”Jadi, kenapa Mater jatuh dan sayap-sayapnya patah?” Elma menunjuk gambar pada buku dongeng yang dipegang ibu. Gambar seorang wanita berambut putih panjang yang sedang memeluk lutut dengan sepasang sayap tergeletak di atas tanah dan rantai membelit tubuhnya. Wajahnya terlihat sedih …
  Tuhan menciptakan perasaan sakit, lengkap dengan penawarnya. Sayangnya Ia tak mendekatkan yang menjadi pelengkap, terkadang Ia memberi sekat. Manusia ditakdirkan mencari pasangan elemen-elemen yang ada di atas muka bumi ini, maka lelaki tua itu, terus berjalan, meninggalkan kampung halaman, …
Sang surya, perlahan berjalan menuju tempat peristirahatannya. Senja kini merengut hari yang panas. Senja di kaki malam, telah menghilangkan warna ilalang. Burung-burung pun sudah berada di sarangnya. Dengan perasaan aman dan nyaman. Karena seharian terbang menari-nari di atas awan. Namun, …
  Malam sudah amat larut. Jalan di depan rumah sudah benar-benar lengang. Dari celah pintu kamar yang sedikit terbuka, lampu ruangan lain di rumah ini sudah padam semua. Tentu saja. Melalui remang cahaya lampu tidur, jarum pendek jam dinding bergerak …
Di luar, hujan terdengar gaduh, meriuh antara lorong- lorong panjang kota tua. Malam kian mengabut, pelacur semakin akut di gerai ranjang; konyol terkapar. Tikus kunjung lapar, huru hara diselokan nalar, berbincang-bincang tentang uang. “Minitor Ing. Kau duluan jalan, biar aku …
Nasionalisme ada dalam naluri politik ada dalam pikiran Memberontak mencaci uang dan kewenangan             Aku ingin melesat bagai peluru             Menembus jejek tinju orang-orang dulu             Bersama Tuhan dan keterasingan Hai! Elegi sang penyair pendidikan tak lagi soal protes                                     …
“Ah silau!” Hutan Skovalania Aku mengerjapkan mata berulang kali hingga mampu mengontrol cahaya masuk di retina mataku. Pukul 13.00. Matahari tegak di atas, menembakkan cahaya langsung menampis kubangan coklat yang menyelimuti bajuku. Sejak semalam aku tertidur, telungkup menenggelamkan pipi di …
Pekerjaannya menurutmu sangat sederhana, berjalan dari Selatan kembali ke Utara, keliling gang-gang kecil, menyapa penduduk, memberikan seulas senyuman, usai berhasil membuat mereka berkumpul mengerubungi dirinya, ralat bukan dirinya, melainkan barang yang ia bawa. Ia berjalan berkilo-kilo meter, berangkat membawa dagangan, …
                Ia membuka matanya sebelum fajar merekah di langit kelabu, beningnya penglihatan yang ia miliki menandingi kejernihan titik-titik embun di waktu esok. Langkahnya riang, meski punggung penuh dengan beban. Senyumnya pun mekar, walaupun kesehariannya mencium aroma-aroma tak segar. Ia berjalan …
                ‘Aku tidak menghendaki hujan turun, sebab kedatangannya membawa kepergian.’ Engkau sering berlari di tempat itu, ketika hamparan air sedang berpesta dengan tarian ombak yang menakjubkan. Langit kuning dengan mentari yang hendak bergegas tidur adalah bigron yang mewarnai masamu dengannya. …