Langit di Dalam Laut

Dua bola mata yang teduh itu menyimpan rahasia. Di balik kilau kecoklatan dalam naungan lentik bulu mata, di sana tersimpan kepedihan. Bahkan jika kau hendak mengetahui isinya, haruslah kau selami lautan. Dan, temukan apa saja tapi tidak kedalaman palung paling gelap.

Doa-doa yang ia rapal setiap saat adalah alasannya berharap. Suatu ketika, ia ceritakan pada burung-burung di alam pikirnya. Lantas diterbangkan sejauh impian, sampai digantungkan di langit paling terang.

***

Cuaca sedang tidak bersahabat. Pagi menjelang, mendung menggelayut tenang. Awan kelabu berarak mengitari perkotaan, suara klakson dan deru kendaraan bersahutan, lapisan ozon semakin kehilangan gairah sebab polusi berkepanjangan.

“Koran… Koran…,” suara cempreng bocah perempuan berusia sebelas tahun menggema di antara keriuhan pagi itu. Tanpa alas kaki yang berarti, hanya berselimut baju biru dan celana abu-abu sebatas lutut, ia berjalan dari sisi sebelah kanan lampu merah.

Sesekali ia menepi ketika kendaraan mulai melaju, dan memberanikan diri beradu dengan kehingaran bila lampu menyala merah sementara kendaraan melambatkan lajunya dan berhenti.

“Koran Om…,” dan ia seketika membalas dengan senyuman saat seseorang yang ia dekati melambaikan tangan atau menggelengkan kepalanya.

Nun di balik rimbun dedaunan, pada segaris ranting yang hampir rapuh, dua burung gelatik sibuk memerhatikan lalu-lalang. Tepat salah satu di antaranya menatap ke arah si bocah lugu penjual koran itu.

“Aku jengah berada di sini, butuh kesegaran. Ayo kembali pulang!” ajak si gelatik bersayap perak.

Gelatik bersayap emas masih lurus menatap kejauhan. Tiba-tiba ia bergumam, “Anak yang malang!”

“Hei, siapa? Ada apa?”

“Tidak! Tidak! Ah, sudahlah! Aku ingin pulang. Ayo!” Buru-buru gelatik emas menepis anggapannya. Ia urung membicarakan perihal pemandangan pagi di kota besar. Sayapnya mengepak lebih dulu, meninggalkan gelatik perak yang kebingungan.

“Perasaan dari tadi aku lebih dulu mengajaknya pulang. Kenapa sekarang dia yang meninggalkan aku?” gumaman tak berarti itu hanya sekejap. Gelatik perak mengepakkan sayapnya menyusul pulang ke tempat yang paling tenang.

Laut.

Tempat di mana rahasia seorang ibu disimpan rapi. Ditenggelamkan pada palung paling gelap sementara banyak keindahan terlihat. Hanya yang tampak, sebagaimana kita tahu, terumbu karang, rumput lau serta pernak-pernik lautan lainnya, adalah fatamorgana. Seorang ibu itu, sedang mengandung rahasia yang tidak siapapun tahu bahkan bisa membongkarnya.

Dua gelatik itu pun melesat dengan cepat, menembus awan dan menghempas udara. Sesaat sebelum sampai, mereka menukik sambil memekik, “Ibu!”

Dan seorang ibu itu menengadahkan wajahnya sembari merentangkan tangan lebar untuk memeluk kedua burung gelatik kembar, tapi berbeda warna.

Suara percikan terdengar di antara debur ombak yang tak begitu besar, gelatik emas dan perak kini telah memasuki rumahnya, disambut hanya sang ibu dengan senyum bijaksana.

Para penghuni asli laut, baik ikan, kerang, dan gurita atau sejenisnya sudah tak kaget menyaksikan burung-burung berenang. Kedua sayapnya terlipat dan ekornya menyerupai sirip ikan, menjulung-julung, melesat cepat. Ini adalah kehidupan kedua dari seorang ibu yang berhasil menyatukan langit dengan menenggelamkannya ke dalam laut.

Ini sungguh terjadi! Bahkan di kehidupan yang tidak kita percayai sekalipun. Dan tanpa disadari, kita ikut andil dalam peradaban baru ini.

Langit telah membayang dalam laut, penghuni angkasa bebas atau leluasa menikmati pesona asin yang biru itu. Sadarilah, lautan telah menampung jutaan bahkan lebih kubik air dari langit. Yang muasalnya juga dari laut itu sendiri.

Maka tidak salah bila burung-burung sanggup berenang sedangkan ikan-ikan hanya mampu berharap bisa terbang.

“Bukan suatu ketidakmungkinan jika kelak kalian bisa terbang,” wanita yang dipanggil ibu oleh penghuni semesta itu sedang memberi petuah pada ikan-ikan dan makhluk berinsang lainnya.

“Mengada-adakah engkau Ibu? Itu hanya harapan yang menyesakkan!” jawab si kerapu tua.

“Kau boleh tidak percaya. Tapi tidak ada yang mustahil bagi Tuhan bila Ia menghendakinya.”

Semua tunduk terdiam. Ibu berdeham, gelatik kembar yang lelah berenang pun mengambil alih suasana.

“Bolehkah aku bercerita?” Gelatik emas ambil suara.

Beberapa pasang mata menoleh padanya, ibu tersenyum pias lantas menganggukkan kepala. Gelatik emas melanjutkan aksinya.

“Pagi tadi, nun jauh di kota yang katanya beradab, seorang anak kecil menjajakan koran di antara deru kendaraan. Jika kalian melihat, hati bagai teriris dan…,” ia tak lanjutkan ceritanya ketika ibu mulai menangis. Bola mata cokelatnya seketika tampak seperti pantulan kaca, cepat saja, mata itu sudah semakin basah dan ibu berpaling, ia menghindar dan pergi ke palung laut.

“Kau membuatnya menangis Gemas!”

Gelatik Emas yang biasa dipanggil Gemas itu hanya bisa tertunduk. Ia menyesal, sadar bahwa hati ibu begitu rapuh kala mendengar kehidupan di luaran sana.

Gerak alias Gelatik Perak coba menghibur saudara kembarnya. “Jangan khawatir. Ibu akan baik-baik saja. Di sana, ibu sedang merenung dan berpikir jalan terbaik untuk semuanya.”

***

“Laku berapa?”

“Cuma tiga Bang Muis,” suara cempreng itu terdengar lincah, aksennya mantap dan tenang.

Sembari menghitung uang, lelaki paruh empat puluh tahun bernama Bang Muis itu mengambil dua helai uang pecahan seribu dan diberikan kepada Hanna, perempuan kecil penjaja koran di jalanan.

“Makasih, Bang!” ia berjalan tenang, pulang dan sendirian.

Di tengah jalan…

“Hai!”

Hanna menoleh, seorang ibu bermata cokelat bulat, bulu mata lentik dan alis lebat tampak tersenyum kepadanya.

“Memanggil saya, Ibu?”

“Ya, Anakku!”

Ibu yang notabene adalah seorang teladan bagi seluruh penghuni semesta itu mendekati Hanna. Sementara itu, dua burung gelatik kembar asyik mengintip sambil bertengger di ranting kayu pohon mangga.

Entah darimana asalnya, perasaan yang selalu datang di tiap merasa iba itu kembali datang merasuki hati ibu. Anak sekecil itu, mengais rezeki seorang diri, tapi tetap bisa tersenyum dengan mata berbinarnya. Apakah sungguh ia belum mengerti apa yang dikerjakan? Menjajakan koran, bukanlah pekerjaan yang tepat untuk anak seusianya, apakah ia paham?

Si ibu mengelus dada dengan mata berkaca-kaca. Diajaknya Hanna duduk berbincang sembari makan dua potong kue pisang, favorit Hanna. Anak itu mengunyah dengan lezat.

“Hanna… Hanna tahu laut, Nak?”

Hanna mengangguk, hendak menjawab tapi mulutnya masih penuh kue pisang yang belum halus dikunyah. Tapi dari tatapan matanya saja, ibu tahu, bahwa sorotnya mengisyaratkan sebuah tanya, kenapa?

“Hanna percaya kalau langit,” ibu mengacungkan jari telunjuknya ke atas. “Kalau langit itu ada di dalam laut?”

Hanna menggeleng. Ia menelan kunyahan terakhir roti pisangnya lantas segera menjawab.

“Tidak, Bu! Bagaimana bisa? Langit ada di atas, kan beda sama laut.”

Nalar anak sekecil itu diajak untuk mengembara pada jalan kehidupan, sinambung memang, tapi akan butuh waktu bagi Hanna memahaminya.

“Hanna… Hujan adalah salah satu contoh, Nak, mengapa langit bisa di dalam laut. Air dari laut yang menguap jadi hujan, ada kalanya kembali lagi ke laut.”

“Ya, Bu! Hanna pernah dengar dulu sewaktu masih sekolah,” menyebut kata sekolah, kening Hanna berkerut, hatinya merasa kecut. Kapan terakhir kali ia sekolah, sudah lama rasanya tidak merasakan memakai segaram, bersepatu, membaca dan menulis seperti dulu.

Ibu mengulas senyum di lengkung bibir tipisnya. Ia tahu, Hanna sedang merasa gelisah bila bicara soal sekolah. Mengapa, negeri yang ia pimpin, bahkan ia bangun dengan harapan justru mengusung kesedihan seperti ini? Ibu mana yang tidak merasa nelangsa.

“Barangkali Hanna tidak akan paham. Tapi coba dengarkan Ibu, ya, Nak!”

“Bayangkan, matamu adalah lautan itu. Menyimpan keindahan dan sejuta alasan, kelak kau akan mengerti maksudnya. Dan kau pernah dengar kan pepatah yang bunyinya, gantungkan mimpimu setinggi langit?”

Hanna mengangguk.

“Mimpimu, Nak, harapanmu adalah langit itu,” Ibu menunjuk ke gumpalan awan kelabu yang mulai berarak ke segala penjuru, sementara rintik-rintik kecil berjatuhan.

“Harapan itu ada di kepalamu, di hatimu, yang bisa terlihat dari tatapan matamu. Ingat Hanna, matamu adalah laut, harapanmu adalah langit, jadi dan harapan letaknya di mana?”

Hanna menunjuk dada, kepala lantas matanya.

“Anak cerdas! Matamu menyimpan harapan itu. Lautan meyimpan langit itu. Dan meski setinggi langit di atas sana, tetaplah membumi di titik paling rendah, laut.”

“Tidak apa kau tidak memahaminya sekarang, Nak. Hanya ingatlah apa yang Ibu katakan, kelak kau akan paham.”

Dua burung gelatik yang ikut mendengarkan pun turut mengiyakan dengan cericitnya. Ibu, kasihnya sepanjang masa. Ia tak akan membiarkan anak bangsanya nelangsa dan hancur sebelum meniti kehidupan.

Kepada laut ibu berpulang, diikuti dua gelatik kembar. Disambut sekumpulan ikan, jutaan bahkan milyaran penduduk lautan yang menangis.

Ombak menggulung-menggulung sampai ke tepian pantai, menyapu habis kesedihan Ibu. Laut selalu paham apa yang tidak bisa dikatakan, palungnya menyimpan rahasia sampai saat paling dinanti tiba: kiamat.

Kharisma De Kiyara

Magetan, Februari 2018

Please follow and like us:

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *