30 Hari Bersama Senja: II

Sore beranjak naik, membisu di pelataran ragu. Senja dan aku adalah denyut-denyut nadi yang bertemu, kami pergi lalu membicarakan mimpi-mimpi. Suasana memang tak pernah dapat berbicara, tetapi ia bisa menyimpan rindu dan titik-titik air matamu.

Jika hari ini kau kecewa dengan harapan yang kau buat sendiri, kau bisa bertanya pada malam, mengapa matahari tak pernah mau menemuinya, mengapa hanya ada bulan di hidupnya.

pixabay.com

Berdirilah hingga warna jingga melembayung merah, jejak-jejak langkahku basah di pelatarannya. Kau akan menemukan uap-uap rinduku, aroma rintik seduku, dan nama kekasihku.

Dingin melenyap saat kau datang bersama angan, lelah cecarku padamu yang selalu berkata jangan. Aku tak bisa! Deru harapan selalu berembus menelanjangi keraguan, dan aku sudah terlanjur mengenal keikhlasan.

Senja dan sore adalah kisah yang berbeda, namun satu waktu ada untuk mengenang keduanya. Pada sore kudatangi senja, pada senja kutemui sore.

Kujajakan ribuan bait puisi untuk mengemasi terik sorenya, lengang sejenak lalu lepas mentari tenggelam bersinggungan malam aku terhenyak. Buku-buku tergeletak menanam pemahaman, kuas-kuas tersapu menggambar masa depan, lihat kan, aku masih punya harapan.

Bulan dan bintang menemani malamku di kali pertama. Mereka tercerai membentang pentas drama. Bibirku habis membisik do’a. Aku tenggelam dipeluk barat, namun jemariku masih mengenggam tekad-tekad itu.

Rinduku padamu akan kupertahankan…

Dani Hestina P

Kulon Progo, 27 Januari 2018

Please follow and like us:

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *