Kidung Segara Kidul (III)

google.com

Senopati Kumbang Gading tak banyak bersuara. Tangannya tetap memegang erat pergelangan Mayangsari. Senopati kepercayaan Ratu Kidul itu tidak sedang bercanda dengan kalimat yang dilontarkannya di pasewakan agung tadi. Ratu Kidul telah membuka tabir yang selama ini tertutup rapat, dan kini semua kawula di Segara Kidul tahu. Mayangsari semakin terjerat dalam malu. Tetesan kepiluan membasahi wajah cantik Mayangsari.
Senopati Kumbang Gading menghentikan langkahnya di Sela Gemruyung. Sebuah perbatasan antara Keraton Agung Segara Kidul dengan pendopo para kawula. Tempat yang biasa dijadikan sarang untuk menyusun penyerbuan musuh ataupun penyerangan terhadap wilayah daratan. Sela Gemruyung tak ubahnya taman batu, penuh dengan batu-batu yang sengaja ditata rapi oleh para abdi dalem. Tentunya tak lepas dari yang namanya punden sebagai tempat mengheningkan diri penduduk Segara Kidul.
Mayangsari masih menangis sesenggukan, tangis pilunya tetap tidak dapat meluluhkan Senopati Kumbang Gading yang terbakar kecewa dan amarah. Segala yang telah disampaikan oleh Kanjeng Ratu Kidul mengganggu jiwanya. Didorongnya Mayangsari hingga jatuh tersungkur. Gadis cantik itu terjerembab, tangisnya yang pelan semakin membuat miris.
“Tak kusangka kau tega melakukan itu, Mayangsari! Apa gunanya janji yang telah terpatri sejak lama? Tak sedikitpun kau menghargai diriku!” geram Kumbang Gading.
Mayangsari mencoba berucap di tengah tetes kepiluannya.
“Kang Mas, izinkan aku menjelaskan semuanya. Semua memang salahku. Aku terlalu gegabah. Aku melanggar sumpah setia yang dulu pernah kuucap. Semua dawuh Kanjeng Ratu Kidul tiada yang kusalahkan. Sudah pantas jika aku dipermalukan di hadapan kawula Segara Kidul. Ini memang salahku.”
Senopati Kumbang Gading semakin memerah wajahnya. Giginya gemerutuk, kedua tangannya mengepal tajam. Hawa panas mulai berembusan dari lubang hidungnya. Hatinya sudah tidak karuan, dirinya tak lagi berguna di hadapan Mayangsari. Langit Segara Kidul yang membiru berubah kelabu, pekat menutupi mata hati yang telah ternodai manisnya sebuah janji.
“Aku sudah tenggelam dan kini semakin kau benamkan dalam gelombang kehancuran. Mayangsari, aku tak ingin banyak bicara denganmu!”
“Kakang, tak bisakah kau maafkan semua kesalahanku? Kemana Kumbang Gading yang dulu aku kenal. Kakang aku sudah berusaha menjelaskan semuanya padamu. Nyatanya kau tetap seperti ini.” ujar Mayangsari memelas.
Senopati Kumbang Gading tetap tak peduli. Mayangsari merasa percuma berujar panjang lebar berkata di hadapan Senopati Segara Kidul itu. Tak akan pernah dihiraukan. Berdesir tajam jantungnya saat Senopati Kumbang Gading mengacungkan keris Tunggul Ajinya, kemudian dengan lantang melontarkan sebuah ucapan yang menyambar.
“Segara Kidul wilayah suci. Jika masih ada makhluk hina sepertimu, Gusti Kang Maha Agung akan menghukum semua penduduk di sini. Kau harus binasa bersama janji busukmu!”
Keris pusaka Senopati Kumbang Gading bersiap melaju pada perut Mayangsari. Namun sehelai selendang merah segera menghalau keris haus darah itu. Keris Tunggul Aji terpental dan menancap pada bebatuan di taman Sela Gemruyung. Senopati Kumbang Gading semakin gusar, niatnya untuk membinasakan Mayangsari pupus sudah.
“Beraninya kau menghalangiku!”
Senopati Kumbang Gading menuding ke arah seorang gadis cantik yang berdiri tepat di samping Mayangsari. Gadis itu hanya membalas dengan senyuman sinis. Senopati Kumbang Gading merasa direndahkan sebagai panglima. Wibawanya ikut hancur.
“Kumbang Gading! Redam amarahmu! Wanita tidak untuk dijadikan sebagai ajang penghabisan, bukan pula sebagai pelampiasan amarah.” Ucap gadis penolong itu.
“Kau tidak berhak melarangku! Kau pun hanya kawula rendah di Segara Kidul. Tak pantas mulutmu berucap demikian.” Ucap Kumbang Gading dengan garang.
Gadis penolong itu maju selangkah, mendekat pada Senopati Kumbang Gading. Dielusnya dada Senopati Segara Kidul itu, dengan pandangan yang menggoda. Mayangsari tidak mengerti dengan apa yang dilakukan gadis itu. Dia sedikit mundur, mendekat pada bebatuan di taman Sela Gemruyung.
“Aku tidak ingin banyak bicara denganmu, Kakang.” Ucap gadis itu dengan desahan yang membuat Senopati Kumbang Gading sedikit terlena. Tangannya terus menggerayangi dada Kumbang Gading. “ Aku hanya ingin, jangan sakiti Mayangsari!”
Gadis penolong itu langsung menjerat leher Senopati Kumbang Gading dengan selendang merahnya. Senopati Kumbang Gading kesulitan bernapas. Dia hanya mengerang supaya gadis itu melepaskan jeratannya.
“Hentikan! Keaparat!!” teriak Senopati Kumbang Gading.
“Inilah hukuman yang pantas untuk lelaki yang dangkal pikirannya!” sahut gadis itu sambil terus menjerat leher Senopati Kumbang Gading.
Mayangsari meminta pada gadis itu agar melepaskan jeratannya. Namun, justru gadis itu semakin mengeratkan selendang merahnya. Gadis itu balik memerintahkan Mayangsari agar segera menyingkir dari Sela Gemruyung. Tanpa bertanya lagi, Mayangsari lenyap dari taman batu Sela Gemruyung.
Senopati Kumbang Gading melayangkan pukulan pada tangan gadis itu. Selendang merah yang menjerat terlepas dari tangan. Gadis itu sedikit merasakan sakit, sakit yang menjalar hingga ke seluruh badan. Kesaktian Senopati Kumbang Gading tidak dapat diremehkan olehnya. Gadis cantik segera mengibaskan selendang merahnya.
“Tunggu!” Senopati Kumbang Gading menghentikan niatan gadis cantik itu.
“Kembalilah. Tak perlu kau serang aku. Maafkan aku telah memukulmu.”
Gadis selendang merah itu terheran-heran dengan perubahan sikap Senopati Kumbang Gading. Pertarungan yang hendak memanas terhenti seketika. Senopati Kumbang Gading menghilang bersama cahaya putih, bersinar menyilaukan di mata gadis selendang merah itu. “Aneh sekali. Dia tidak menyerangku dan malah pergi. Padahal selendangku sudah geram ingin menamparnya.” gumam gadis selendang merah yang tak lain adalah Lenggang Manik. Gadis cantik sebaya dengan Mayangsari, yang telah menjadi utusan kepercayaan Kanjeng Ratu Kidul.
************
Alfath Wisnuwardhana
Malang, 30 Desember 2017

Please follow and like us:

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *