Kelak Ibu Akan Cemburu

Diary…

Apa yang lebih mencekam dari bunyi detik jam saat mata sulit terpejam di sepertiga malam? Ketika bunyi tik tok tik tok meneror keheningan, serasa semua perbendaharaan kata seram singgah di kepalaku. Sementara gigil tak kuasa kuhalau meski tak jauh dari sisiku sepasang lengan selalu siap dipeluk.

Di sebelahku, perempuan yang tampak cantik dalam segala situasi sedang tertidur pulas. Ia adalah selalu yang tak pernah tidak. Keteduhan wajahnya selalu menyejukkan hati. Santun katanya selalu meredam emosi. Perhatiannya selalu berarti. Bahkan dalam keadaan terlelap pun ia selalu membuatku merasa menjadi lelaki paling beruntung. Dia adalah belahan jiwaku; istri tercinta.

Kenapa malam terasa mencekam? Padahal ada seorang perempuan yang selalu siap mengusir gelisahku. Padahal dengan senang hati ia akan merelakan bahunya agar kepalaku terbenam dalam damai. Cukup mencolek lengannya, ia akan terjaga, lantas melingkarkan sepasang lengannya di leherku. Tapi biarlah sisa malam ini aku habiskan untuk merindu perempuan yang berada nun jauh di sana tanpa teralihkan oleh keindahannya.

“Bukankah aku alarm yang baik? Kenapa kau lebih mempercayakannya pada samsul?” ujar istriku tadi malam ketika aku sedang menyeting alarm. Aku sedang mendapat tugas dari sebuah grup menulis. Dan aku ingin bangun di sepertiga malam agar bisa menulis tentang orang tua dengan otak fresh.

“Samsul?”

“Merek hapemu!”

“Hahaha... ngawur. Mereknya Lek Novo!”

Istriku menahan senyum. Jelas ia sedang serius. “Percayakan saja sama aku! Jam berapa kakak mau bangun?”

“Jam tiga. Aku mau menulis.”

“Menulis jam segitu?”

“Iya, ini bukan fiksi, tapi catatan tentang orang tua.”

Istriku diam, menatapku datar. Beberapa jenak setelahnya ia menunduk. “Kakak rela bangun malam demi menulis tentang orang tua.”

“Apa itu salah?”

“ Enggak. Bagus malah. Tapi lebih bagus kalau kakak bangun demi orang tua kemudian menuliskannya dengan hati, bukan karena tugas.”

“Aku menulis dengan pulpen!”

Kurang lebih seperti itu percakapanku dengan istri semalam. Sedikit kuubah susunan katanya agar lebih rapi. Dan sebelum jam tiga aku sudah bangun.

Sekarang aku tak tahu harus mulai dari mana. Kenapa sulit sekali merangkai diksi yang sekiranya manis untuk mengungkapkan betapa rindunya aku kepada Ibu? Atau barangkali diksi saja tidak cukup?

Aku kerap kali mengumbar kata rindu kepada orang tua, terutama Ibu. Biasanya beliau hanya membalasnya dengan senyum manis, pelukan, bahkan air mata. Jarang sekali beliau menjawab dengan kalimat, “Ibu juga rindu kamu, Nak!”

Diary, aku paham kerinduan ibu tak perlu diragukan. Meskipun beliau tak mengungkapkannya secara lisan, tetapi beliau mewujudkannya dengan perlakuan. Misalnya ketika aku pulang, dengan cekatan beliau menyediakan semua menu kesukaanku di atas meja makan. Bahkan demi menyenangkan anak lelakinya, beliau rela bangun tengah malam, membuat adonan agar donat yang ia buat siap saji di pagi hari untuk menemani kopiku.

Kerinduan ibu tidak tersurat tetapi tersirat. Beliau memang tak pandai merangkai kata, tetapi beliau mahir menyusun rencana dengan detail agar apa yang ia lakukan untuk mengobati kerinduannya sempurna.

Oh Diary…

Tak terasa air mataku sudah membasahi pipi. Aku buru-buru menyekanya, takut istriku melihat. Selama ini aku tak pernah menangis di hadapan perempuan kecuali Ibu. Ya, hanya ibu yang berhak menyeka air mataku, karena aku hanya rela terlihat lemah di hadapannya, tidak di hadapan perempuan lain selain dirinya.

“Kau tak harus setangguh Ayah, Nak! Kau hanya perlu tangguh menurut dirimu sendiri.” pesan ibu setiap kali aku akan meninggalkannya. Beliau paham benar tubuhku tak sekuat almarhum Ayah.

Ayah bisa menjadi apa saja. Beliau serba bisa. Kadang beliau menjadi tukang bangunan jika ada bagian rumah yang rusak. Kadang menjadi komentator sepak bola ketika kami nonton bersama. Selalu menjadi pemimpin yang tegas. Selalu menjadi kawan yang menyenangkan. Namun Ayah tetaplah seorang bapak yang miskin bicara tapi kaya teladan.

Diary…

Ribuan, bahkan jutaan halaman pun tak akan cukup untuk menceritakan betapa hebatnya kedua orang tuaku. Andaipun aku diberi waktu seribu tahun lagi khusus untuk menarasikannya pasti belumlah seberapa daripada kasih mereka kepada anak-anaknya.

Maka dalam catatan ini aku hanya bisa menuliskan apa yang terlintas di benakku saja, berharap itu akan mengurangi perasaan sesak yang sejak tadi memenuhi rongga dada. Dan sebelum kuakhiri, izinkan aku menyeka air mata agar ketika istriku bangun, ia tak tahu kalau aku barusan menangis.

Terlambat, tiba-tiba sepasang lengan melingkar di leherku. Istriku menyandarkan kepalaku pada bahunya. “Aku tidak kesal karena kakak lebih mempercayakan alarm kepada samsul eh Lek Novo. Yang aku sesalkan adalah kakak tak mau membagi air mata denganku.”

Diary…

Di antara semua kasih orang tua, ada satu yang selalu menyertaiku setiap saat, yaitu istriku. Aku tak pernah pacaran dengannya. Aku menikahinya karena percaya bahwa pilihan Ayah dan Ibu adalah yang terbaik.

“Dia wanita terbaik, Nak! Kelak Ibu akan cemburu kepadanya.”

Apa yang lebih mencekam dari bunyi detik jam saat mata sulit terpejam di sepertiga malam? Yaitu ketika mengingat kalimat Ibu tersebut. Ia mengucapkannya ketika akan menjodohkan aku dengan perempuan yang saaat ini sedang memelukku erat.

Kendal, 16 Oktober 2018, 04:15 WIB.

Please follow and like us:

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *