Kau yang Bercermin pada Angka

Pada pagi yang mana yang memperoleh selamat, darimu?
Ada empat belas runtun metamorfosa di hadapanmu
Satu di antaranya adalah harapan, yang muncul di antara angka-angka yang lain; ketiga belas
Kau akan menyapihnya sebagai sandingan di waktu pagi
Jejak yang ditapaki, mata yang tak henti mencari muara air,
hati yang bertanya tentang kecemasan,
mulut yang merangkai bicara
Dan, ia menjelma menjadi waktu peraih rezeki.

Sejak mentari menghangatkanmu
Kau pun berbagi sajak untuk dikumandangkan padanya
Rindumu dipeluk bimbang, insan yang ditunggu di tugu kemarin,
dan terbang adalah suatu jalan; kau melupakan sejenak.

Jangan pernah bosan untuk menciptakan kalimat selamat siang

Di sudut lelahmu yang berderai hujan
Kau tanya sebuah payung untuk sedikit tak membuatmu basah dari hujan
Namun, sayang
Kau terlanjur bermain hujan, lalu kau menuntaskan dengan pejaman mata yang melayangkan pikiranmu; entah ke mana ia mengelana
Gurun mimpi atau istana asing.

Pada malam ke berapa kau berhenti menanyakan kedatangan hujan dan mengubahnya menjadi kemarau atas dirimu yang gersang dengan
senyuman

Shofiyah

Jember, 14 Februari 2018

Please follow and like us:

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *