Kidung Segara Kidul (IV)

“Biarkan aku masuk! Bedebah busuk!” bentak makhluk aneh yang tanpa diundang menampakkan dirinya di pintu Parangtritis, pintu masuk paling megah di Keraton Segara Kidul. Makhluk ini nampaknya begitu menginginkan sesuatu dari Kanjeng Ratu Kidul.
“Kanjeng Ratu telah melarang siapapun untuk bertamu hari ini!” tegas Semang, pimpinan prajurit jaga di pintu Parangtritis dengan tombak di genggaman yang siap menghunus.
Makhluk aneh yang memaksa masuk itu semakin geram, prajurit jaga ini dianggap meremehkannya. Sebaliknya, Semang harus tetap memegang titah dari Kanjeng Ratu Kidul untuk tidak membukakan pintu pada siapapun pada saat ini. Bila itu dilanggar, tak hanya dirinya bahkan semua kawula prajurit jaga di tiap pintu akan tertimpa amarah. Semang bergidik ngeri bila mengingat Kanjeng Ratunya murka.
“Pulanglah, sebelum Kanjeng Ratu murka!”
“Bangsat!” makhluk aneh itu beringas dan menyerang Semang.
Para prajurit jaga di pintu Parangtritis kocar-kacir. Mereka mengepung makhluk aneh itu, Semang pun berhadapan langsung dengannya. Makhluk aneh itu menyerang dengan menjulurkan lidahnya. Menampar sukma halus para prajurit jaga hingga berjatuhan. Semang terbakar amarah, tombak runcingnya pun diputarkannya di langit-langit Segara Kidul. Buih-buih lautan menyibak, memancarlah cahaya gemerlapan. Makhluk aneh itu terganggu pandangannya, sedikit mundur selangkah. Sudah tak diragukan bahwa prajurit Kidul pun memiliki piyandhel yang begitu bertuah. Makhluk aneh itu mendekapkan tangannya. Kobaran api seketika muncul dari kedua telapak tangannya. Dengan cekatan, Semang menghunuskan tombaknya. Cahaya yang memancar dari tombak Semang beradu dengan kobaran api makhluk aneh itu.
“Tunjukkan kadigdayan kawula Segara Kidul!” tantang makhluk aneh itu.
Pintu Parangtritis bergetar hebat, kobaran api itu sedikit dapat memukul mundur siratan cahaya dari Tombak Semang. Kilatan cahaya pun bersahutan seiring ganasnya pertarungan. Para prajurit yang lain tidak tinggal diam, membentuk barisan meruncing kemudian menyembulkan percikan air yang dapat menyengat siapapun yang ingin mengacau di Keraton Kidul. Makhluk aneh itu mengerang karena badannya tersengat. Kobaran apinya perlahan padam terserap oleh cahaya tombak Semang.
“Bangsat! Jemput kematianmu!” bentak makhluk aneh itu seraya menuding pada Semang. Kepala Prajurit Parangtritis itu tidak gegabah. Dia memberi kesempatan pada lawannya agar menyerang terlebih dahulu. Makhluk aneh itu menjulurkan lidahnya, melilit leher Semang.
Semang pun tak mau kalah. Meski lehernya terlilit lidah musuh, dengan sigap tangannya pun menarik lidah itu. Dihempaskannya lidah panjang itu kembali pada rongga mulut musuhnya.
“Sampaikan pada Ratumu Roro Kidul! Aku bukan bayi kemarin sore! Tunggu saja, Segara Kidul akan aku buat karang abang!” bentak makhluk aneh itu kemudian lenyap bersama kilatan cahaya merah. Semang dan kawan-kawannya kebingungan. Bila sampai makhluk aneh itu dapat menapakkan kakinya di Wisma Utama Keraton maka murka Kanjeng ratu akan menggetarkan seisi Keraton Kidul.
“Aku harus segera matur pada Kanjeng Ratu.” tegas Semang.
Semang bergegas menyibak buih-buih lautan, menerobos lorong-lorong untuk segera melaporkan pertarungan ini pada junjungannya.
**************

google.com

“Hijaunya samudraku hendak dibuat karang abang. Rangkap betul nyawanya. Sering aku mendengarnya, kau menuturkan demikian. Apakah dari mulut yang sama?” tanya Roro Kidul.
“Benar, Kanjeng. Makhluk aneh itu lagi. Saya pun hingga kini belum mengetahui namanya. Dia memaksa memasuki Wisma Utama dari Pintu Parangtritis. Hamba tidak mengizinkan lantas kecaman itu terlontar dari mulutnya.” terang Semang meyakinkan Ratunya.
“Wujudnya seperti apa?” tanya Roro Kidul.
“Menyerupai bangsa manusia, sempurna. Wajahnya sedikit menyeramkan, bila ia menyerang bukan dengan tangan dan kakinya melainkan dengan menjulurkan lidahnya, Kanjeng.” tutur Semang.
Roro Kidul menatap jauh pada birunya laut yang bersanding dengan hijaunya Keraton Kidul. Pandangannya begitu tajam, alisnya mengkerut. Wajah anggunnya menebar citra angkara. Namun, ia tak serta merta menanggapi apa yang dihaturkan Semang. Makhluk aneh itu tidak asing lagi dipikirannya. Hanya menggertak sejenak, tidak akan meruntuhkan kewibawaannya.
“Pangapunten Kanjeng, sudah berulang kali ia datang dan bermaksud menghancurkan Segara Kidul ini.” ucap Semang penuh khawatir.
Roro Kidul tersenyum mendengar penuturan Kepala Prajurit Parantritis itu.
“Semang, ketahuilah bahwa tiada daya dan upaya. Di atas kekuatan makhluk itu masih ada kekuatan yang lebih tinggi. Kekuatan Hyang Maha Agung yang menguasai jagat raya ini. Sudah, tak perlu kau risaukan makhluk itu. Terima kasih atas semua penuturanmu. Kembalilah pada tempatmu.”
“Sendika dawuh, Kanjeng.” ucap Semang seraya menyembah. Kemudian melangkah untuk kembali pada tempatnya di pintu Parangtritis.
**********
Alfath Wisnuwardhana
Lawang, 03 Januari 2018

Please follow and like us:

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *