sepenggal puisi, terbalut plano tipis kemarau bersama serbuk hujan secangkir kopi. selagi panas kuku masih bersila pada lantang belantara di sekujur jari tetaplah menikmati teguk waktumu meski kering dan basah menjadi nasib nisbi atas pagi yang mulai menjalar memasuki hulu. …
  sepuluh menit usai pukul dua siang persis seperti saat kita membasuh terik waktu dengan keringat di sekujur tubuh: saat ini, aku masih bersama mendung langit pasi menggambar lautan di sisinya mengisahkan gerimis dan hujan yang belum sempat pergi. kita …
  tak ada pagi, hari ini kotak pos masih saja kosong surat-surat lama telah selesai dibaca dan surat-surat baru belum tiba. tak ada pagi, hari ini di sisimu, malam masih betah tinggal dan enggan pulang usai matahari berkibar setengah tiang. …
berilah aku laut untuk kuarungi jantungnya agar aku mengerti kedalaman hingga mataku tersadar akan kedangkalan permukaan. A. Fahmi Muslih Yogyakarta, 2017 Please follow and like us:
daun-daun senja berguguran dari tempat, di mana tubuhnya bersemayam memenuhi taman pemakaman. pada usia genap satu nyawa, orang-orang sibuk menandai perayaan pelepasan menuju jalan pulang. di atas pasir basah, di sisi bebatuan kutuliskan kalimat penutup yang paling rindang dan teduh untuk dinikmati bersama seduhan secangkir kopi …
Tuhan, kami masih saja sibuk mencari arti tentang sesuap nasi yang seringkali kami tanamkan pada sebuah rongga yang sepi cahaya, tempat paling sunyi dan selalu basah akan kemauan. Sesekali bantulah kami membaca hidangan yang tersaji diatas meja, diantara kursi-kursi. Kami mengerti, bukanlah perkara rumit bagi-Mu …
Matahari sudah berkali-kali menguning, terselip dalam jeruji mata. Hujan juga terkadang datang, tiba-tiba membasahi sekujur tubuhmu. Di tanah lapang, selain ada bunga-bunga layu terbakar sebab tangkai mengering, ada sebiji tunas diantara pasir dan cadas merekahkan daun belia. Begitulah, cara langit menyimpan keindahan. cerah-hujan, mekar-layu niscaya keduanya …
Apalah arti kesedihan yang tertanam di tengah kegersangan mata apalah arti setangkup air yang menggenang bila matahari hendak saja tiba mengeringkan segalanya. Seperti langit menguburkan hujan, begitulah ia merias sepasang mata hingga tak pernah ada lagi airmata yang ingin pergi meninggalkan kelopak …
daun-daun senja berguguran dari tempat di mana tubuhnya bersemayam memenuhi taman pemakaman. pada usia genap satu nyawa, orang-orang sibuk menandai perayaan pelepasan menuju jalan pulang. di atas pasir basah, di sisi bebatuan kutuliskan kalimat penutup yang paling rindang dan teduh untuk dinikmati bersama seduhan secangkir kopi agar kepergian …
Kita usai mencicip sehimpun hidangan yang tertata rapi di atas meja-meja makan. Berisi ratusan piring putih yang telah dicuci dengan daging-daging basah, lalu dibasuh dengan kucuran deras airmata. Ribuan cangkir telah mengering usai dialiri darah. Ini sajian ternikmat dari Tuhan. Lantas kita namai …