Sebuah Tanya dari Sampah Kota

Manakah yang lebih sakit ketika usiaku menginjak tujuh tahun lalu diberi pilihan ikut Ayah atau Ibu?

Manakah yang lebih sakit ketika di antara keduanya tak bisa kupilih sebab aku tak mau berpisah?

Manakah yang lebih sakit ketika seorang bocah diberi sebuah balon lalu balon itu melayang sebab pertengakaran Ibu dan Ayahnya?

Apa kekasihmu lebih berarti dari seorang Ibu yang kau anggap, Babu?

Apa cintamu sepenuhnya untuk kekasihmu dan tak ada sisa untuk Ayah yang kau anggap, Budak?

Buka matamu, Saudaraku!
Ada banyak orang yang mati sepi sebab tak pernah mengecup cinta dari Ibunya
Ada banyak orang sekarat sebab tak pernah dilindungi tubuh Ayahnya

pixabay.com

Apa kau masih bisa merasakan keduanya?
Beruntunglah kau daripada aku

Aku hanyalah sebutir sampah yang tersesat dari kumpulannya
Sedang engkau?
Sebutir mutiara yang masih utuh di dalam cangkangnya

Lihat sekelilingmu, Saudaraku!
Semua yang kau lakukan hanya sebuah ketiadaan
Ketiadaan yang membunuh perasaan orang tuamu
Semua suasana yang orang alami kau anggap nasib semata
Lalu kau membiarkan mereka mati tanpa kafan menyelimutinya

Lihatlah, Saudaraku!
Dengan tempurung otakmu itu!

Wisnu Maulana Yusuf 

Yogyakarta, 2018

Please follow and like us:

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *