Ajari Aku

Ini dunia yang sunyi, gelap dan tak ada kebebasan bergerak. Hanya ada satu celah, kelak dari sanalah aku keluar dari dunia pengap ini lantas menjadi pribadi baru. Pribadi yang tak tahu-menahu perihal hidup. Bagaimana harus menjalaninya atau sampai kapan ditakdirkan ada.

Kau, terima kasih telah menjadi tempatku selama ini mengawali kehidupan: kelahiran. Barangkali kau tidak menginginkanku, aku paham. Tampak dari perlakuanmu selama sembilan bulan belakangan. Tidak pernah sekalipun kau membelaiku, mengajakku bicara. Tapi, lewat sari-sari makanan yang ada di tubuhmu, aku bisa bertahan cukup lama meski pada akhirnya tak sempurna.

Mengapa? Mengapa jika tidak diharapkan, aku tetap kau pertahankan? Jika pada akhirnya, hanya sesal yang menyesaki dadamu sebab pernah menanamku dalam rahimmu? Oh… Inikah kelahiran itu, yang membawa kebencian juga anggapan tak menyenangkan bagi orang lain? Haram… Haram… Anak haram jadah!

Dari balik selimut kandungmu, aku bisa mendengar kata-kata itu. Bagaimana kau pun mengataiku sebagai anak haram jadah tanpa ayah. Bahkan sampai memukulku tapi justru kau yang merasakan nyeri itu.

Sampai pada waktunya, aku melewati celah itu, membuatmu sekonyong-konyong merasakan sakit teramat sangat. Kudengar kau tak cuma melenguh, tapi berteriak kencang dan tangisku pecah memenuhi ruangan. Usai itu kau menarik napas lega sementara aku meraung di gendongan orang lain. Aku kehausan dan ingin segera merasakan dekapmu.

Sayang beribu sayang, saat aku menggeliat manja, coba menarik perhatianmu, kau diam saja. Aku tidak bisa membedakan apakah kau kecewa atau bahagia? Belum pernah kujumpai seringai wajah sepertimu, atau laiknya bidan yang bibirnya merekah-rekah kala menimangku.

Tapi, bolehkah kusimpulkan bahwa kau memang tidak menginginkanku? Sejak dalam dunia kandungan, kau tidak memperlakukanku sebagaimana mestinya. Di sana, masih kuingat, aku dalam kebisuan. Sunyi menyayat, hanya airmata dan lelap.

Bilakah kau telah mampu menerimaku suatu saat nanti, ajari aku mengenal kesejatian hidup ini. Bagaimana cara mencintai dan membiakkannya. Seperti yang seringkali kudengar semasa dalam dunia awalku, “Cintai dia! Bagaimanapun juga dia anakmu!”

Entah siapa yang berkata begitu, bukan seorang saja tapi lebih dari itu. Mengucap hal yang sama. Cinta…

pixabay.com

Bagaimana aku harus memanggilmu sementara sekalipun kau tidak mengajakku bicara. Tolong, ajari aku mengenal hidup ini. Cara bicara, atau hal-hal lain yang selayaknya kudapatkan seperti kelahiranmu dulu. Bukankah dulu, kau pernah menjadi sama seperti diriku? Kecil, tak mampu berbuat apa-apa, hanya bisa menangis bila kehausan atau pipis di celana.

Maukah kau mengajariku banyak hal itu? Sebagaimana tugasmu yang Tuhan titahkan untuk menjagaku? Aku hanya ingin kau ajari apa saja, agar aku mengerti dan memahami, mengapa aku dijadikan ada. Dan untuk siapa aku lahir ke dunia?

Kharisma De Kiyara

Magetan, Januari 2018

Please follow and like us:

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *