Kidung Segara Kidul (II)

google.com

Mayangsari hanya menunduk, suasana pasowanan agung Segara Kidul serasa ruang pengadilan. Tak ada yang berani berbicara sedikitpun, bahkan para kawula tak berkutik meski sekedar menghela napas pun.
Mayangsari runtuh harga dirinya. Roro Kidul menatapnya dengan pandangan teduh berbalut kecurigaan. Sudah terlanjur tenggelam dalam genangan lumpur pekat yang membuatnya tersesat. Roro Kidul tidak memendam benci, namun apa yang dilakukan oleh Mayangsari membawa beliung keburukan, tercoreng wibawa Roro Kidul sebagai penguasa. Entah, dosa dan salah apa sehingga Roro Kidul sampai membuat Mayangsari malu di depan kawula Segara Kidul yang lain.
“Segara Kidul punya hukum. Segara Kidul punya tata aturan, tidak berbeda dengan alam manusia. Mayangsari!”
Roro Kidul sedikit membentak pada andahannya itu, yang terbilang cukup cantik di antara kawula lain dan menjadi salah satu kembang Segara Kidul.
“Ampun beribu ampun, Kanjeng Ratu. Hamba tahu semua yang hamba perbuat adalah buah dari dangkalnya jalan pikiran hamba. Hamba bersedia nampi hukuman panjenengan, Kanjeng Ratu.”
Mayangsari mencoba mengambil hati Roro Kidul, namun kali ini sinuwunnya sedang tidak membuka hati. Sia-sia segala ampunan yang ia mohonkan. Ratusan kawula memandangnya dengan pandangan benci yang menusuk, berambisi ingin segera menghempaskannya dari Segara Kidul.
“Pagar batas ingsun dirikan, sampai hatimu menerjangnya. Apa tidak kau pikir terlebih dahulu?! Ingsun memberimu kebebasan tidak untuk dibuat seenaknya!”
Telinga Mayangsari bergetar, sabda pandhita ratu tan kena wola wali. Dawuh Kanjeng Ratu Roro Kidul begitu menusuk hebat. Nada bicaranya tidak ditinggikan, tak juga terlalu membentak. Namun, Mayangsari justru semakin memerah wajahnya menahan malu. Betapa hina makhluk sepertinya masih bernapas di bawah naungan penguasa Segara Kidul yang agung itu.
“Teruntuk kalian semua. Apakah tak ada satupun yang mengingatkan Mayangsari? Apa memang sengaja kalian biarkan dia menerobos ranjau hukum di sini?!”
Roro Kidul memandang para kawulanya satu persatu. Semuanya membisu, wajah-wajah makin tertunduk. Para kawula amat terpukul. Lebih-lebih Kumbang Gading. Dia tak berani menatap sinuwunnya. Dirinya ikut merasakan malu, namun lebih parah dibanding kawula yang lain. Roro Kidul menajamkan pandangan pada Senopati andalannya itu.
“Kumbang Gading.” Roro Kidul menyebut nama yang begitu terkenal ditelinga para kawula.
Pasowanan makin mencekam.
Dinding-dinding Keraton Kidul terasa runtuh menimpa tubuh Kumbang Gading. Sebentar lagi, Kanjeng Ratu Kidul akan menyematkan tanda peringatan untuknya. Peringatan untuk lebih berbenah diri. Jelas, Kanjeng Ratu akan mengaitkan Kumbang Gading terhadap apa yang diperbuat Mayangsari.
Kumbang Gading beranjak sedikit ke depan, kemudian menyembah di hadapan Roro Kidul. Aroma sejuta melati menusuk hidungnya. Dadanya berdesir amat tajam. Dia mebuang segala pikiran aneh yang menari di kepalanya.
Roro Kidul tidak ingin menghancurkan suasana Keratonnya dengan gegabah penuh amarah. Sedikit ucapannya selalu dapat dimengerti oleh para kawulanya. Samudera membiru harus dijaganya, menghalau agar tak setetes pun air laut ternoda oleh tangan-tangan berlumur dosa.
“Ingsun harap kau bisa mengerti, Senopati Kumbang Gading. Siapa yang kini menunduk di samping Songsong Kencanaku, menjadi tanggung jawab besarmu. Kau bukan orang tuanya, bahkan terlahir tidak sedarah. Tapi, ingsun tahu kemampuanmu.”
“Sendika dawuh. Hamba terima segala titah Kanjeng Ratu.” sembah Kumbang Gading.
Roro Kidul membalas dengan senyum, Senopati Kumbang Gading menghaturkan sembah, kemudian mundur selangkah. Dipandanginya Mayangsari yang terus menunduk terbebani perasaan bersalah.
“Mayangsari, dawuh Ratu juga dawuh ingsun. Ikut denganku!” perintah Kumbang Gading yang dengan segera menyeret Mayangsari keluar dari pasowanan Keraton Kidul. Raut mukanya merah padam berhujam amarah.
“Jangan ada lagi yang seperti itu. Ingsun ingin ketentraman dan kenyamanan bagi seluruh kawula. Janganlah kalian nodai dengan perilaku tak berbudi.” titah Roro Kidul.
************

Alfath Wisnuwardhana
Malang, 26 Desember 2017

Please follow and like us:

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *