Lautan langit

Ketika mata melihat sang pemikat hati
Ketika telinga mendengar dengan nalar akal

Permukaan langit berpendar biru
Wajah-wajahnya lugas memburu
Angin menggulung gelombang awan
Menghimpun, menghitam terbitkan hujan

Bumi pecah dalam satu sapuan
Langit pecah dalam satu sapaan
Petir berkata, Guntur bergema
Tanda titik air bertahan lama

Gemuruh langit beradu
Genderang di atas samudera rindu
Siapa yang tahu?
Hari di mana langit runtuh?

Apakah setiap keping melukai?
Ataukah hanya daratan yang akan mati?

pixabay.com

Langit masih menikmati sandiwara
Lakon-lakon menjadi buah bicara
Pada hari manusia hidup tunawicara
Semua komponen penggerak berbicara
Kecuali arang, berbicara tanpa kata

Maka adalah manusia lupa
Jika langit pecah, dunia sirna
Lautan langit, tak lagi megah

Elmahfuzh 

Kos-kosong, 22 Maret 2018

Please follow and like us:

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *