Teruntuk Ibu dan Bapakku.

Selasa Wage, 16 Oktober ’18
11.37 Am

Hai Cat, Aku ingin kisahkan sedikit rona tentang asa dan juang sosok yang sangat berarti dalam hidupku, ibuk dan bapakku. Sebenarnya aku paling tidak suka berceloteh tentang kedua orang tuaku. Tapi, aku ingin sedikit saja berkisah.

Sekitar dua puluh delapan yang lalu tak kuasa bahagia dan penuh syukur ibuk dan bapak menerima kehadiranku dan teman lahirku(saudara kembarku), Tiada terkira kisah dan amarah bahkan lelah ketika merawatku dari bayi hingga kanakku usai. Kemudian usia remajaku, aku berani melontarkan kata pedas juga sangat kurang cerdas bagi dua sosok hebatku.


Cat, Bila aku ceritakan kembali padanya, ibuk dan bapakku. Mungkin, tiada lagi ingatan sekedar memoar buruk dalam bayangnya. Tapi secuil kesah atas ribuan kisah hidup bersama kedua sosok hebatku, Cat maaf kali ini aku aka nagak banyak menggoresimu, ingin kucoba rangkaikan pada tulisan manis hingga tangis atas segala suka dan luka yang pernah tegores dalam kitab hidupku kemarin. Tapi ini bukan untukmu Cat, goresan pena ini aku persembahkan pada kedua sosok hebatku. bila aku tak dapat berjumpa secara langsung dengan beliau. Sebuah buku penuh kamu akan aku titipkan pada orang di rumah. Okay, Cat ini siap ya aku coret dan buat rangkaian huruf kata dan kalimat. Sabar dan hanya sebentar ini, Cat.

Ibu dan bapak. Sepasang kata.
Sebutan pada panjenengan (panggilan untuk bapak dan ibukku) yang serasa bak menyebut Tuhanku. Ya, ridho orang tua ridho ibuk dan bapak juga.
Pak,Buk, karena panjenengan semua dapatku lukis indah mimpi juga harap atas segala yang terlewat. Masih ingatkah panjenengan? Di saat aku belum pernah terserang penyakit hebat dalam hidupku, saat-saat awal sekolah panjenengan sematkan baju merah putih beserta dua kuping kelinci milik rambutku dan kembaranku, tawa dan riuh semangatku tak terlupa. Dalam anganku kala itu panjenengan rias dan hias bak boneka cantik yang tegas. Betapa bahagia rasa jiwaku saat itu Buk, Pak. Tersenyum lepas dan melebar ketika hasil foto hitam putih diberikan untuk pendaftaran awal sekolah.

Rabu Keliwon, 17 Oktober 2018
19.25 Pm

Memori kisah yang terlewat begitu saja, tapi tidak bagi pentium otakku. Ibuk dan Bapak, panjenengan begitu indah ketika aku menceritakan kisah-kisah hebat panjenengan kepada aku dan anak-anak Ibuk dan Bapak. Kemlaratan, kemiskinan, dan kekurangan yang menyertai awal masa aku mulai mengenal ejaan juga deretan bangku cokelat milik Gedung pemerintah, ingatku panjenengan penuh juang dan rintang ketika aku menginginkan semua kebutuhan menimba ilmuku, tidak.

Tidak sampai di situ aku, dalam Lorong otakku. Aku masih merekam jelas ketika panjenengan lebih memilih berpura-pura ketika aku lapar memakan jatah nasi ibuk juga pada bapak, memoir indah kebaikan-kebaikan panjenengan tidak dapat tertulis tiada terkiranya. Bapak, panjenengan masih ingat akan kelip lampu kota ketika anak Bapak ini mewakili kabupaten di tingkat daerah, setelah sebelumnya aku tak pernah merasakan sakit hebat.Bapak sering pula panjenengan berpura-pura seperti ibu, ketika taka da sepeser pun dan hanya selembaran pattimura, uang di zaman itu rela Bapak berikan hanya untuk membeli buku untuk tugas berceritaku. Saking begitu banyaknya kebaikan bapak dan ibuk tak terhingga bila aku hanya menulis setetes, tak akan pernah cukup. Tiada pula balasan akal yang nakalku ini mampu menerpa segala peluh saat panjenengan dedikasikan khusus untukku dan saudara-saudaraku.

Bapak dan ibu yang amat dicintai Alloh, Tuhan Kita. Benar memang pepatah selalu berujar bahwa tanpa perjuangan hidup tak terasa indah juga mudah. Petuah panjenenganpun seperti pepatah tanpa arang, tidak mematahkan semangat dan tekad Rizkha kecil itu, Ketika pula ombang-ambing keyakinan yang tak sama dari riwayat keluarga panjenengan semua. Aku dan saudara kembarku diskenariokan Tuhan sebagai jalan supaya panjenengan dan aku beserta saudara-saudaraku bisa berjumpa di taman surga.

Pak, Buk. Teringat pula episode perih yang membuat hati pedih tak mampu rasanya perih itu. Rasanya, ketika penyakit hebat yang menyapaku membuat keluarga kita semoga selalu hebat dan seigap atas segala keadaan. Penyakitku yang sering merobek wajah, mencabik-cabik urat malu ibuk bapak, hingga membuka lebarnya luka yang belum sembuh karenaku selalu.

Hampir enam belas tahun lalu berawal, Selama sebelas tahun panjenengan tak pernah Lelah pun malu merawatku hingga sembuh, saat sekolah, kuliah yang sempat tersendat pula panjenengan rela tiap hari dari luar kota menghampiriku di tempat kontrakan dan kos bahwa kuliah harus selesai. Luka masih belum begitu saja terlewat, kering, apalagi tak membekas. Empat tahun lalu, panjenengan melepaskan tanggung jawab dengan studiku yang berhasil. Linangan kepekaan, kedukaan, paksaan, dan keluhan sampai tanpa rasa. Panjenengan berhasil melewati kisah hebat waktu itu.

Di tahun ketiga setelah aku mulai menapak karir, panjenengan rela seutuhnya tanpa paksa dengan rasa lega dan tega. Aku seutuhnya ibuk bapak serahkan pada lelaki kiriman Tuhan yang tak pernah sama sekali aku mengenalnya dalam balutan mistaqan ghaliza. Terima Kasih Tuhan, teriakku waktu itu. Atas acc(lampu hijau) dari ibuk bapak. Tanpa panjenengan apalah seonggok daging ini.

Di tahun pertama pernikahan buk, pak, tak berat sebenarnya. Tapi betapa beratnya, sepenuhnya aku diserahkan pada tanggung jawab yang bukan milik panjenengan semua. Panjenengan rela aku bagi dengan keluarga baruku, termasuk keluarga lelaki kiriman Tuhan itu untukku. Dan episode kisah dengan bapak ibuk tidak berhenti begitu saja, dua kali harapan keluarga baru pupus dengan kisah yang terakhir panjenengan yang sudah sepuh berlari-lari ketika aku dikabarkan saat aku berlayang suara bahwa aku harus dioperasi pembersihan calon keluarga baru kita buk pa, tangisku meledak sesaat sebelum panjenengan hadir. Tatapku nanar, tapi sumpah dan semangat panjenengan yang semakin sepuh membuatku tersenyum lebar. Gusti Mboten Sare, Tuhan tak pernah tidur. Bisik ibuk pada telingaku sewaktu aku membuka mata dari bius totalku.

Di tahun setahun setengah ini, banyak kejutan kisah untuk panjenengan buk pak. Pintaku pada Tuhan semoga selalu bapak ibuk selalu dalam keadaan iman islam dan sehat hingga menerima kehadiran keluarga baru kembali di pertengahan tahun depan nanti. Peluk takzim dan doaku kagem semua. Aamiin.

 

-Sekian-

 

Please follow and like us:

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *