Sebuah Sajak: 30 Hari Bersama Senja I

Aku bertutur pada senja yang bersahaja, alangkah manisnya bait-bait puisi yang di persembahkan kepadamu. Sajak-sajak itu di alirkan di pelataran jingga, membias cantik memancarkan aroma rindu, di sentuh oleh tangan-tangan yang basah oleh penantian.

Sebelum malam tiba, aku ingin bercerita, tentang ingatan yang terserak bercampur derita.

pixabay.com

Seminggu lalu adalah hariku di tebas pilu. Ada orang-orang yang di gaji untuk menyakiti, ada orang-orang yang di upah untuk lontaran serapah, mereka tak ingat lagi pada hidup dan mati. Tak peduli lagi pada Tuhan yang mengadili. Mereka tak mengerti lagi apa arti denyutan nadi.

Nama-nama mereka tercetak di telapak kaki hati yang sakit, dengan gunungan benci mereka bersabda akan kubalas perbuatanmu suatu saat nanti.
Ya! Mereka menyakiti dengan aksara. Lemparan bunyi yang mereka ucapkan merusak dinding persembunyian. Lalu tokoh fiksi yang diciptakan menjauh dari keramaian, pergi dari panggung yang pentasnya belum usai.

Sekarang kita berjarak.
Tak bisa kubedakan lagi mana benci mana dirimu. Tak bisa kupetakan lagi mana nyata mana semu. Dan aku berdialog dengan serpihan masa lalu yang tersisa, menyobek rindu yang hanya akan membuatku tersiksa.

Di tepian laut saat senja meremang, aku ingin ikut bersamamu saja. Menjemput malam dan bertemu bulan. Aku ingin mengulang waktu, berlari ke potongan bulan yang lalu.
Sejeda saja, aku ingin memperbaiki.
Aku tak ingin hatiku mati, aku tak ingin sakitku abadi.
Aku ingin kemasa seminggu lalu, aku ingin mengucapkan kata yang harusnya mereka pahami,
rinduku sama sekali tak keji, jadi janganlah kalian memaki.

Dani Hestina P
Kulon Progo, 25 Januari 2018

Please follow and like us:

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *