Bisikan Malam yang Tersamarkan

pixabay.com

/1/
Mentari sembunyi malu sejak gerimis menetas, cahayanya redup menyusup melalui celah dinding-dinding awan yang menghitam dan menciptakan garis cahaya yang berpendar layaknya dari surga. Pada dirimu yang menyulam benang-benang ungu untuk menciptakan sehelai kain yang menghangatkan rindu, ada sebuah surat untukmu yang ditulis di balik lembar harapan.

/2/
Akhirnya rintik gerimis menuntun senja menemukan malam, menyisakan lilin-lilin yang berpendar redup, sekadar memberi cahaya anggun yang memancar pada bait-bait senyummu. Kemudian di altar cahaya redup itu, kau menatapku dengan garis-garis senyum dan sorotan mata yang menjelaskan kata bahagia.

/3/
Dalam gubuk kecil yang tersusun dari anyaman bambu-bambu layu, kau masih duduk menatap sendu rinai-rinai gerimis yang datang dari balik kenangan. Tirai di sampingmu yang melekat pada jendela-jendela basah, kini berkibar lembut menyapa helai-helai rambutmu.

/4/
Sayup sayu, derai-derai angin meniup lembut lekuk-lekuk daun telingamu, memelukmu dengan halus di antara ruang-ruang kehampaan lalu berbisik pelan pada telingamu sebelah kanan, “Ajari aku cara mencintaimu.” 

Wisnu Maulana Yusuf 

Yogyakarta, 2018

Please follow and like us:

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *