Tanah Air

Pagi itu ketika turun dari bus, aku harus kembali naik angkutan pedesaan untuk sampai ke  desa kelahiranku. Sebuah desa yang memang letaknya sangat terpencil dan jauh dari keramaian kota. Entah sudah berapa lama aku telah meninggalkannya pergi demi meraih cita-cita. Aku tak mau lagi mengingatnya.

Sudah hampir 35 menit aku menunggu angkutan pedesaan yang akan membawaku sampai ke rumah. Namun aku akan tetap sabar menunggu meski belum ada tanda-tanda terlihat satu pun angkutan pedesaan yang melintas di jalan ini. Beberapa saat kemudian akhirnya datanglah sebuah angkutan pedesaan yang dari tadi sudah aku tunggu kedatangannya.

Bergegas aku segera bersiap untuk segera naik. Aku memilih duduk di depan, disebelah sang sopir agar lebih nyaman. Karena tidak berdesakan. Tidak harus menunggu lama lagi, angkutan pedesaan itu pun sudah penuh terisi penumpang yang sudah lumayan lama menunggu kedatangannya. Sopir pun dengan sigap langsung melajukan angkutan pedesaan yang dibawanya.

Dari balik kaca mobil angkutan pedesaan yang aku  tumpangi, aku menikmati keindahan pemandangan pagi yang menakjubkan. Meskipun semenjak kecil aku selalu melihatnya namun sedikitpun aku tak pernah bosan menikmati semua keindahannya. Disisi kanan dan kiri jalan terlihat hijaunya pepohonan nan rindang dengan hamparan sawah, ladang dan perbukitan. Hijaunya pemandangan alam ini sungguh terasa begitu menyegarkan penglihatan. Meski kabut masih terlihat begitu pekat menutupi hijaunya dedaunan. Sementara sinar Surya pun masih terlihat malu-malu menampakkan diri hingga belum begitu kuat menembus kepekatan kabut.

Udara masih terasa begitu dingin. Jalanan pun masih terlihat sepi dan lengang, tak banyak lalu lalang kendaraan seperti yang selama ini aku lihat di kota, saat aku berada di perantauan selama ini. Sepanjang perjalanan pulang, dalam angkutan pedesaan sayup-sayup terbawa angin yang berhembus aku dengar alunan sebuah lagu Indonesia pusaka ciptaan Ismail Marzuki yang diputar sebuah stasiun radio mengawali siaran pagi.

Indonesia tanah air Beta

Pusaka abadi nan jaya

Indonesia sejak dulu kala

Tetap di puja-puja bangsa

Sungguh lirik lagu itu rasanya begitu syahdu, menyentuh hati dan jiwaku. Membangkitkan kembali kisah dan kenangan tentang  perjalanan kehidupan yang sudah aku tempuh. Saat itu aku adalah seorang remaja dengan semangat kebangsaan yang begitu menggebu. Aku begitu mencintai desaku. Aku juga sangat mencintai tanah airku indonesia. Tanah tumpah darahku tempat kelahiranku. Tempat berpijak seluruh keluarga, handai dan taulan ku.

Namaku Kastono, aku anak lelaki satu-satunya di keluargaku. Ayah dan ibuku seorang petani. Aku terlahir sebagai cucu dari seorang kakek yang juga seorang pejuang kemerdekaan republik ini yang bernama kakek Cakrawijaya. Demikian juga dengan buyutku beliau adalah seorang pejuang kemerdekaan juga yang bernama buyut Cadiwangsa.

Selama ini aku sangat bangga akan perjuangannya. Semenjak aku kecil dalam benakku sudah melekat erat tidak ada cita-cita lain selain ingin menjadi seorang tentara. Tujuanku sebenarnya sederhana. Aku hanya ingin meneruskan perjuangan kakek dan buyutku sebagai seorang tentara  yang akan terus berjuang untuk tanah airku Indonesia, meski pun kini aku hidup di era kemerdekaan. Aku ingin sama seperti kakek dan buyutku pada zaman itu. Beliau sangat terkenal dan disegani di seluruh desa kelahiranku maupun di sekitarnya. Hampir semua warga desa tau siapa dan bagaimana perjuangan serta sepak terjangnya dalam membela kemerdekaan tanah air kita Indonesia.

Rasanya tidaklah berlebihan kalau sekarang aku pun sebagai cucunya bercita-cita ingin menjadi seorang tentara.  Sungguh keinginan itu semakin hari terasa begitu kuat tertanam di jiwaku. Meski aku harus menempuh perjalanan penuh liku. Karena saat itu di desaku belum ada sekolah lanjutan tingkat pertama, maka setelah lulus SD aku pun harus melanjutkan SMP di kota kecamatan. Aku harus kost di sana. Karena jarak tempuh dari kota kecamatan ke tempat tinggalku lumayan jauh selama kurang lebih hampir 2 jam perjalanan.

Tiga tahun kemudian aku melanjutkan SMA di kota lain. Hari-hari aku lalui dengan penuh semangat untuk dapat meraih cita-cita menjadi seorang tentara yang aku impikan. Setelah lulus SMA, aku berusaha mempersiapkan segalanya baik fisik maupun mental. Dengan terus belajar maupun berlatih  fisik seperti lari, berenang dan latihan yang lainnya. Tidak lupa juga aku selalu memanjatkan doa kepada-Nya.  Tuhan langit dan bumi yang maha menguasai segalanya alam semesta dunia dan seisinya. Sambil menunggu sampai nanti saatnya tiba dibukanya pendaftaran baru untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi yaitu di  AKABRI.

Suatu hari pendaftaran yang aku tunggu pun akhirnya tiba. Tak ingin membuang waktu dan kesempatan yang ada, aku pun segera mendaftarkan diri melaui Ajendam Semarang. Karena desaku masuk ke dalam wiilayah propinsi Jawa Tengah. Tahapan demi tahapan tes masuk Alhamdulillah berhasil aku lalui dengan baik. Dengan diiringi doa dan perjuangan berat yang akhirnya menempa aku menjadi pribadi yang lebih kuat dari sebelumnya. Sampai pada sebuah penentuan akhir aku dinyatakan gugur. Yang artinya aku tidak bisa terus untuk melanjutkan pendidikan di AKABRI. Kegagalan ini membuat aku sangat terpukul dan hampir membuatku putus asa. Karena kegagalan ini telah menorehkan luka yang begitu dalam. Sungguh, aku merasakan kesedihan yang luar bisa hingga tak dapat lagi aku ungkapkan dengan kata-kata.

Namun sebagai manusia biasa aku tak punya kekuatan apa-apa selain pasrah dan berserah kepada-Nya. Dengan langkah tertatih aku pun terpaksa harus kembali ke desa dengan perasaan hampa. Hari-hari selanjutnya, sengaja aku tak melakukan apa-apa. Setiap hari aku hanya berdiam diri, duduk dan merenungi segala hal yang telah aku lewati. Semuanya masih tergambar jelas dalam ingatan. Tentang sebuah perjalanan kehidupan yang terasa begitu panjang dan melelahkan.

Sampai pada suatu hari aku tersadar dan  semangatku bangkit kembali. Selama ini aku tidak menyadari kalau di dunia ini, terkadang  apa yang kita inginkan tidaklah sama dengan yang kita impikan. Demikian juga halnya dengan perjalanan kehidupanku. Ternyata apa yang selama ini aku cita-citakan untuk menjadi seorang tentara tidaklah sesuai dengan kenyataan yang harus aku terima. Tapi apa mau dikata semua yang terjadi adalah atas kehendak-Nya. Aku harus ikhlas menerimanya dan tetap berpikir positif saja. Karena apa yang menurut kita baik belum tentu terbaik menurut Allah. Untuk meneruskan perjuangan kakek dan buyutku mengisi kemerdekaan tanah air ku, aku tidak harus menjadi seorang tentara. Banyak hal yang dapat aku lakukan demi tanah air yang selalu kita cintai ini.

Kemudian aku pun melanjutkan kuliahku di sebuah sekolah tinggi di kota Bandung hingga lulus dengan nilai yang sangat memuaskan. Selepas wisuda, perjalanan tentang kehidupan ini pun masih saja penuh tanya. Kenapa, aku yang lulusan ekonomi ternyata harus terdampar bekerja di sebuah laboratorium klinik kesehatan. Dari sinilah awal kisah perjalan tentang kehidupanku yang sesungguhnya bermula. Aku mulai tertarik dengan ilmu radiologi. Sebuah ilmu yang merupakan cabang dari  ilmu kedokteran untuk melihat bagian dalam seluruh anggota tubuh manusia melalui sebuah teknologi pencitraan baik yang berupa  gelombang elektromagnetik maupun mekanik. Hingga akhirnya aku kembali belajar dan melanjutkan kuliah di bidang radiologi hingga menjadi seorang radiografer  yang insya Allah akan tetap semangat melanjutkan perjuangan kakek dan buyutku untuk mengisi kemerdekaan tanah air Indonedia yang dengan susah payah telah diperjuangkannya.

Doa terbaik aku panjatkan sepenuh hati  untukmu kakek dan buyutku beserta para pejuang kemerdekaan tanah air Indonedia yang kita cintai, semoga Allah SWT senantiasa menempatkannya di tempat yang layak dan terpuji disisinya,  Aamiin.

Yeti Nuryeti

Cirebon selepas Dzuhur, 18 Februari 2019

 

 

Please follow and like us:

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *