Ladang-ladang mulai kegersangan Tanah kering tiada pengairan Keras bak bebatuan Hujan pun enggan datang Yang ditunggu para petani persawahan Mentari pagi kian meninggi Menembus jiwa renta tiada daya Menanti hadirnya tetesan air kehidupan Yang mengairi persawahan Panas mereka rasakan Haus …
Muasal waktu yang menggeluti hari Terlalu pagi kau menyuarakan isi hati Aku terdiam malu di antara melati Menatap wajah sayu berpaling diri Akankah nanti kembali? Barangkali, sekadar untuk berkisah Tentang rahasia kehilangan, Atau tentang isak tangis yang tak kunjung padam …
Temaram rembulan datang kembali Bersembunyi di balik titik-titik hujan Di ruang belakang Kudengar tarian sendok berputar-putar dalam gelas Nampaknya secangkir kopi panas segera tandas Menunggumu di bibir pintu Nampak kau lihat aku termangu Dengan sedikit beban dukaku Kian hari kian …
Yang kuterima bukan hadiah Melainkan sebuah kebohongan tiada akhir Aku rindu pada waktu Saat kata manis perbadu, menutupi sedikit saja rasa cemas itu Hingga bayu menelisik kesendirianku Yang kuterima bukan hadiah Melainkan serpihan kata Seperti keluhan senja Yang ditelan desing …
Kita pernah menatap habis senja yang beriak Lalu, menuliskannya dengan aksara rumit Kita pernah menaiki tangga yang serupa Seakan melupakan jurang di ujung sana Kita berbelok arah Aku menunggumu di antara lorong rindu dan kecewa, ragu dan gelisah Kali ini …
Rona semerah jingga, membekas di sekujur langit senja Deras tangis mendera iba Tiada mampu menahan gejolak jiwa Menghias hari-hari jadi penuh warna duka Atau langkah-langkah kaki dahaga Apa harus aku lanjut menerka? Mungkin ada telaga untuk melepasnya Jauh di anjangsana …
Telah kudengar kabar kematianmu yang kedua, yang sengaja dikabarkan oleh jejak malam Merangkai kata tuk selalu dalam kenang Merendra waktu selalu dalam pelukan Agar kematian tak menghantui pikiran Satu ucapan: waktu selalu kugenggam dalam keheningan malam Bait doa tak henti …
Tiada ramai memecah hening malam Termenung memikirkan rahasia Tuhan Kususut pilu yang membentang di samudera bimbang Kugenggam harap yang nyatanya hilang Radar kulepas, retina menatap bebas Haruskan aku mengabdi senyum? Saat gagal sengaja kualun di tirai gemawang Tiada guna yang …
kemarin kudengar sore bertanya dengan mesra: aku harus memilih dengan apa kututup petangku, senja dengan temaramnya, atau hujan dengan rintiknya? bukankah pilihanku adalah pilihanmu; senja dengan jingganya yang mengharukan jadi dengan lantang kusebutkan itu pada petang yang menunggu datangnya jawaban …