Jalan Pulang

Setelah ragamu kering dengan bahan pelampiasan
Tak kau cari kembali hasil sekapan awan yang bergerombol
Di sini boleh dicurahkan tangisan melimpah ruah
Malam semakin malam
Cahaya menyurut dari lima watt menjadi gelap
Tak kau temui pucuk jalan pulang
Sederet garis putih nan papa yang hilang
Tenggelam di antara genangan
Hanya gigil yang memeluk perjalananmu
Gigi depanmu mengatup, berharap ada Ibu yang membukakan pintu rumah
Bukan lagi ia yang tersenyum padamu, tapi hujan yang semakin lebat
Mengarak kedatanganmu hingga kau tertelungkup dalam selimut hangat

Bukankah aku merindukan bermain dengan hujan?

pixabay.com

Katamu berucap sebelum hilang kesadaran.

Shofiyah

Di bawah hujan malam, 17 Januari 2018

Please follow and like us:

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *