SANG PENUNTUT WAKTU & SISI-SISI BU(S)UK

Nasionalisme ada dalam naluri

politik ada dalam pikiran

Memberontak mencaci

uang dan kewenangan

            Aku ingin melesat bagai peluru

            Menembus jejek tinju orang-orang dulu

            Bersama Tuhan dan keterasingan

Hai! Elegi sang penyair

pendidikan tak lagi soal protes

                                    kebodohan

eksistensinya tercerabut dari akar

                                    kemanusiaan

Memoriku kembali pada Da Vinci

Isyaratkan simbol kelaparan

                                    menghantui kami

Seandainya Tuhan anak muda

Barang semenit bermimpi

                                    membantai negeri

Hal teragis itu akan menjadi hikayat

untuk diberitakan kembali

oleh para guru dan murid

orang tua pada anak

kakek bersama cucu

Tentang kisah inspirasi sang pangeran

yang bermain drama, membangunkan;

“Pembanguan! Pembangunan! dimanakah  gerangan?”

 

 

Allohhuakbar… allohhuakbar, suara azan menggema dari sebuah masjid dekat komplek kami tinggal, angin seketika berhembus lebih keras dari sebelumnya layaknya ikut bersukacita menyambut panggilan agung. Derap langkah dan suara merdu sandal yang bergesekan dengan tanah menambah asyik nyanyian kehidupan, orang-orang bersarungan laksana pasukan perang yang gagah berani menghadap medan pertempuran, melawan musuh yang selalu berbisisk ditiap derap langkah agar tinggalkan dan lekas pulang.

Berbeda dengan mereka yang gerah jika azan telah berkumandang, kemudian lekas membasahi jasad dengan air yang mensucikan untuk beranjak datang ke rumah Tuhan, sekedar untuk berdialog kepada-Nya.

Shalat adalah panggilan sekaligus strategi. Panggilan bahwa dalam hidup manusia bukan hanya saja terfokus pada yang ibadah lahiriya, tetapi juga ibadah batiniyah. Manusia diajak istirahat sejanak menarik nafas dari kehidupan yang begitu sesak dan pengap, untuk kembali mengevaluasi diri dengan melakukan keintiaman kepada Sang pemilik Diri.

Pinterest

Strategi merupakan bekal dan sarana mengevaluasi diri, dimana dalam ibadah spiritual ini peribadi menempatkan duniawi di belakangnya, dengan begitu peribadi di arahkan agar memaknai tiap waktu yang telah diberi-Nya agar dapat memposisikan waktu selanjutnya secara adil serta bijak.

Beberapa orang anak justru asyik dengan kopi dan rokoknya, sambil beberapa kali saling berdialog ria. Kemudian seorang anak merenungi tentang waktu.

“Mengapa kita sering melakukan kewajiban…?” anak yang dipojok langsung nyerocos.

“Yaaa… karena musti dilakukan…”

“Tidak! bukan begitu seharusnya,” anak yang asyik dengan rokok Jarum Super sontak tidak sepakat, “Waktu…waktulah yang menjadikan sesuatu wajib.”

“Lah. Ko, mengapa harus waktu yang menanggung akibat dan getahnya,” anak yang di pojok bingung.

“Waduh… memang waktu kena pasal apa sih…? hehehehe” tertawa Ayat.

“Lah iya, selama ini mana mungkin kita dapat menghindar dari waktu,” sambil meminum kopi yang tinggal sisa-sisa akhir beserta ampas-ampasnya, tapi konon kebaikan dari kebaikan berada di terakhiran, semoga nikmatnya dapat mencerahkan peminumnya. “Seperti halnya kopi dan sebatang rokok akan nikmat jika waktu telah berkehendak, juga pertanyaanmu tadi Sura, karena waktu telah menizinkamu agar kamu berpikir demikian” Tanda menjelaskan.

Walah-walah, berarti kita di sini karena waktu dan kita tidak lekas solat seperti yang lain juga karena waktu dong…? desak Ayat yang duduk menyandar tembok.”

“Bener, bener itu… ketika perintah solah itu wajib sebab telah datang waktunya, karena itu merupakan panggilan,” jelas Tanda, sambil menyesap rokok yang di bakarnya kemudian kepulan asap itu menghilang terpanggil. Serta tangannya sibuk menyiapkan perbekalan dalam tas ransel, untuk melakukan pendakian dengan anggota mapala.

Sura menggaruk-garuk kepalanya yang cepak pelontos, “Aku ko tambah pusing sih, apakah waktu itu panggilan ?” anak yang aktif di resimen Kampus Insan Negeri, dididik untuk selalu siap dan sigap. Karena itu kemudian anak-anak ini mempelesetkan menjadi Rezimen Mahasiswa.

Hahahaaa… Ini baru anak resimen lo yang pusing, bukan rezimen” Ayat tertawa diikuti yang lainnya.

“O… jelas,” sambung Tanda yang masih mencari-cari kemana asap tadi dipanggil. “Karena ketika sang waktu telah memanggil akan datang yang baik juga tidak menutup kemungkinan buruk pun menyapa, bahkan sesuatu yang tidak mungkin akan mungki jika waktu telah memanggil. Seorang maling pun dapat melompat pagar nan tinggi karena dikejar warga sebab waktu telah berkehendak” tambah Tanda

Panggilan itu seperti ketika perut melakukan pemberontakan, menikmati alur alami dalam dinamika metabolisme tubuh manusia, “Ya… buang air. Entah kecil, sedang atau besar,”  tidak ingin dianggap kurang baca, Ayat bersua. Anak yang dari tadi sibuk membuat materi Stenup, untuk mengikuti perlombaan dalam rangka Insan Emas.

“Sudahlah… beginai saja, Solat itu pada waktunya” Kata Tanda.

Suasana mendadak mejadi sunyi, kedua teman Tanda merasa ada sesuatu yang di sembunyikan dari bahasa. Ada puisi yang Tanda sembunyikan dari kata-kata.

Bukankah neraka dalam surat Al-Ma’un di peruntukan bagi orang-orang yang solat, “Maka celakalah orang-orang yang solat, (Yaitu) orang-orang yang lalai dalam solatnya.” Surat al-Ma’un adalah surat yang mensiratkan tentang kecelakaan yang sering kita lakukan, yang sering kita anggap itu hanyalah hal-hal sepele. Arti dari surat Al-Ma’un sendiri adalah “bantuan.”

Di ayat sebelumnya dalam surat Al-Ma’un mengkabarkan tentang orang yang mendustakan Agamanya, yaitu orang yang menghardik anak-anak yatim dan tidak menolongnya (baca; membantu). Surat yang sarat akan makna tersimpan dalam kata-kata, serta musti dan harus kita baca.

Aku sering merasa aneh dengan perilaku yang sering dilakukan dalam sistem pembelajaran pada perkuliahan. Saat itu sedang berlangsung perkuliahan, namun disaat pembelajaran memasuki waktu solat, anehnya pembelajaran mendadak di hentikan sejenak.

“Oke, karena azan sedang berkumandang dan kita masuk waktu solat. Pembelajaran kita hentikan sejenak,” kata seorang Dosen

Yang semakin aku menjadi tambah aneh adalah ketika azan telah usai, pembelajaran kembali dilanjutkan. Ada pandangan bagaimana? lebih mensakralkan azan ketimbang bergegas menuju bioskop Tuhan, bersujud pada sang pemilik diri. Mungkin ini yang di namakan solat itu pada waktunya. Aku hanya tertawa.

Dalam pandanganku, lebih baik pembelajaran dan diskusi tetap di lanjutkan pada lumrahnya, bukan sebaliknya. Dengan begitu kita telah menghina Tuhan bukan? Kita mencoba tenang dan diam saat azan, namun solat tak dilakukan. Dalam fikih bukankan orang yang telah mengetahui baik dan buruk dapat di kenai hukum. Ini hanya sebuah pernyataan, saudara tidak musti menjawabnya.

Pasalnya terkadang ketika ada Seorang yang berkata aneh, ujuk-ujuk langsung dilegitimasi sebagai penistaan atau mendustakan Agama, mengandung unsur SARA. Padahal bukankan selama ini kita telah lupa pada orang-orang yang membutuhkan sesuap nasi di sekitar kita. Kita terlalu asyik dengan kemewahan dan hidup matrealistik, namun lupa dengan anak-anak yatim yang menerikan “Ayah-Ibu” menangis karena lambugnya tak kenal kata “Kenyang” dingin butuh sebuah kata “Rumah.”

Di negeri permai ini berjuta rakyat bersimbah luka, anak kurus tak sekolah pemuda desa tak kerja. Mereka di rampas haknya pemangku kuasa enak berlengga-lengga. Inilah seculi bait lagu, pastinya saudara pernah dan juga telah hafal dengan lagu ini, bukan?

Pantas saja Kiai Ahmad Dahlan, sebagia seorang yang mempelopori berdirinya organisasi besar Muhammadiyah. Pernah mengajarkan surat Al-Ma’un kepada murid-muridnya secara berulang-ulang hingga suatu saat muridnya, H. Syuja’, bertanya. Mengapa kiai tidak mau beranjak ke pembelajaran selanjutnya. Lantas, Kiai Ahmad Dahlan balik bertanya, “Apakah kamu benar-benar memahami surat ini?” H. Suja’ menjawab bahwa ia dan teman-temannya sudah paham betul arti surat tersebut dan sudah hafal luar kepala. Kiai Ahmad Dahlan bertanya lagi, “Apakah kamu sudah mengamalkannya?” jawab H. Suja’, “Bukankah kami membaca surat ini berulang kali sewaktu shalat?” kiai Ahmad Dahlan lalu menjelaskan bahwa maksud mengamalkan surat Al-Ma’un bukan menghafal atau membaca, melainkan lebih penting dari itu semua, yaitu melaksanakan pesan surat Al-Ma’un dalam bentuk amalan. “Oleh karena itu”, lanjut Kiai Dahlan, “Setiap orang harus keliling kota mencari anak-anak yatim, bawa mereka pulang ke rumah, berikan sabun untuk mandi, pakaian yang pantas, makan dan minum, serta berikan mereka tempat tinggal yang layak. Untuk itu, pelajaran ini kita tutup, dan laksanakan apa yang telah saya perintahkan kepada kalian.” Demikian sedikit dalam Teologi Pembebasan karya Dr. Fauzan Saleh.

Jalaluddin Rahmat menuliskan bahwa, tanda-tanda solat yang diterima Allah swt iyalah, Merendahkan diri, Menahan Nafsu, Banyak Berzikir, dan Solidarits Sosial. Beliau mengambil tanda-tanda ini dari hadis qudsi:

“Sesungguhnya Aku menerima shalat orang-orang yang merendahkan dirinya karena kebesaran-Ku, menahan dirinya dari hawa nafsu karena Aku, yang mengisi sebagian waktu siangnya untuk berzikir kepada-Ku, yang melazimkan hatinya untuk takut kepada-Ku, yang tidak sombong terhadap makhluk-Ku, yang memberi makan kepada orang yang lapar, yang memberi pakaian kepada orang yang telanjang, yang menyayangi orang yang terkena musibah, yang memberikan perlindungan kepada orang yang terasing. Kelak cahaya orang itu akan seperti cahaya matahari. Aku akan berikan cahaya ketika dia kegelapan. Aku akan memberikan ilmu ketika dia tidak tahu. Aku akan melindungi dia dengan kebesaran-Ku. Aku akan menyuru malaikat menjaganya kalau dia berdoa kepada-Ku. Aku akan segera menjawabnya kalau dia meminta kepada-Ku. Aku akan segera memenuhi permintaanya. Perumpamaanya dihadapan-ku seperti perumpamaan firdaus.” (Kalimatullah Al-‘Ulya, hal.264 juga, Renungan-renungan Sufistik hal. 24).

Aku akan mencoba sedikit menyinggu tentang poin yang terakhir, menurut tanda-tanda kang Jalal. Rosullah pernah bersabda, “Kalo solat seseorang tidak bisa mencegah dia dari kemungkaran, maka shalatnya tidak menambah sesuatu kecuali shalatnya hanya menjauhkan dari Allah swt.”

Dalam suatu perkuliahan seorang dosen pernah mengatakan bahwa Solat itu hanya tiga waktu, sontak kami tercengang dan bertanya-tanya.

“Solat itu hanya tiga waktu. Subuh, Duhur-Asar, dan Maghrib-Isya’” kata seorang dosen.

Kalau dalam pandanganku, solat adalah sarana seseorang untuk belajar bagaiman ia menikmati harmoni dalam ibadahnya. Coba kita lihat, masih banyak contoh yang sangat real bahwa solat bukan sebuah tujuan. Solat adalah alat atau jalan menuju kepada Tuhan. Maka injak-injaklah solat agar dapat menggapai tujuan kepada Tuhan.

Bukankah Tuhan tak mengharapkan solat kita? Bukankah Tuhan itu Maha Rohman dan Rohim, Maha Pengasih dan Penyayang. Namun mengapa kita sebagai manusia nggan mengaliri air “Kasih Sayang” dalam berperilaku. Kita cepat menyalahkan, menghina, bahkan sampai mengkafir-kafirkan saudara yang lain. Bahkan yang demikian ini, adalah para ahli-ahli ibadah. Apa yang salah dari peribadatannya atau adakah yang hilang dari diri? Pertannyaan yang selalu meraung-raung dalam benakku.

Zaman terus berlari mengejar hal yang tak pasti. “Pemberontakan adalah kreatif,” demikian hal yang aku dapatkan dari tulisan penulis cemerlang Perancis kelahiran Aljir, Aljazair. Pada tahun 1957 ia menjadi penulis Perancis kesembilan yang meraih nobel bidang sastra dan masih tetap menjadi penulis yang disegani hingga meninggal dalam sebuah kecelakaan mobil tahun 1960 di usia yang masih cukup muda, 43 tahun. Dia adalah Albert Camus.

Karya pertama Camus yang tanpa sengaja aku beli dari sebuah toko buku berjudul The Stranger (Orang Asing), sontak membuat aku merenung tentang banyak hal dari ke terasingan setelah membacanya. Novel ini adalah perwujudan dari pemikiran Camus tentang filsafat absurd yang telah dituliskan sebelumnya itu, dalam bentuk kumpulan esai Le Mythe de Sysiphe.

Mungkin anda mulai bertanya-tanya, apa kaitannya dengan ini, mengapa membahas tentang keasingan, dan bisa jadi masih banyak lagi pertannyaan yang aneh. Namun, ada baiknya anda baca sendiri karya penulis gila tersebut. Jika aku kaitkan dengan realitas kehidupan, hal ini sangat nyata bahkan begitu mengkhwatirkan. Pernah dalam suatu diskusi, di sebuah jama’ah kerinduan. Kita disuguhi oleh tema “Sidik Paningali” dalam bahasa sunda diartikan sebagai “Penglihatan mendalam atau penglihatan batin.” Dalam sesi diskusi tersebut seorang jama’ah mengutarakan pendapatnya.

“Begini Mas, dari hasil perenungan. Saya sudah tidak bisa melihat mana yang baik dan mana yang kelihatan baik. Mata (baca; penglihatan) kita telah mati.”

Dari hal tersebut aku mulai mencoba mereka-reka, apa maksud dari penglihatan yang mati? Permenunganku sampailah pada ‘sensibilitas diri atau kepekaan sosial’ yang mulai mengalami dekadensi. Dampaknya mulai terjadi distorsi moral dan perilaku pada generasi muda. Mereka mulai menjadi seperti apa yang disebut Camus ‘Orang Asing’. Mengikuti bahasa Erick Fromm, generasi muda atau bahkan kita yang hidup dalam zaman milenial ini, mengalami ketidak berdayaan dan pada gilirannya memunculkan hasrat untuk melarikan diri atau bila tidak, membawa kita pada kompromi yang sebenarnya dipaksakan, di mana individu yang terkucil menjadi automaton “makhluk hidup yang bergerak dan berfikir serupa mesin, serba otomatis.”

Mudahnya akses komenikasi dan serba instanisasi, harusnya menjadikan generasi muda terpacu agar lebih kreatif, bukan malah sebaliknya. Keindahan yang kerap di gaung-gaungkan pada generasi muda saat ini lambat laun mengalaimi pemudaran secara intuitif, bagi generasi muda keindahan identik dengan kemewahan dan kekuasaan. Budaya kirim syair puisi pada pujaan hati, berubah hanya tinggal via chet whatsapp dan line; Kearifan lokal seperti halnya silahturahim, tegur sapa, atau senyum manis, luntur berubah menjadi hanya tinggal memencet tombol, selesai masalah.

Aku jadi teringat dengan syair puisi Muhammad Mustofa Bisri atau biasa di sapa Gus Mus yang berjudul “Mulut.” Perluh kiranya aku kutip sebagai perenungan dan permenungan lebih lanjut.

Di mukamu ada sebuah rongga

Ada giginya ada lidahnya

Lewat rongga itu semua bisa

Kaumasukkan ke dalam perutmu

Lewat rongga itu semua bisa kautumpahkan

Lewat rongga itu airliurmu bisa

Meluncur sendiri

Dari rongga itu

Orang bisa mencium bau apa saja

Dari wangi anggur sampai tai kuda

Dari rongga itu

Mutiara atau sampah bisa masuk bisa keluar

Membuat langit cerah atau terbakar

Dari rongga itu

Mataair jernih bisa kau alirkan

Membawa kesejukan kemana-mana

Dari rongga itu

Kau bisa menjulurkan lidah api

Membakar apa saja

Dari rongga itu

Bisa kau perdengarkan merdu burung berkicau

Bisa kau perdengarkan suara bebek meracau

Dari rongga itu

Madu lebah bisa mengucur

Bisa ular bisa menyembur

Dari rongga itu

Laknat bisa kau tembakkan

Pujian bisa kau hamburkan

Dari rongga itu

Keadilan bisa kau canangkan

Perdamaian bisa kau ciptakan

Dari rongga itu

Orang bisa sangat jelas melihat dirimu

Rongga itu milikmu

Terserah

Kau.

 

Puisi yang sangat indah dan mengandung banyak hikmah, kiranya tak pantas aku berkomentar dengan puisi ini. Jika analogi Gus Mus, puisi tersebut dapat berarti ‘jari jempol kita’, yang saat ini berperan krusial dalam menentukan setiap pilihan di dunia genggaman. Seseorang dapat menyelam di kedalaman, hingga pada ujung dunia hanya dengan perantara jempolnya.

Masa muda atau remaja, seperti halnya pohon maja yang berbuah pahit. Untuk dapat menciptakan rasa manis, perluh kepahitan dalam perwujudannya. Dengan begitu remaja berarti kembali memahiti kehidupan dengan sesuatu yang kreatif. Remaja harus kembali memberontak, dalam hal yang positif.

Pandangan kebanyakan dari kita yang beranggapan bahwa pemberontakan adalah tindakan yang mengarah pada perilaku negatif, bisa salah tapi tidak menutup kemungkinan juga benar. Namun, yang aku ingin tekankan adalah pada dasarnya pemberontakan adalah baik. Revolusi, revormasi, resolusi, dan re-re lainnya bukankah itu hal yang baik, demikian juga remaja. Titik fokusnya adalah sensibilitas dan kepekaan sosial, dimana peran sastra sangat penting dalam hal ini yang musti dibangun pada diri kaum muda.

Mata lahiriyah kita boleh mati, tapi kita pun tidak lupa pada mata batin yang menggerakan jiwa ini untuk melakukan pemberontakan. Orang yang berjiwa sastra bukan hanya mereka yang melahirkan banyak syair puitis, hal itu hanya sebagian kecil. Gebrakan besar diperoleh dengan daya kepekaan yang tinggi terhadap kondisi lingkungannya. Untuk itulah peran dan fungsi remaja yang dalam hal ini jiwa yang bebas. Seorang lebih dikenal dengan perkataan “Lawan” pun mengatakan hal demikian, bahwa “Penyair haruslah berjiwa ‘bebas dan aktif’. Bebas dalam mencari kebenaran dan aktif mempertanyakan kembali kebenaran yang diyakininya.” Inilah yang harus di tanamkan pada diri kaum muda, dengan begitu kepekaan sosial dan sensibilitasnya akan teraktifkan kembali.

Mengutip perkataan Soesilo Toer, Pram dalam bubu “Bagi saya sastra adalah pelarian, hiburan, hasutan, atau mata pencarian. Namun bagi Paramoedya Ananta Toer sastra adalah misi hidup. Ia adalah senjata dalam duel menuntut kebenaran, godam untuk mengais kemanusiaan, dan modus operandi dalam mengorek celah kesempitan keadilan. Suatu pilihan dalam busur kehidupan duniawi yang sangat beraneka ragam dengan umur yang sangat terbatas.” Dunia akademis semestinya memiliki peran yang besar dalam memunculkan daya sensibilitas pada generasi muda, tentunya dalam hal sastra. Namun hal demikian terlampau kurang, pendidikan hanya menekankan informasi kepada pelajarnya, tanpa mendobrak raksasa yang tidur dalam diri remaja. Dampaknya terjadi suatu masa dimana masyarakat akan anti intelek, yang merindukan kepada masa dimana remaja dahulu sangat memiliki intuisi diri di dalam lingkungannya.

Respon sosial dibangun melalui daya sesibilitas yang telah aku sedikit singgung di atas, hal ini menjadi bahan bakar dalam tungku sastra. Remaja yang nota bene memiliki peran penting dalam suatu regenerasi, seharusnya tidak lupa atau bahkan mulai mencampakan kesombonganya, dengan sedikit menilik kembali kearifan lokal masa silam yang kemudian menjadi permenungan untuk menapaki kehidupan kini dan ke depan. Tugas seorang pemuda atau remaja dalam masa muda dan juga tugas akademisi atau pendidik dalam ranah intelek, adalah kembali pulang ke kampung halaman dengan pasrah dan tenang. Syair puisi WS. Rendra bagus kiranya bila aku kutip; “Sajak Seonggok Jagung”

Seonggok jagung di kamar

dan seorang pemuda

yang kurang sekolahan.

Memandang jagung itu,

sang pemuda melihat ladang;

ia melihat petani;

ia melihat panen;

dan suatu hari subuh,

para wanita dengan gendongan

pergi ke pasar

Dan ia juga melihat

suatu pagi hari

di dekat sumur

gadis-gadis bercanda

sambil menumbuk jagung

menjadi maesena.

Sedang di dalam dapur

tungku-tungku menyala.

Di dalam udara murni

tercium kue jagung

Seonggok jagung di kamar

dan seorang pemuda.

Ia siap menggarap jagung

Ia melihat kemungkinan

otak dan tangan

siap bekerja

Tapi ini:

Seonggok jagung di kamar

dan seorang pemuda tamat SLA

Tak ada uang, tak bisa menjadi mahasiswa.

Hanya ada seonggok jagung di kamarnya.

Ia memandang jagung itu

dan ia melihat dirinya terlunta-lunta.

Ia melihat dirinya ditendang dari diskotik.

Ia melihat sepasang sepatu kenes di balik etalasa.

Ia melihat saingannya naik sepedah motor.

Ia melihat nomor-nomor lotre.

Ia melihat dirinya sendiri miskin dan gagal.

Seonggok jagung di kamar

tidak menyangkut pada akal,

tidak akan menolongnya.

Seonggok jagung di kamar

tak akan menolong seorang pemuda

yang pandangan bukunya berasal dari buku,

dan tidak dari kehidupan.

Yang tidak terlatih dalam metode,

dan hanya penuh dengan hafalan kesimpulan,

yang hanya terlatih sebagai pemakai,

tetapi kurang latihan bebas berkarya.

Pendidikan telah memisahkannya dari kehidupan.

Aku bertanya:

Apakah guna pendidikan

bila hanya akan membuat seseorang menjadi asing

di tengah kenyataan persoalannya?

Apakah guna pendidikan

bila hanya mendorong seseorang

menjadi layang-layang di ibukota

kikuk pulang ke daerahnya?

Apakah gunanya seseorang

belajar filsafat, sastra, teknologi, ilmu kedokteran,

atau apa saja,

bila pada akhirnya,

ketika ia pulang ke daerahnya, lalu berkata: “Di sini aku merasa asing dan sepi!.”

 

Akhir dari tulisan ini aku tidak akan menyimpulkan apapun, apa lagi untuk menyampaikan jawaban. Sebab dalam setiap tertanyaan mengandung banyak jawaban dan setiap jawaban memiliki pertanyaan yang tiada habis kita telan dalam ingatan. Sastar bagi remaja mungkin sama halnya dengan parkataan Pram, “Adil sejak dalam pikiran.”

Angin berubah gelombang

Mendung mencipta badai

Maha asyik bukan?

Membahas kuliah di simpang jalan

Berbicara soal budaya, Negara, dan pembebasan.

            Hingga! Chairil Anwar

                                                Mencorat-coret

            Samudra.

            Monster-monster mabuk

                                                Menagih-tertagih

            Bahagia.

            Mencintai mengajarkan cerdas

merumuskan peka

            Belajar cinta jangan tersesat

di jalan bumi manusia

Lembaga budi didirikan

            belajar kitab ketenteraman

Haruskah cinta belajar cerdas

            metodologi dan cinta musti selaras.(*)

 

Sudut Salib, 5 November 2018.

 

Please follow and like us:

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *