Aku dan Lumpur

“Ah silau!”

Hutan Skovalania

Aku mengerjapkan mata berulang kali hingga mampu mengontrol cahaya masuk di retina mataku. Pukul 13.00. Matahari tegak di atas, menembakkan cahaya langsung menampis kubangan coklat yang menyelimuti bajuku. Sejak semalam aku tertidur, telungkup menenggelamkan pipi di lumpur. Ternyata hutan gelap ini masih bisa ditembus matahari. Pepohonannya sangat lebat, berangkai satu sama lain bagai istana hening yang asing. Aku memandang sekitar, di bumi bagian mana aku terdampar. Berusaha berdiri, hampir terhuyung aku menopang tubuh dengan siku. Allaahu Akbar. Dengan segenap jiwa kucoba berdiri. Ternyata pepohonan di sini tingginya sangat mengejutkan, jauh lebih menjulang dibandingkan penglihatanku sekilas tadi. Aku sedikit mundur. Satu dua langkah. Brakk. Spontan kubalikkan punggungku. Aku termangu menatapnya, sebuah dinding besar. Tanah yang sangat tinggi, tak dapat dijangkau oleh pandanganku. Aku sudah terjebak. Ini adalah jurang. Ini akan mejadi kisah akhir dari hidupku. “Atau mungkin, awal dari cerita baruku?” batinku berbisik.

 

Pukul 16.00. Tidak, tidak ada jalan keluar di sini.

“HALLLOOOOOOW, ada seseorang di sini !?” Aku mengulanginya puluhan kali dengan nada sedikit berteriak. “Halll…..” kerongkonganku tercekat. Sebuah hewan aneh menyerupai golem berjalan mendekati kubangan lumpur. Ukurannya tiga kali manusia, bagaikan monster. Kakinya setelah kuhitung ada enam. Ia merendahkan kepalanya lalu menjilat lumpur berulang kali. DIA MENELANNYA!!?? Golem aneh itu memakan lumpur bagaikan coklat. Aku melihat bagaimana ia mengulumnya seperti choco candy. Aku tidak sedang bermimpi bukan?

Pinterest

“Tom, bangun Tom! Ngapain lama-lama benamin kepala dengan pasir. Sudah sore, bentar lagi laut pasang.” Aku terkaget. Mengerjapkan mata. Kepalaku pusing serasa berputar-putar. Aku menopang tubuh dengan dua telapak tanganku. Hitungan detik, ombak besar datang menyeretku.

Arrrggh. Gelap. Pukul 18.00. Masih dengan pepohonan. Sesekali terdengar aungan di ufuk barat. Mentari sudah tak tampak lagi, hanya cahaya oranye yang sesekali melintas di langit. Aku barusan pingsan. Kenyataannya ini tidak seperti mimpi. Aku bergidik pada secuil lumpur di pipiku, sekejap terlintas ingatan sebelum pingsan. Aku sedikit menjulurkan lidahku. Glekk. Manis. Sangat manis. Benarkah? Aku bergegas menuju kubangan lumpur. Melangkah lincah diantara serat-serat akar tak beraturan. Di remang cahaya senja hari. Aku harus segera mengisi perutku.

Uppss. Aku tergelincir. Makhluk aneh tadi. Hewan berkaki enam tersebut masih bergeming. Ia melihat ke arahku, mata sipitnya mengisyaratkan bahwa ia akan menyerang. Kakinya mulai berderap ke arahku. Jasadku kaku. Ketakutan menyelimuti sel-sel tubuh, mengalahkan rasa lapar. Sungguh mencekam. Langit semakin mengkelam. Dalam tubuhku yang paling dalam jantungku berbisik. Bangunlah! Bangunlah! Buka matamu !!!

Sudah terlambat. Golem kaki enam itu berdiri tepat di hadapanku. Di sini aku melihat lebih jelas perawakannya. Badannya gemul, lemak menyelimutinya seolah tak bertulang. Warna kulitnya coklat lumpur. Seramnya lagi ternyata ia buta, matanya sipit karena bola matanya tidak ada. Mulutnya mendekat, lebih dekat. Ia tak memiliki gigi! Lidah panjangnya keluar. Aku memejamkan mata erat-erat. Mengulurkan tangan untuk menahan kepala golem raksasa. Glekk. Satu, dua tiga.

Ia menjilat bajuku. Terus menerus sampai bersih. Aku bergidik. Tidak ada bagian dari tubuhku yang hilang. Tak ada rasa sakit. Sekilas aku memandangnya dalam-dalam. Bleiikkkkkkkkkk. Ia menjelma menjadi lumpur. Menyeimutiku, lalu menggunung bersama kubangan lumpur lainnya. Seluruh lumpur dihisap olehnya, bagaikan magnet. Aku dibawanya terus meninggi, meninggi dan terus meninggi. Tak terkira kuantitas lumpur yang ia kumpulkan, mengitarinya bagai angin puyuh hingga mengalahkan tinggi tanah tadi. Permukaan sudah tampak. Aku memandangi pepohonan yang kini berada di bawah kakiku. Menyungging senyum. “Terimakasih Golem Kaki Enam, namaku Tomardo El-Clasico.” Aku mengulurkan tanganku ke awang-awang. Benda halus turun dari langit. Apa itu? Ya, butir-butir pasir. Turun sangat lembut bagai salju. Dingin dan sangat sejuk. Sangat-sangat menenangkan.

“Tom, bangun Tom! Ngapain lama-lama benamin kepala dengan pasir. Sudah sore, bentar lagi laut pasang. Jangan ngambek kalo disuruh cuci baju Adek.” Aku membuka mataku perlahan. Semua rasa penatku terasa hilang. Ternyata hanya mimpi.

“Ya Bu, aku datang !!” Aku merasakannya. Sangat damai. Detik-detik itu, mampu merubah hidupku. Mungkin dulu aku membencinya, namun mulai detik ini aku akan bersahabat dengan lumpur. Aku akan mencoba mengenal lumpur lebih dekat lagi.

“Ya, asal tak kau jilat saja ia seperti permen.” Seekor camar berceloteh lepas.

“Ya, tentu,” jawabku sambil mengangkat alis. Tunggu dulu. Whatttts!!

 

Fury Buhair

 

 

Please follow and like us:

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *