Relung; Dibesituakan Angkasa

Berbeda dari yang kurasa, dunia dan seisinya bak kanvas putih; sapuan hampa
Segelintir kata berkuasa, bergulit, bahkan melilit aksara
Diksiku kelu, disengat buncahan rindu
Sajakku hendak berlabuh ke lanskap relungmu,
Tabir kukuh mengadang di sana; jeruji besi dan perangkap kata
Ambisi menggebu tak mampu menjadi sapu, debu laksana kristal lara

Buih-buih mengambang bagai sebuah asa
Dibendung secarik kertas sisa, hasil dari siklus kristal bening melara
Gumpalan realita terpendam, lepas dari sangkarnya; gemetar bibir tak leluasa
Ritme di lubuk sanubari, naik-turun mengguncang dada
Nestapa yang kupikul, meronta dari jeratan tangis berirama

Gemintang berisyarat dengan kerlip; berkedip
Rembulan bercengkrama dengan sinar, mengusik gundah gulana; rupanya nihil semata
Tergenang bayang semu; retak, tampak dengan kacamata berkias kata.

Membenam wajah, roda memori memutar kisah.
Riuh angin menggelitik malamku. Langit menyeret mata ‘tuk menengadah
Imaji menopang jiwaku di singgasana
Ragaku bersandiwara dengan angin kian menerpa.
Dengan pekatnya malam, diriku dibesituakan angkasa
Secuil memori di balik senja buatku merindu jingga.
Transisi malam berganti fajar membentang di cakrawala; langit benakku berjuta impi merana.

Rizqan Shinody
Banjarbaru, Kalimantan Selatan

Please follow and like us:

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *