Kue Luka

Sore itu ibu hampir melewatkan
Yang kesekian kalinya
Rencana ibu mengajakku membuat kue luka
Rencana yang disepakati tiap bulan dalam setahun

Waktu itu ibu hampir jatuh ke ranjang setelah sempat menggerayahi sepreinya yang setia,
Kemudian kutarik paksa dan kugendong ke dapur
Bagai rentenir yang menagih hutang mangsanya.

Aku siapkan,
Mulai dari panci harapan, mangkuk perasaan, tepung-tepung kemarahan,
Dan yang lain, yang serba luka-luka.

“Sekarang, ibuku sayang,
Bimbing aku dengan resepnya,
mulai dari mana kue luka ini di buat?”.

pixabay.com

Kemudian ibu menyiduk satu irus penuh air mata
Dari sumber air kesedihan;
Melimpahkan tepung dari mangkuk harapan yang kerap ia tonjok tiap ngamuk karena tipuan;
Dan telor yang ia pecahkan bagai luka yang tak kunjung bermaafan.

“Nduk, sekarang giliranmu yang mengocok adonan.”
“Kalau sudah, loyang itu kamu cor dan lemparkan saja ke oven. Ibu sudah nggak tahan.”

Kemudian ketika malam kami sajikan kue luka itu, berdua
Meratapi dengan doa sebelum makan.

Syam
20 Januari 2018

Please follow and like us:

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *