapa peduli Di mana puisiku? Kemarin aku tinggal sebentar Di terminal kota Ketika aku habis membuang air seni dan tinja Hilang … Siapa yang mencurinya Aku heran dengan negeri ini Puisi …
  “Ni … na bobok oh ni … na bobok, kalau tidak bobok digigit nyamuk.” Narsih menimang anaknya sambil melantunkan lagu pengiring tidur. “Bobok ya sayangnya Mama. Sebentar lagi Papa pulang.” Wanita itu menaruh anaknya di atas ranjang. Di ambang …
  Gelap … Mata kami gelap Bukan karena buta Sebab lapar yang menutupi pandangan mata Hari-hari kami tak lagi bercahaya Kini matahari telah pilih kasih Kami sudah tak berhak lagi Menerima sinarnya walau setitik Usia kami sebatas senja Menua karena …
Hujan … Kapan kau akan membasahi tanah yang lama telah mengemarau? Lihatlah, debu-debu jalanan itu sedang kegirangan bersama bocah-bocah yang berlarian mengejar bola di tengah lapang nan gersang. Kuncup mawar mulai memudar merahnya, tak lama disiram kristal beningmu. Begitu juga …
  Kemana sirnanya nawaituku Telah terbaiat dalam segenggam janji Bagai embun yang mengering oleh matahari Hilang tak berbekas walau setetes . Haruskah kugeraikan jaring otakku Agar kutulis seluruh pemikiran Pada buku bersampul kulit Rusa Warisan nenekku sebelum ia wafat . …
  Lantai-lantai kota berdebu Diinjaki para perantau Yang datang dari berbagai penjuru negeri Demi kemaslahatan nasib kehidupan Biar sawah dan ladang tergadai Asal pulang kampung membawa mobil sedan . Lantai-lantai kota berdaki Oleh tetesan keringat pejuang rupiah Handuk kecil di …
Ranjang kematian terasa dingin Menyelimuti seonggok tubuh Menahan rasa Perih . Matanya membelalak ke langit-langit rumah Seolah menatap sesuatu Ihwal dimensi Kematian . Jemarinya membeku tak begerak Napasnya tersengal di tenggorokan Nadinya melemah Berdenyut . Tentang dosa yang di amalkan …
Serangkaian napas yang dihirup Adalah titipan yang Tuhan pinjamkan Bagi hamba sebagai bekal perjalanan Menuju sebuah muara keabadian Kita bagaikan sepasan burung kemoda Terbang melangit mencari dahan ‘Tuk sejenak hinggap memerah lelah Setelah sayap tak berhenti berkibas . Sejatinya perjalanan …