Berenang

Nabastala tak lagi nampakkan putih ataupun biru pada wajahnya
Angin mulai munculkan dingin bersama dengan gugurnya daun-daun kering
Semakin lama semakin gelap
Kilat mulai memamerkan angkuhnya di antara gemawan sore

Lampu-lampu pun dinyalakan
Menerangkan rumah-rumah yang kegelapan
Menarik hati serangga-serangga kecil tuk menari bersama cantiknya cahaya lampu

Nduk, tolong ambilkan ember berisi air dan nyalakan lampu satu saja lalu letakkan ember itu di bawahnya

Teriakan ibu yang melengking dari dapur membuyarkan lamunanku
Terbesit tanya; untuk apa?
Tapi, segera kutepis agar tak menyulut amarah ibu

pixabay.com

Mendadak rumahku gelap
Hanya satu lampu masih bersinar manja dan juga satu bayangannya

Serangga-serangga kecil itu terperangkap
Tergoda tipuan pantulan cahaya lampu
Sayap-sayap kecil nan rapuh terlepas dari sang tubuh

Sakitkah?

Serangga-serangga itu tak mau kalah dan dia mulai berenang ketepi
Berenang meski hakikat mereka adalah terbang
Berenang untuk selamat dan pulang
Berenang untuk menjadi pemenang
Berenang meski kaki-kaki mungil tak kuat menopang diri
Hingga akhirnya mereka; mati

Perjuangan hidup sang serangga pemberani
Tuk menginspirasi setiap insan di bumi.

Kintania Listianingrum

Majalengka, 01 Maret 2018

Please follow and like us:

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *