Geger Kurung Langit

Rumput-rumput termenung sendu, menari bersama semilir angin. Air mata cakrawala baru saja pulang ke peraduannya, wajah-wajah tanah membias senyum. Jalanan sedikit licin menggelitik, siapapun yang tidak waspada bisa tergelincir. Memang, Negara Kurung Langit terkenal dengan jalanan licinnya yang selalu memakan korban. Terutama ketika hujan cukup semangat mengguyur.

Waktu menapak pada satu windu. Delapan tahun setelah terjadinya sebuah peristiwa yang cukup membekas di kepala orang-orang Kurung Langit. Siapapun yang mengingatnya tentu akan tersulut amarah. Lebih baik tidur daripada mengingatnya. Prabu Rangga Sukma pun melupakan apa yang telah berlalu, namun detik berganti menit bayang-bayang kelam selalu menghantuinya.

“Ada apa kiranya Gusti Prabu terjaga di tengah malam?” tanya Tombak Rungkutwesi di hadapan Tuannya.

Prabu Rangga Sukma termangu, menatap air hujan yang ditumpahkan dahsyat dari langit.

“Rungkutwesi, kau sudah lama mengabdi padaku. Ketahuilah, Tuanmu ini menghendaki sekuntum bunga untuk kurawat di Istana ini.” Ujar Rangga Sukma.

Tombak Rungkutwesi berpikir keras, ujung kepalanya yang mencuat jadi menegang. Secara tak sengaja, Sang Prabu membebankan sebuah perintah pada pucuk kepalanya. Rumbai-rumbai cinde puspita diterpa angin, mengisyaratkan sebuah pemahaman akan maksud Prabu Rangga Sukma.

“Gusti, kembang apakah yang kiranya diharapkan? Mawar melati ataukah kenanga putih dan sejenisnya?” tanya Rungkutwesi.

“Bukan bunga taman atau bunga liar.” Jawab Rangga Sukma.

“Hamba akan berusaha mencarinya demi Gusti Prabu.”

“Kau siap mencarikannya?” tanya Rangga Sukma.

Tombak Rungkutwesi mengangguk pertanda sanggup.

Rangga Sukma menghela napas, hatinya dihujani kegembiraan. Sebentar lagi tak ada bayangan yang menyelinap di pelupuk matanya. Pikirannya yang gersang akan segera bersemi apabila Rungkutwesi berhasil memetik sekuntum bunga yang diharapkannya.

“Kembang Anggrek Chandrawulan.”

Tombak Rungkutwesi tersentak. Membisu seketika.

Prabu Rangga Sukma terheran dengan sikap Rungkutwesi, “Ada yang aneh dengan permintaanku, Rungkutwesi?”

“Mohon maaf, Gusti. Anggrek Chandrawulan bukanlah sekuntum bunga biasa yang gampang dipetik seenaknya. Selain itu, Anggrek Chandrawulan hanya ada di satu tempat di mana tempat ini sudah jarang dijamah manusia.” Jelas Tombak Rungkutwesi.

“Bukannya dia hanya ada di Mall Dinoyo City?” Rangga Sukma mengerutkan dahi.

“Tidak, Gusti. Mall Dinoyo City tidak menyediakan kembang seperti itu. Yang ada hanya Kembang Gula dan Kembang Tahu.”

Prabu Rangga Sukma hanya geleng-geleng kepala.

“Lantas, di mana tempatnya?”

“Kawah Blumbang Pitu, Gusti.”

“Carilah sampai dapat! Aku menginginkan kembang itu, ia lebih berharga dari seorang permaisuri yang secantik Roro Kidul.”

Prabu Rangga Sukma sudah kuat tekadnya, Tombak Rungkutwesi justru ketar-ketir mengemban titahnya.

*****************

Kawah Blumbang Pitu yang selalu menganga dengan hidangan danau api yang memanas sepanjang waktu. Telaga panas hunian para siluman. Puncaknya yang menjulang membuat siapapun yang hendak mendakinya akan berputar haluan. Sudah banyak para penduduk sekitar lereng dan kaki gunung yang menjadi santapan empuk Kawah itu.

Siapa yang menapakkan kaki ke sana jangan harap dapat menghirup udara segar kembali. Sudah tentu tamat riwayatnya. Kawah Blumbang Pitu sudah terasing dari kehidupan penduduk sekitar. Meskipun kaki gunungnya menancap kuat di tanah tumpah darah mereka. Para penduduk lebih memilih mengarungi luasnya samudera daripada hanya memetik sekuntum bunga yang tumbuh di lereng Blumbang Pitu.

Inilah yang menjadi momok bagi Tombak Rungkutwesi, walaupun ia sangatlah lincah dalam hal memberantas bahaya di medan laga namun ia tak pernah sedikitpun berkeinginan untuk menjumpai keangkeran di Blumbang Pitu. Saat ini, Gusti Prabunya malah punya keinginan yang menurutnya adalah sebuah perintah yang harus dilaksanakan. Perintah kali ini seakan mengantarnya menuju gerbang kematian.

“Jika aku sampai menapakkan kaki di sana, tamat riwayatku.” Gumam Tombak Rungkutwesi bergidik ngeri saat menatap puncak kawah Blumbang Pitu dari menara Kurung langit.
Blaarrrrrrr!!!

Dentuman keras memekakkan telinga, menggemparkan negara Kurung Langit. Tombak Rungkutwesi kelabakan, dia sedang berada di atas menara dan apabila jatuh bisa mematahkan tulangnya. Goncangan gempa ini cukup dahsyat, begitu disadari bersumber dari Kawah Blumbang Pitu. Kawah angker itu muntah dengan hebatnya. Mengalirkan lahar panas yang mengucur deras menyerbu pemukiman penduduk. Seisi Kurung Langit kocar-kacir, semua merapatkan diri ke Istana Kurung Langit hingga penuh lautan manusia.

Prabu Rangga Sukma naik ke menara, berdiri di samping Tombak Rungkutwesi yang terpaku ketakutan. Para Tumenggung dan pejabat negara berusaha mencari jalan keluar untuk penyelamatan, namun ini persoalan bencana alam yang sudah digariskan oleh Gusti Yang Maha Kuasa. Tak dapat manusia menyangkalnya, apalagi lahar sudah terlanjur menari di tanah Kurung Langit. Rangga Sukma menjadi pusing berat. Kepalanya serasa mau meledak, sebab bencana ini adalah bencana yang sudah lama dikhawatirkan olehnya. Entahlah, di masa ia masih memegang tampuk harus menanggung beban yang demikian.

“Gusti Prabu, saya mohon lakukan sesuatu untuk menolak lahar itu. Acungkan diriku tepat menghadap kawah itu.” Pinta Keris Jarigetih yang terselip di pinggang Rangga Sukma.

“Lahar ini cukup dahsyat. Kau tak akan mampu menahannya. Walaupun kau berasal dari Kawah Semeru yang tidak kalah dahsyatnya. Namun, sudah ramalan para sesepuh yang tak dapat ditolak. Bahwa jika Blumbang Pitu memuntahkan lahar, siap tidak siap Kurung Langit harus dipindahkan.” Ujar Rangga Sukma.

“Gusti Prabu, percayalah. Hamba akan sekuat tenaga membantu menyelesaikan prahara ini.” Keris Jarigetih memaksa agar ia dipakai Tuannya untuk menuntaskan banjir lahar.

“Jarigetih, kita sudah hampir tamat. Kau jangan ngomel terus. Aku pun juga ingin menahan lahar itu. Tapi Gusti Prabu sudah jelas melarangku.” Bisik Tombak Rungkutwesi pada Jarigetih.

Prabu Rangga Sukma mendengar pembicaraan mereka.

Pandita Agung Kurung Langit memberikan sebuah jalan keluar, penuntasan kiamat ini haruslah dengan pengorbanan sebuah kesetiaan. Prabu Rangga Sukma tidak segera memakan saran Panditanya, ia merenung sejenak.

“Tunggu! Pengorbanan apa yang panjenengan maksudkan?” tanya Rangga Sukma.

“Salah satu dari sekian pusakamu harus kau relakan, Ngger.”

Cambuk Rogogeni, Tombak Rungkutwesi dan Keris Jarigetih yang menjadi tiga pasang pusaka keramat tersentak bersamaan. Salah satu dari mereka harus dikorbankan untuk menepis bencana ini.

Istana Kurung Langit yang telah sesak menjadi riuh redam. Semua mata yang ada di sana menyaksikan lahar dingin memerah mengalir deras, muncullah semburat cahaya putih di atas puncak Blumbang Pitu. Dengan segera berganti wujud dua bidadari berjalan di atas lahar tanpa kepanasan sedikitpun. Lahar sepanas itu seperti jalan aspal biasa bagi kedua bidadari cantik itu.

Perhiasan emas menempel di sekujur tubuh, rambut panjang terurai dengan mahkota tipis bertabur permata. Selendang merah dan hijau melambai-lambai di tengah kobaran lahar yang memanas.

“Gusti Prabu, saya akan segera membawakan Anggrek Chandrawulan ke hadapan panjenengan.” Ujar Tombak Rungkutwesi.

“Rungkutwesi! Kau jangan bercanda! Ini suasana genting!” Bentak Ronggogeni.

Ucapan Ronggogeni tak dihiraukannya. Rungkutwesi tetap bersikukuh.

“Nanti Gusti akan tahu apa maksud semua ini. Sekarang biarlah saya yang merelakan diri untuk menjadi tumbal, demi keamanan negara Kurung Langit. Jangan terlalu mempermasalahkan ramalan para sepuh, bisa iya bisa tidak. Masih lebih kuat takdir Gusti Kang Maha Kuasa.”

Rangga Sukma jadi bingung, hatinya begitu berat untuk mengorbankan pusaka kesayangannya yang dianggap cukup keramat di Negara Kurung Langit. Ketiga pusakanya, termasuk Tombak Rungkutwesi telah setia menemaninya dalam setiap medan laga menumpas pemberontak di luar sana.

“Sudah, Gusti. Janganlah banyak pertimbangan. Saya sudah ikhlas dengan takdir yang menimpa saya. Demi keselamatan Gusti dan rakyat di Kurung Langit.”

“Tidak! Aku tidak akan setega itu menumbalkanmu. Kau kesayanganku, Rungkutwesi.” Ujar Rangga Sukma sambil memeluk Tombak keramatnya.

“Sudah, Gusti. Tumbalkan diriku. Kasihan rakyat jelata yang menjadi korban.” Sahut Rungkutwesi sedikit memaksa.

Orang-orang kebingungan. Sementara dua pusaka yang lain, Cambuk Ronggogeni dan Keris Jarigetih juga kesulitan menata sikap. Tombak Rungkutwesi sudah bertekad bulat. Apapun tujuannya tak dapat diganggu gugat. Ibarat ia sudah menemukan sasaran, ujungnya yang meruncing tak dapat dihalangi dengan apapun. Sudah banyak para pemberontak yang perutnya terbelah dan ususnya berceceran di pucuk Rungkutwesi.

****************

“Lahar sudah naik!!!” teriak prajurit penjaga pintu Istana yang dengan segera mengambil langkah seribu menuju puncak Istana.

Para kawula Kurung Langit gelagapan, Tombak.

Rungkutwesi segera melompat dari bibir menara. Tubuhnya yang panjang melambung kemudian menukik dan menceburkan diri pada ganasnya banjir lahar.
“Rungkutwesi!!!” teriak Rangga Sukma, bersamaan dengan Cambuk Ronggogeni dan Keris Jarigetih.

Lenyaplah Rungkutwesi dari pandangan. Bukan main menyesalnya Sang Prabu Rangga Sukma. Cambuk Ronggogeni dan Keris Jarigetih hanya bisa meratapi. Tak disangka, dua bidadari yang berjalan santai di tengah panasnya lahar menenggelamkan diri. Tak lama, banjir lahar mereda seketika. Tanah-tanah kembali segar seakan sudah puas menyerap lahar. Pohon-pohon yang kering kerontang kembali bersemi. Suasana Kurung Langit sudah ceria seperti sedia kala.

“Lahar sudah berakhir, Ngger. Kurung Langit aman kembali.” Ucap Pandita Agung.

Rangga Sukma masih dijerat rasa penyesalan, wajahnya kaku untuk membiaskan setetes senyuman. Tiba-tiba….
“Gusti Prabu!” teriak suara yang tidak asing lagi di telinga Sang Prabu.
Rangga Sukma terheran-heran, tapi hatinya berubah bahagia bukan kepalang. Rungkutwesi kembali muncul, entah darimana. Sementara ia muncul tidak sendiri, tangan mulus nan elok memegang tubuhnya. Rungkutwesi ada di genggaman bidadari yang muncul tak diundang di tengah lahar Blumbang Pitu tadi. Tiada ucapan lain selain sejuta terima kasih tak terhingga. Bencana telah tuntas dengan pengorbanan Rungkutwesi.

“Apa yang kau lakukan hingga semuanya berhenti?” tanya Ronggogeni.

“Aku hanya perantara. Yang menghentikan Yang Maha Kuasa.” Jawab Rungkutwesi.

Dua bidadari cantik segera menyerahkan Tombak Rungkutwesi kepada Tuannya. Prabu Rangga Sukma menerima dengan decak kagum.

“Gusti, sekembalinya diriku ke genggaman Sinuwun. Hamba sekaligus menyerahkan Kembang yang selalu membayangi pikiran setiap malam. Mereka adalah kembang Anggrek Chandrawulan yang panjenengan maksud.” Kata Rungkutwesi sambil menunjuk ke arah dua bidadari di belakangnya.

Prabu Rangga Sukma tak mampu berucap.

Alfath Wisnuwardhana

Malang, 01 Februari 2018

Please follow and like us:

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *