Salamku teruntuk Pagi

Bising kota tua kerap tak aku suka
Imajinerku bermain, pada teriak pejantan subuh
Merayu-rayu pada bisik kantuk dini tadi
Ramai juga damai bila ku gapai
Dalam seronok jantung kota kalbuku gondok
Bising udara tak lagi bahkan terangnya audio senyap

Salamku tuk pagi
Hapus semua kisah tak terperi
Pada hujan, pada gersang tak bertepi
Apalagi pada penghuni pagi teramat pusing
Tentang realita anugerah teranggap gerah

pixabay.com

Salamku pada pagi
Untuk kicau pipit depan gereja
Juga untuk mentari tiada lelah
Aku masih sendiri pada pikuk kota juga imaji desa
Alam hijau dalam bayang
Semilir sibak dedaun berdamping kecak aliran jernih
Pagi begitu riang tanpa gersang
Penghuninya pun ramah tak lagi serakah
Pagi sabarlah, tak lama kembali
Hadapi problema setiap rekat
Hingga pagi malu tuk tampak
Hanya mentari dari barat usai kelibat fana
Malam terpaksa mengacak damai yang tak ramai
Penghuni kalang kabut hinggau risau
Penuh parau kau berdendang pilu

Rizkha N. Latifah

Purwaka Bulan, 5.36
01 Februari 2018

Please follow and like us:

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *