Samudra Pada Bus Kota

Apakah kamu percaya bila kuceritakan tentang keadaan lingkunganku yang tak lazim ini? Samudra sempit dan berbatas bentuk persegi panjang kurang lebih panjangnya sekitar 20 meter, lebar 5 meter, tinggi 10 meter. Aku yakin kamu mengernyitkan dahi sembari berpikir keras bahwa apa yang kukatakan ini hanyalah mengada-ada. Asal tahu saja ya, semua benar adanya.
Sebagai lumba-lumba dengan tubuh besar dan bibir berbentuk moncong, adalah hal lumrah bila aku bernapas dengan paru-paru. Sesekali, aku menenggelamkan diri lantas muncul di dasar permukaan laut demi menghirup udara yang sama denganmu. Dan di samudera inilah aku hidup. Mendengar kata samudra, kamu pasti membayangkan lautan luas yang jauhnya tak tertempuh hanya oleh pandangan, bukankah begitu? Tapi yang kukatakan di atas adalah benar, samudra tempat kediamanku, hanya berbatas persegi panjang.
Sudah hampir lima tahun aku berada di samudra ini. Orang-orang menyebutnya bus. Benar, samudraku berada pada badan bus kota yang mengantarkan penumpang jurusan Surabaya sampai Jogja. Bagaimana? Masih tidak percaya juga?
Lain hari datanglah ke terminal, tempat datang dan keberangkatanku. Tentu saja terminal-terminal yang menjadi tempat singgahku sejauh kota Surabaya sampai Jogja. Untuk jamnya, maaf aku tidak bisa memprediksikan kepastian, hanya saja bila beruntung kita bertemu, kalian boleh menumpang di bus ini, atau samudraku.
Di dalam bus ini pula kalian bisa bermain denganku, kita berenang, menyusuri kedalaman samudra dan melihat-melihat keindahannya. Populasi terumbu karang di sini sudah jauh dari kata indah, banyak penumpang yang merusaknya. Kadang, seenaknya mereka tidur pada terumbu karang itu, membuang sampah seenaknya bahkan tidak jarang ada orang mabuk perjalanan memuntahkannya di samudra sempit ini.
Jangan khawatir, aku dan adikku akan menghibur kepenatanmu sebab suasana tak menyenangkan ini. Sehingga perjalananmu tidak akan terasa membosankan. Di sini, aku tinggal berdua dengan adikku. Dolphano namanya, sedang namaku adalah Dolphinus.
Kami diciptakan memang untuk menghuni tempat ini. Tempat yang menciptakan keterasingan bagi mamalia sejenisku. Bagaimana tidak merasa asing? Tidak ada orang tua, bahkan kami tidak mengenalnya. Saudara? Ah, sudah kubilang kan, aku hanya hidup berdua dengan adikku, Dolphano.
Adikku pendiam, ia tidak pernah mengajak para penumpang bercakap-cakap. Ia tidak mempersilakan mereka untuk menikmati perjalanan. Aku tahu, Dolphino tidak berharap ada di sini. Ia sudah bosan dengan kehidupan yang penuh kehingaran seperti ini.
“Kak, aku ingin melihat samudra yang sesungguhnya,” katanya suatu hari padaku.
Dengan sabar kutabahkan hatinya, dan sering kukatakan ini berulang kali padanya. “Sama saja dengan tempat kita ini Phino. Sama-sama ada airnya.”
“Kudengar, samudra yang sesungguhnya teramat luas. Ini seperti penjara bagiku. Hanya berputar-putar di dalam bus ini, melihat pada manusia dari berbagai sisi. Lebih-lebih, aku tidak tahan melihat para penjual asongan itu, Kak!”
Dolphino memang suka terlihat termenung pabila seorang nenek atau laki-laki berusia renta menjinjing termos dan menjajakan minuman dingin. Atau orang-orang yang tidak lagi bisa dibilang muda tapi belum cukup tua dengan lantang menawarkan apa saja yang dipanggulnya. Mereka itu seperti pasar berjalan, benar kan? Ya, pasar dalam sebuah baskom kecil. Nasi, camilan, tissue, kipas, mainan, permen dan segala macam lain yang tidak bisa kusebutkan.
“Kak, bisakah kita pergi saja dari sini? Aku lelah melihat ketidakadilan ini!”
“Tidak adil bagaimana, Dik? Ini adalah kehidupan mereka. Sudah takdirnya yang harus dijalani. Dan untuk menjadi lebih baik mereka bisa mengubahnya sendiri. Dengan usaha tentu saja.”
“Kau terlalu mudah bicara, Kak. Kenyataannya tidak semudah kata-kata terlontar dari bibirmu!”
Aku tidak tahu apa ada dalam pikiran Dolphino. Kadang di sepanjang perjalanan ia memerhatikan lalu-lalang lain. Mobil-mobil berkelas yang mewah, lantas ia bandingkan dengan kehidupan di antara kami. Di terminal, di bus kota.
Suatu hari, kami sedang berhenti di terminal Maospati usai menempuh perjalanan kurang lebihnya lima jam dari Surabaya, beberapa bus kota tampat berjejer, dua di antaranya diberi garis polisi akibat kecelakaan. Yang lain berderet menunggu antrian belakang.
Aku sudah tidak asing berada di sini, sudah seringkali singgah. Terminalnya lebih kecil dari terminal lain yang pernah kusinggahi. Di sana, kulihat seorang pedagang asongan menangis sambil memangku barang dagangannya.
“Ada apa dengan wanita itu, Kak?”
Aku mengedikkan bahu, “Entahlah!”
Samudraku melaju, kini tepat di depannya. Kupersilakan ia masuk dan kudengar suara sesenggukannya. Entah ada masalah apa pada dirinya, kuharap ia bisa mengatasi semuanya.
Tidak, wanita itu aneh sekali. Ia membagikan seluruh dagangannya. Seluruhnya sampai habis ke penumpang terakhir. Tidak perlu bayar, katanya kemudian.
“Tapi mengapa?” tanyaku pada wanita itu.
“Aku sedang bahagia, Nak. Anakku jadi sarjana kemarin. Dan ini adalah nazarku.”
Dolphino terus memandangi wanita itu sampai bus melaju kencang dan si wanita tertinggal jauh di belakang.
“Tidak semua yang kita lihat adalah yang tampak, Dik.”
Dolphino hanya merenung. Entah dengar kataku atau tidak.
***

pixabay.com

Hari ini, lima Januari, bus ini tidak beroperasi seperti biasa. Segerombolan tikus menyewa bus untuk bertamasya ke sebuah pantai di daerah Gunung Kidul, Yogyakarta. Kamu tahu bagaimana reaksi Dolphino? Ia bahagia tak terkira. Pada akhirnya, ia akan melihat laut atau sebenar-benarnya samudra.
“Aku akan bermain di sana.”
“Bahaya. Kau akan membahayakan kita semua.”
“Tidak. Kita tidak akan terluka, Kak!”
“Tapi mereka? Penumpang kita?”
“Mereka hanya tikus-tikus yang suka menggerogoti saku-saku para manusia. Uang yang mereka dapatkan tak bukan adalah dari hasil penjarahan besar-besaran mereka.”
“Adik.. Sudah berapa kali kukatakan jangan berpikir negatif terus.”
Dolphino bergeming. Ia enggan melirik ke arahku dan terus terpaku ke arah jalanan sembari meliuk-liukkan tubuhnya. Tenggelam lalu muncul lagi ke permukaan.
“Jangan lakukan apa yang kau pikirkan itu, Dik!”
Dolphino tak peduli, suasana hatinya tak tertebak saat ini. Kudengar, tikus-tikus itu sedang mencericit, sebagain terdengar suara ngoroknya. Mengapa Dolphino bisa begitu benci pada tikus-tikus ini? Di bangku paling depan, di belakang sopir, kudengar kasak-kusuk dua ekor tikus. Mereka berbisik-bisik soal anggaran dana yang bisa digunakan wisata sampai ke luar negeri.
Sial! Rupanya ini yang tidak disukai Dolphino. Tahu darimana pula adikku soal kelakuan tikus-tikus ini. Ah ya, namanya saja gerombolan tikus, kenapa aku tidak peka? Seharusnya dari namanya saja bisa kusimpulkan seperti apa mereka.
Samudraku masih melaju, kini sudah memasuki kawasan wisata. Pepohonan kelapa atau nyiur-nyiur mulai terlihat berderet. Dedaunannya berderik pun melambai-lambai seolah-olah menyambut kedatangan kami. Baunya? Ah, amis tapi khas sekali. Bau hangat yang jauh berbeda dari kota. Biasanya aku berkutat dengan debu, asap knalpot juga klakson-klakson. Kali ini lain, suasananya menyenangkan bagiku. Kulihat Dolphino tersenyum, senyum yang lama tak pernah kulihat. Yakin, ia pasti merasakan kebahagiaan yang sama halnya denganku.
“Baiklah. Kau siap?”
“Dik, jangan serius melakukan apa yang ada di pikiranmu!”
Masa bodoh sekali adikku itu, ia terus saja berenang ke depan. Membuat bus hilang kendali dan terus merangsek ke depan. Jauh ke depan. Sampai pada akhirnya…
Tuhan! Beginilah rasanya menghirup udara di luas lautan. Tak ada noda di udara, polusi tidak ada, segar terjaga. Aku berlompatan, Dolphino kegirangan. Kami melakukan hal yang sama. Semacam atraksi di arena sirkus.
Dari jauh, kulihat tikus-tikus gelagapan tak bisa berenang. Jerit mereka meraung-raung sampai kemudian tak terdengar. Senyap seketika. Hanya buih ombak yang kudengar berkecipak. Beburung terbang bebas, menukik, meninggi lagi. Aduhai, keindahan ini!
Sayang sekali, kenyamanan ini tidak bertahan cukup lama. Semua memandang aneh pada kami. Keterasingan yang kembali kurasakan. Ini adalah awal kehidupan baru di tempat baru. Meskipun sama-sama lautan, sama-sama samudra, tapi, tempat ini luas tak lagi berbatas ruang.
“Kak, lihat ke palung!”
Aku mengikuti Dolphino berenang ke bawah, ke bagian palungnya. Samar-samar cahaya keemasan tak bisa sampai menembus lautan. Hanya berjarak beberapa meter saja lantas kegelapan menguasai. Tapi masih dapat kulihat jelas apa yang ada di sana, mataku sudah mulai bisa beradaptasi.
“Itu!” Kuikuti arahan Dolphino.
Bangkai bus yang sempat jadi kediaman samudraku tampak sebagai satu-satunya benda berwarna putih polos. Cat yang ada pada badannya telah mengelupas. Di badan itu, dulunya, aku dan Dolphino tinggal. Sebagai sepasang adik-kakak dalam samudera bus kota.
Baiklah, mari kita mulai lagi hidup baru, bermula dari keterasingan ini. Sebab dari sanalah segalanya bermula.

Kharisma De Kiyara

Magetan, Januari 2018

Please follow and like us:

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *