Sisa Perasaan

Sesaat beribu-ribu langkahku menjauh darimu,
entah kenapa kudengar rintih tangismu memanggil namaku.
Namun, karena penyesalan yang terukir atas namamu, aku enggan berbalik langkah.

Sesaat lipatan-lipatan kenangan indah bersamamu mulai timbul di permukaan malamku,
saat itu pula kututup rapat-rapat hingga tiada celah untuk kutengok kembali wajahmu.

pixabay.com

Namun.. Aku hanya seorang biasa, yang tak berdaya melawan titah Tuhan ku.


Malam itu, tanpa kuduga jauh sebelumnya,
mendadak kita berpapas wajah dan satu persatu kata-kata ini mulai terjatuh di malam kita bersua.

Sore tadi!
kudapati engkau sedang makan denganku, di meja yang sama

Ilham Ubaidillah

Semarang, 20 Januari 2018

Please follow and like us:

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *