Kabut Pengantar Lakon

Tolonglah aku! 
Siapa pun yang mendengar rintihanku, kuharap terbuka pintu hatimu. 
Kala itu aku dihempaskan pada batu, kayu panjang menghajar lekuk punggungku, tamparan tendangan menerpa tanpa mengenal iba.
Tolonglah aku! 

Tabir merah tersingkap

Merenung, tiada hari tanpa bermuram durja. Adipati Aryo Kencana terjaga dari tidurnya. Peraduannya begitu membakar hingga ke pembulu darah, gerah. Berulang kali mondar-mandir, sesekali duduk menghadappada cermin yang menegak di sudut ruangan.

Usianya yang baru menapak tiga puluh tahun terbilang sangat muda untuk ukuran sebuah jabatan tinggi di Kadipaten. Aryo Kencana naik tahta menggantikan sang Ayahanda yang lengser keprabon dan memilih menjadi penasehat. Adipati Sepuh tanggap akan kesusahan yang hinggap di benak putranya.

“Ngger, Romo dan Biyung memahami seberapa gelisah dan merananya hatimu, di mana separuh dari nyawamu telah terlepas. Kembali pada pencipta-Nya. Tapi tak seharusnya kau berlarut dalam kesedihan, rakyatmu dan para kawula juga mengharap perhatianmu. Lihatlah dirimu! Tak sedikit pun mengacuhkan laporan para tumenggung. Tanpa Romo datang ke mari, tak akan mungkin kau menggelar pasowanan agung.” Sabda Adipati Sepuh.

Aryo Kencana hanya menghela napas panjang.

“Eling Ngger, datang akan pergi. Pasang akan surut, terbit akan tenggelam. Adanya perjumpaan tak terlepas dari perpisahan. Kuatno batinmu! Kowe arek lanang, wis dadi gantine wong tuwo ing dampar panguasa. Jangan kecewakan Romo dan Biyung.” Biyung Sepuh menimpali.

Kembali Aryo Kencana menghela napas, sedikit pun ia tak berani memandang kedua orang yang telah melahirkan dan membesarkannya, pengukir jiwanya.

Cahaya meredup, merangkum segenap kesusahan Aryo Kencana.

***

Tak lama, tabir kembali tersingkap.

Asap putih tipis bersambung angin semilir menebar di seluruh penjuru perkampungan. Sudah satu bulan hal ini sering saja menghinggapi di tiap malam. Penduduk hanya punya satu pilihan, menutup diri dalam gubuk masing-masing.

Tolonglah aku! 
Siapa pun yang mendengar rintihanku, kuharap terbuka pintu hatimu.
Kala itu aku dihempaskan pada batu, kayu panjang menghajar lekuk punggungku, tamparan tendangan menerpa tanpa mengenal iba.
Tolonglah aku! 

Beberapa penduduk, bisa dibilang terdiri dari dua keluarga berlari menembus kabut. Terhenti tepat di pertigaan jalanan desa, berpapasan dengan Tumenggung Kertayana yang sedang bertugas diiringi belasan prajurit.

“Ada apa kalian berlarian malam-malam begini?” tanya Tumenggung Kertayana.

“Pangapunten Gusti Tumenggung, kami nyuwun perlindungan. Wilayah kami sudah tidak aman, ada gangguan yang begitu meresahkan. Kami nyuwun pangayoman.” Pinta seorang penduduk mewakili beberapa orang di belakangnya.

“Perlindungan apa? Dan bahaya apa yang kalian maksudkan?” Tumenggung Kertayana belum bisa menangkap maksud penduduknya.

“Memedi, Gusti.”

Seketika bulu roma orang-orang meremang, bagaimana tidak kabar tentang kabut putih yang mengantarkan lakon menakutkan itu sudah hangat di telinga penduduk Kadipaten Cemoro Sewu. Baik yang dekat dengan Kotaraja, kalangan pujangga, hingga lapisan jelata di pelosok-pelosok desa.

“Sekarang, semua ikut aku ke Kadipaten!”

Langkah-langkah beriringan, Tumenggung Kertayana berusaha menepis rasa takut para penduduk. Kembali pundaknya harus menanggung tugas dan tanggung jawab besar. Sementara titah dari Adipati Sepuh belum juga berhasil dilaksanakannya, yakni membujuk Aryo Kencana untuk lebih dekat dengan kawula.

***

Tabir menutup, menghirup langkah mereka hingga layar terkembang di balairung Cemoro Sewu. Waktu yang sudah menapak tengah malam, tak sepatutnya mengganggu tidur nyenyak sang Adipati. Namun, berdasar kuat pada tugas sebagai seorang pengayoman rasanya sah-sah saja untuk menghadap.

“Malam-malam ribut, apa yang terjadi Kakang Tumenggung?” tanya Aryo Kencono dengan mata agak sipit menahan kantuk yang amat melekat. Kedatangan Tumenggung Kertayana memaksanya untuk beranjak dari peraduan dan berjalan menuju balairung kadipaten.

“Pangapunten, Gusti. Penduduk kembali didekap dengan berita yang sudah menyebar luas di penjuru Cemoro Sewu.” Terang Tumenggung Kertayana.

“Asap putih dengan rintihan itu lagi?” tanya Aryo kencana setengah kaget.

“Benar, Gusti. Para kawula memohon perlindungan.”

“Aku pasti melindungi kalian. Namun, aku harus membuktikan berita yang telah mebgusik ketenangan para kawulaku itu. Amankan penduduk di Kepatihan, kita berangkat malam ini!” tegas Aryo Kencana seraya bergegas mengenakan jubah hitam kesayangannya.

“Sendika dawuh sabdaning Ratu!” sembah Tumenggung Kertayana.

***

Tolonglah aku! 
Siapa pun yang mendengar rintihanku, kuharap terbuka pintu hatimu.
Kala itu aku dihempaskan pada batu, kayu panjang menghajar lekuk punggungku, tamparan tendangan menerpa tanpa mengenal iba.
Tolonglah aku? 

“Hentikan sebelum aku menebasmu!” teriak Aryo Kencana memecah ketakutan para kawula yang mengikutinya.

Asap putih yang diburunya mendekat, semakin tebal dan benar-benar nyata mengantarkan lakon menakutkan yang meresahkan penduduk sebulan terakhir.

“Tunggu, Kangmas. Apakah kau tega hendak melukaiku? Lupakah kau padaku? Mengapa sekarang kau menjadi sekejam itu.” Lakon menakutkan itu merintih.

Aryo Kencana yang hendak menebas pedang Guntur Malowo terbelalak, dadanya berdesir. Suara itu sangat dikenalnya, suara orang yang begitu dicintainya. Namun ia tak segera melahap gejolak hati, dipandanginya dari ujung kepala hingga kaki. Kepala lebam mesti tertutup oleh rambut panjang terurai, wajah yang hancur dengan kelopak mata kanan yang perlahan berpindah dari snagkarnya. Mulut berlumuran darah, tangan pun demikian.

“Kau. Kau.” Aryo Kencana terbata-bata.

“Aku Roro Candrika, istrimu Kangmas.”

Aryo Kencana seketika lemas, kakinya tak kuat menopang tubuhnya. Ia jatuh terduduk, lesu dan perlahan meneteskan air mata. Kemudian, ia berusaha bangkit. Mengulurkan tangan untuk bisa memeluk lakon menakutkan itu. Namun, lakon itu menolak halus.

“Kangmas, aku tahu seberapa kerinduanmu padaku. Begitupun diriku. Namun sadarilah akan hal yang telah menimpaku, Kang.” Rintih lakon itu.

“Jikalau kau Roro Candrika istriku, jelaskan perihal kepergianmu Dinda!” pinta Aryo Kencana.

“Kepergianku bukan keinginanku, aku adalah imbas kekecewaan di masa lalu. Ketahuilah, adikmu dan selirmu yang telah membuatku seperti ini. Kala itu aku dihempaskan pada batu, kayu panjang menghajar lekuk punggungku, tamparan tendangan menerpa tanpa mengenal iba. Adikmu Aryo Saloko telah merenggut kesucianku sebelum kau sempat menyentuhku, sementara Roro Ardini sangat iri dengan kedudukannya sebagai selir. Aku dihabisi di malam kelam, lalu dipendam di pemakaman yang terbuang.”

“Oh Candrika. Maafkan atas kelalaianku.”

“Aku sudah memaafkanmu, Kangmas. Kini biarlah aku seperti ini saja. Kau tetaplah menjadi pemimpin yang bijaksana meski tanpa aku di sampingmu, patuhilah amanah Kanjeng Romo dan Biyung Sepuh.. Aku merasa lega setelah menuturkan semuanya, sekarang izinkan aku kembali ke alamku. Jika engkau rindu, lantunkan Kidung Asmara yang biasa kita nyanyikan. Harapanku, semoga kau mendapat ganti yang lebih baik dariku.”

Roro Candrika melambaikan tangan dan lenyap di balik kabut.

Aryo Kencana masih terpaku, tak mampu berucap meratapi nasib Roro Candrika.
“Sampun, Gusti. Sampun, Gusti Ayu sudah berlalu.” Ujar Tumenggung Kertayana lirih.

Aryo Kencana tersadar dari keterpakuannya. Ia terngiang dua nama yang disebutkan oleh Roro Candrika, memanas lubuk hatinya. Kedua tangannya menggenggam pedang dengan erat. Ujungnya meruncing haus akan darah.

“Kakang Tumenggung! Sebarkan prajurit mengepung Kadipaten, tangkap kedua Iblis keparat itu!”

Tabir berbalut asap kembali merengkuh di langit Cemoro Sewu.

***

Tanpa menunggu diwangkara bersinar di pagi hari, pengepungan serentak dilakukan. Kedua Iblis yang sudah disematkan sebagai dalang dari lenyapnya Roro Candrika dari bumi Cemoro Sewu tak mampu berkutik. Adipati dan Biyung Sepuh melerai di tengah kepungan, sementara mata Aryo Kencana berapi-api.

“Menilik dari semua yang terjadi, juga laporan para kawula maka keputusan kembali ke tanganmu, Ngger.” Seru Adipati Sepuh.

Aryo Kencana mengangguk mantap, “ Prajurit!”

Tak perlu ucapan permisi, belasan ujung tombak menembus badan kedua iblis yang telah melenyapkan permaisuri Aryo Kencana itu. Tak lain dan tak bukan adalah Roro Ardini selaku selir Aryo Kencana juga Aryo Saloko, adik kandungnya yang biadab. Mereka harus berakhir di ujung tombak para prajurit sebagai buah dari kebusukannya.

Sepucuk drama dari naskah Ketoprak berjudul “Rintihan Tengah Ratri” karya Alfath Wisnuwardhana. 

Alfath Wisnuwardhana
Malang, 07 Maret 2018.

Please follow and like us:

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *