Hai, Sobat

Muda usia semasa itu
Pencitraan tak lagi dia hiraukan
Dia, nona tenar atas nada tenornya
Masih pada memoar ciliknya
Ruang waktu mengatakan tentang dia
Tanpa menolak putaran cerita di kornea begitu jelas

Nona cilik tersedu
Pada kebisingan pelik peninggalan walidainnya
Berusaha menghapus dengan sejuta impi
Kembali pada jumpa perdananya
Sahabat bernama Dina, gadis teduh
Yang dikenal semasa memunggut ilmu
Perapian, pembiruan, menyala biru
Nona cilik tak lagi sembilu
Pada sobatnya hilir mudik segenap perih disitu
Tercurah dan beradu argumen

pixabay.com

Kali ini, ribuan jalan penuh onak
Perlu ikhtiar untuk bertengkar kembali
Apalagi barang sepersekian sekon bersua
Hingga pada sobat dia hanya ingin berkeluh
Atas penat yang tak pernah hebat
Atas akibat yang dia singgah sekelibat
“Hai, sobat”
Ingatkah kau pada lingkaran asa kita?
Buliran perih kian berderai
Berharap sedih tak lagi mengejar
Atas kepiluan sendiri
Kali ini alunan tenor semakin senior
Rupiah tinggi bukan hirauan kembali
Hanya sobat dia ingin kembali pada-Nya
Bertaubat dalam peluk sobat

Rizkha N. Latifah

Selasa Menyapa, 5.08
30 Januari 2018

Please follow and like us:

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *