Perempuan Di Ambang Perasaan

Perempuan pengagum senja
Rupanya manis tiada tara
Berkelana,
mencari idola

Pria kumuh berwajah desa
Menawarkan diri pada jelita,
Si pengagum senja

Ia menyambangi kediamannya
Berdiri tegap di pintu hatinya,
mencoba bertanya
“Adakah ruang tersisa?,
aku mau terjaga”

Jelita tak mau berkata
hanya diam membidik maksudnya
Sedikit terpedaya
dan mulai membuka mata

“Oh jelita,
bolehkah aku memasukinya?”
merayu tak satu pun dijawabnya
Tetap berdiri dibalik pintunya

Jelita berdoa
dengan wajahnya di bola matanya
“Mengapa dengannya?”
Apa dia jodohnya

Rupa pintu sedikit terbuka
Jelita mulai terpesona
Ibarat tuan ingin menjamu tamunya

Pria hendak masuk hatinya
namun tak masuk dengan segera
“Silakan, Tuan berwajah desa!”
ucap Jelita merayunya
disertai senyum merona

Pria itu diam di hadapannya
Jelita pun mulai tergila-gila
“Silakan, Tuan berwajah desa!”
“Masuklah! karena hidupku begitu hampa”

Dan lagi: didepan pintunya
Padahal sudah terbuka
“Silahkan, Tuan berwajah desa!”
Berdua kan lebih bahagia

Waktu sudah berputar lama
Jelita dibuat terlena ria
Pria tetap di tempat yang sama,
di depan pintunya

“Silakan, Tuan berwajah desa!”
Jelita terus mengharapkannya
“Silakan, Tuan berwajah desa!”
Pria itu menghiraukannya

Jelita pun lelah bertanya
Mengapa tuan mengetuk pintunya

Ziq_alfajr

Cirebon, 18 Januari 2018

Please follow and like us:

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *