Jalanan terjal menantang Respati untuk tetap bertahan. Dengan segenap kadigdayan yang dimiliki, abdi kinasih Wulandari itu terus mendaki tanpa mengenal letih. Tetesan peluh terperas di wajahnya, seiring teriknya sinar sang surya. Tanpa bekal satupun, entah seteguk air ataupun segenggam ubi …
Bagaskara masih terpaku pada kuburan baru itu. Gundukan lemah basah yang masih dipenuhi aroma kembang setaman, berhiaskan batang pisang dengan janur kuning yang melambai. Sebuah rangkaian yang menunjukkan bahwa penghuninya masih terbilang muda. Ki Bayan Sarmidin dan Lurah Wangsa Jati …
Menunggu kedatangan Bagaskara dan Arumsari yang dikawal pasukan Ketindan membuat Ki Bayan Sarmidin merasa gerah dan tak sabar. Lelaki paruh baya itu terus berdiri, sesekali duduk di pelataran wisma Lurah Wangsa Jati. Udara dingin yang semakin menggigit tak lagi dihiraukannya. …
Bintang-bintang di langit berkelip menggoda, memikat rembulan yang hanya menampakkan separuh wajahnya. Rombongan pasukan Ketindan di bawah pimpinan Bagaskara dan Arumsari mulai bergerak dari tapel wates Desa Ketindan. Masing-masing bersiap dengan tombak dan pedang di genggaman. Bagaskara dan Arumsari melangkah …
Seorang wanita berusia empat puluh tahunan, duduk bersila di depan gua Mlaten yang menganga lebar. Alisnya saling bersinggungan, kedua matanya tertutup rapat. Bibirnya tak berhenti merapalkan lantunan kalimat yang dianggapnya sebagai mantra suci. Di hadapannya sesaji lengkap dengan harum aroma …
Pandangan mata Bagaskara berkilat-kilat, dia kemudian mendekati kembali Lurah Wangsa. “Izinkan saya menghadapi makhluk ini, Ki.” “Silahkan. Berhati-hatilah, Ngger.” sahut Ki Lurah Wangsa mempersilahkan. Pandangannya begitu khawatir, ia mengisyaratkan pada para prajuritnya untuk bersiap bilamana Bagaskara terdesak. “Kau makhluk aneh …
Ruang tamu Ndalem Lurah Wangsa Jati yang begitu luas itu tak membawa suasana tenang, justru menghujam rasa takut di tengah kesunyian. Walaupun di luar sana terlihat banyak penduduk ataupun prajurit yang berlalu-lalang, namun tetap tak mengubah nuansa kegelapan yang sedang …
Ki Lurah Wangsa memacu kudanya dengan cepat, tak menghiraukan apa yang ada di sekelilingnya. Derap kaki kuda hitamnya menerjang tanah tanpa ampun, sehingga menyisakan luapan debu yang menghalangi pandangan. Terbayang wajah Demang Jayamarga di pelupuk mata Ki Lurah Wangsa, wajah …
Malam demikian pekatnya, di pucuk cemara burung gagak bersahutan. Rembulan malam ini enggan menampakkan diri. Sesekali kabut putih menyelimuti desa Ketindan yang berada di kaki Gunung Arjuno itu. Angin berhembus membelai pucuk dedaunan, pohon-pohon yang tinggi melambai-lambai dengan gembira di …
Keempat orang itu segera berlalu meninggalkan Sarpo Buntoro yang telah menjadi mayat. Matahari belum juga menampakkan diri. Mendung tebal masih menyelimuti, udara dingin pun tak kalah kejamnya. Keempat orang itu harus melawan kondisi alam yang sedang tidak bersahabat. Langkah demi …