Arjuno Merindu (VIII)

Hari masih pagi, kabut masih menyelimuti. Udara dingin masih terasa menggigit tulang. Bagaskara, Respati, Wulandari dan Arumsari sudah bersiap untuk sebuah perjalanan jauh dan memakan waktu yang cukup lama. Perbekalan seadanya mereka bawa untuk memenuhi kebutuhan selama di perjalanan.
Bagaskara membuka pintu rumah, lalu menyapu pandangan ke sekitar rumah. Nampak perkampungan yang masih sepi sebab penduduknya belum beranjak dari peraduannya.
“Tak perlu menunggu matahari bersinar, mari kita berangkat.”
Keempat orang itu mulai meninggalkan rumah di tengah pematang kebun itu. Sejatinya itu adalah rumah singgah yang mungkin nanti tak akan ditempati kembali. Namun bagi orang seperti Arumsari justru masih ingin berlama-lama di tempat itu.
Kali ini adalah awal lembaran baru baginya. Arumsari menapaki jalan golongan putih yang bertujuan untuk menolong sesama serta membebaskan rakyat dari penderitaan yang berkepanjangan. Pertemuannya dengan Wulandari telah merubah gelagat jahatnya.
Langkah empat orang itu mantap beriringan. Bagaskara di depan karena ia yang paham jalur di wilayah itu. Mereka berjalan menuju arah matahari terbenam.
Satu tujuan awal Bagaskara adalah untuk mencari dan menemukan wrangka dari kerisnya yang terpisah. Namun belum tercapai keinginannya, permintaan Respati dan Wulandari keburu menimpa pundaknya. Baginya itu bukan masalah, justru suatu kehormatan baginya jika pendekar sepertinya ikut andil dalam meredam prahara kadipaten.
“Kita kemana dulu?” bertanya Wulandari memecah kesunyian.
“Kita ke Gunung Panderman dulu, gusti. Saya harus menemukan wrangka dari keris ini, dengan pertemuan keduanya maka kadigdayan pusaka ini akan tampak.”
Wulandari manggut-manggut. Hatinya masih berharap besar pada Bagaskara untuk bisa membantunya dalam memadamkan api pemberontakan di kadipaten Purwa Kencana. Mungkin sekarang pihaknya berada pada pihak Pandawa yang terbuang dari Astina. Sedangkan musuhnya di pihak Kurawa telah menguasai Kadipaten dengan sejuta keangkuhannya.
Arumsari tak banyak bicara. Dia masih saja mencuri pandang terhadap Bagaskara semenjak awal ia bertemu pendekar Gunung Malang itu. Entah kenapa kehadiran Bagaskara begitu mengusik. Selalu saja ingin memandang, tiada rasa jemu ataupun bosan.

Perjalanan masih belum tuntas. Cakrawala masih dipenuhi gumpalan putih yang menghias. Keempat pengembara itu melewati perkampungan yang nampak sunyi. Jalanan masih sepi, belum banyak terlihat orang berlalu-lalang.
“Kampung ini nampak sepi sekali. Tak ada bedanya dengan pemakaman” ucap Arumsari.
“Maklum, mendung menyelimuti membuat orang enggan menampakkan diri” sahut Wulandari sambil menyapu pandangan ke sekeliling kampung.
“Bukan soal mendung. Kita telah memasuki wilayah Pakutukan. Kita harus hati-hati, disini masih hidup seorang perampok yang ditakuti di jagad Malang ini” terang Bagaskara.
“Hati-hati itu perlu. Jika dia datang, kita hadapi bersama” sahut Respati dengan mantap.
Langkah keempat orang itu terhenti setelah munculnya gumpalan kabut putih yang menghadang. Sekelebat bayangan mengitari keempat orang itu. Bagaskara meminta yang lain supaya tetap tenang.
Bayangan itu berhenti, tampak seorang berwajah seram mengenakan baju serba coklat. Ikat kepala hitam, rambut sedikit menggimbal. Sebuah tombak runcing tergenggam erat di tangan kanannya.
Di lehernya melilit kalung hitam disertai tengkorak di bagian tengahnya. Alisnya tebal dan mengernyit, sinar matanya menggambarkan kekejaman yang tak sedikitpun memancarkan pandangan manis.
“Kau pemimpin rombongan ini?”, bentak orang itu dengan nada tinggi.
“Kalau benar, apa maumu kisanak?” sahut Bagaskara.
“Bedebah! Maut ternyata tak kunjung datang menjemputmu. Kini jemputlah ajalmu!”
“Kau ini siapa? Tiba-tiba saja meminta nyawaku melayang. Apa kau malaikat?” sahut Bagaskara sambil terkekeh.
“Keparat!”
“Kau ini tak punya nama? Dari tadi aku bertanya tak kau jawab”
“Sarpo Buntoro”
Mendengar nama itu, Bagaskara teringat sebuah tragedi kelam di Sendang Krabyakan beberapa tahun silam. Dimana Andini, adik kandung Sarpo Buntoro tewas mengenaskan di tangannya.
Sarpo Buntoro adalah salah satu pemimpin pasukan Gagak Ludro, kawanan pendekar golongan hitam yang menguasai wilayah Pakutukan.
Sejenak dia terdiam memandangi Sarpo Buntoro dengan tatapan tidak senang. Begitupun dengan Sarpo Buntoro, api dendam menjalar di hatinya. Bagaskara agaknya membangkitkan suatu ingatan pahit pemimpin kawanan Gagak Ludro itu.
“Kau saudara Andini, bukan?”
“Tidak salah lagi. Aku adalah saudara Andini yang terbunuh karena ulahmu. Kini kau ada di wilayahku. Kuat benar nyalimu”, jawab Sarpo Buntoro dengan amarah yang memuncak.
“Hehh! Menagih hutang nyawa padaku sama saja kau bermaksud menyusul adikmu”
“Keparat kau Bagaskara! Hyaa”
Sarpo Buntoro merangsak maju, menyerang Bagaskara dengan tombak yang siap menghunus. Bagaskara cepat menghindar, ia menghindar ke kanan lalu berbalik dan memukul tengkuk Sarpo.
Dasss !!
Bukkk !!
Pertarungan menjadi panas, berulang kali Tombak Sarpo menyentuh kulit Bagaskara. Namun bukanlah suatu serangan berat baginya, mungkin Sarpo Buntoro ini sedang ingin bercanda dengannya. Begitu pikir Bagaskara.
Hyaaa !!
Tombak runcing itu terus saja bermain lincah di tangan pemimpin Gagak Ludro itu. Lama-lama Bagaskara kesal meladeni Sarpo. Membuang waktu dan tenaga saja.
Belum selesai pertarungan Bagaskara dengan Sarpo Buntoro, muncullah gerombolan rampok andahan Sarpo Buntoro. Dengan pedang terhunus, mereka menyerbu tiga orang pengikut Bagaskara. Terpaksa Respati maju meladeni gerombolan itu.
Arumsari menarik tangan Wulandari, diajaknya permaisuri Jayeng Kusuma itu mengamankan diri dibalik rimbunan pohon pisang. Arumsari merasakan gatal di tangan dan kakinya, gatal ingin menghabisi kawanan perampok itu. Namun ia tahan hasratnya, dia harus menjaga gusti Wulandari.
***********
Bagaskara masih berhadapan dengan Sarpo Buntoro. Sama-sama kuat dan tangkas. Namun satu sabetan tombak berhasil melukai lengan Bagaskara. Disusul dengan tendangan keras menghantam perutnya, sehingga ia terlempar beberapa depa.
Bagaskara cekatan, tak menghiraukan luka di lengannya. Sarpo Buntoro tak bisa dianggap enteng untuk kali ini. Diambilnya keris yang terbungkus mori putih itu. Diacungkannya tepat di hadapan wajah Sarpo Buntoro. Pandangan Sarpo Buntoro menjadi kabur seketika, Bagaskara tak nampak di matanya.
Bukk !!!
Crasss !!
Bagaskara menendang punggung Sarpo Buntoro, lalu menampik tangannya. Tombak di tangan Sarpo Buntoro melambung ke udara. Bagaskara mengacungkan kerisnya, Tombak itu terseret daya dari keris milik Bagaskara. Secepat kilat ujung tombak itu berbalik menembus kepala tuannya.
Aaarrggghhh !!!!
Sarpo Buntoro menjerit keras, matanya melotot mulutnya menganga lebar. Beberapa saat jatuh tersungkur, kepalanya yang tertembus oleh tombaknya mengeluarkan asap. Gerombolan Gagak Ludra melihat pimpinannya tewas menjadi kalang kabut. Respati mengambil kesempatan ini, dilepasnya ikat kepalanya. Lalu dihempaskannya hingga kawanan Gagak Ludro itu melarikan diri.
Bagaskara berdiri menatap mayat Sarpo Buntoro. Wulandari dan Arumsari keluar dari persembunyian, mereka terkejut melihat mayat Sarpo Buntoro dalam keadaan mengenaskan.
“Kau pernah mengenalnya?” Arumsari bertanya.
“Tentu. Aku pernah berurusan dengan adiknya. Dia kini menuntut balas atas kematian adiknya beberapa tahun silam”
“Kau hebat, Kang. Kawanan Gagak Ludro yang seganas itu bisa kau hempaskan”
“Tentu tak lepas dari bantuan Respati” sahut Bagaskara sambil tersenyum pada Respati.
Respati tersenyum sambil menarik napas lega.
********

Please follow and like us:

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *