Siluet Fatamorgana

Api mencambuk seonggok sampah; terkoyak berteriak
Rintik merintih, membelah kaca-kaca nan bertaut, rerumputan terisak
Riuh angin mengkalkulasi, awan memayungi bongkahan angan di genggaman
Diriku bukanlah Tuhan, papan-papan bak keranda; siklus kematian

Tandus, bagai kritikus menjerat tikus-tikus berdasi, bibir berkata, “kamu penunggunya.”
Embusan langit-langit berdebu, nian hawa siluetnya menggerutu
Fatamorgana tentang dia?
Atau… tentang bayang semu kini menyerbu?

Angkasa menerjang sihir; titik-titik berpijar meronta
Pupus, aksara ‘lah lumpuh bertongkatkan rima
Roda-roda bawaku berkelana di lautan fana
Merah beradu jingga di cakrawala membiusku; terpana

Rizqan Shinody
Banjarbaru, Kalimantan Selatan

Please follow and like us:

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *