Arjuno Merindu (XX)

Adipati Ronggo Tohjiwo mencengkeram lontar di genggamannya. Surat resmi dari Mataram itu amat menusuk amarahnya. Wajah-wajah para pejabat kadipaten dan perwira membeku seketika. Patih Singo Yudho tidak tenang di tempatnya, duduk bersila sambil bersedekap dengan pandangan mata lurus ke depan. Tumenggung Krido Laksono apalagi, bibirnya membisu rapat. Degup jantungnya begitu kencang.
Adipati Ronggo Tohjiwo bangkit dari dampar kencananya, maju selangkah seraya menatap semua kawulanya.
“Lontar dari Sultan Agung Hanyakrakusuma, penguasa Mataram yang terhormat. Hari ini Malang terancam lewat aksara tangannya. Malang diminta tunduk di bawah kebesarannya, bumi Brang Wetan seluruhnya sebentar lagi tenggelam dalam cengkeraman Sultan Agung. Sendyakalaning Kadipaten Malang!” tegas Adipati Ronggo Tohjiwo.
Para pejabat kadipaten dan perwira terhenyak mendengar ucapan Adipati Malang itu. Mengombak wajah Patih Singo Yudho dan Tumenggung Krido Laksono. Suatu surat dengan tulisan yang tak pernah terduga sebelumnya, bahwa Malang yang begitu kuat harus bertekuk lutut beratapkan Mataram. Patih Singo Yudho mengacungkan jari, memberanikan membuka suara untuk membelah ketegangan di balairung itu.
“Pangapunten, Kanjeng.” Ucap Patih Singo Yudho seraya menyembah.
“Apa pendapatmu, Singo Yudho?”
“Bumi Malang memang sedang terancam. Namun, kita tidak bisa serta merta langsung memberontak begitu saja. Kita harus buat perhitungan. Saat ini, memang Mataram begitu kuat. Sultan Agung Hanyakrakusuma adalah keturunan langsung dari trah Demak, tentunya terkait dengan para leluhurnya dari Singosari dan Majapahit. Kita harus berpikir matang tentang ini. Penyerangan tidak bisa dilakukan hanya dengan kedipan mata belaka.”
“Harus berapa lama kita memikirkan lagi? Datangnya surat itu menjadi ancaman dan dipastikan sebagai wujud tantangan terhadap kekuatan Malang ini. Jika kita tidak bergegas, Malang akan hancur lebur disantap kebengisan orang Mataram.” Sahut Tumenggung Krido Laksono.
“Kekuatan kita jauh lebih besar dari Mataram. Saudara-saudara kita yang lain bersedia membantu jikalau Mataram membabad habis bumi kita. Sudah, jangan diperpanas lagi.” Sahut Tumenggung Adiwicitra tiba-tiba.
“Pikirkan dulu! Kedudukan Senopati di Malang ini sedang kumplang. Jika kita merangsak maju, apa bedanya dengan ratusan ayam yang berlari menyerbu kandang serigala!” Patih Singo Yudho mengumbar angin di balairung. Kalimatnya terasa menghentikan detak jantung Adipati Ronggo Tohjiwo dan seluruh pejabat yang hadir di pasowanan pagi itu.
“Kalau demikian kau meremehkan kemampuan sinuwun Adipati, Singo Yudho!” Tumenggung Krido Laksono sedikit geram mendengar ucapan kawannya itu.
“Apa maksudmu, Krido Laksono?”
“Kau pikir tanpa Senopati kita akan kalah? Mustahil. Kanjeng Adipati digdaya kuasa di sini. Tentunya, sinuwun akan memimpin pertempuran nanti.” Ujar Tumenggung Krido Laksono.
“Siapapun bisa ditunjuk menjadi Senopati di sini. Tergantung bagaimana keputusan Kanjeng Adipati nantinya. Jika satu di antara kalian yang terpilih, bersiaplah mengemban tugas. Begitu saja kok debat!” sela Adiwicitra menengahi.
Suasana menegang. Adipati Ronggo Tohjiwo mengangkat tangannya, meminta semua orang untuk diam.
“Perdebatan tak akan menyelesaikan ketegangan.” Ucap Adipati berusaha menenangkan semua orang.
“Sudah lama aku ingin melepaskan diri dari Mataram. Aku menunggu waktu yang tepat, dan tanpa surat ini pun sebenarnya aku sudah berkehendak sejak semula. Kita pertimbangkan kembali, titah Sultan Agung terasa menginjak-injak martabat kita sebagai orang Malang. Tak hanya aku, tentu kalian tak akan rela Malang dibumi hanguskan dengan darah dan air mata. Kedepannya akan aku atur kembali bagaimana penyerangan yang harus kita gencarkan. Aku akhiri pasowanan, kembali ke tempat kalian masing-masing.” Perintah Adipati Ronggo Tohjiwo kemudian beranjak meninggalkan balairung didampingi permaisuri dan para dayang.
Patih Singo Yudho masih hanyut dalam perseteruan dengan Tumenggung Krido Laksono. Tak ada habisnya perang mulut antara dua pejabat tinggi kadipaten itu. Patih Singo Yudho mendapat angin segar, sebab sang Adipati agaknya memikirkan apa yang telah dijabarkannya di pasowanan tadi. Sedangkan Tumenggung Krido Laksono sendiri salah terima dengan apa yang disampaikan kawannya itu.
“Lain kali dipikir, dinalar kalau mau matur. Kau berniat merendahkan derajat Sinuwun Ronggo Tohjiwo dengan menganggap tanpa adanya senopati Kadipaten Malang akan hancur melawan Mataram. Kita berdua ini andalan, sudah bergelar Patih dan Tumenggung tentu kita harus siap diandalkan kapanpun!”
“Cukup! Pasowanan sudah bubar, mulutmu masih saja berkobar. Diamlah sejenak!” Tegas Patih Singo Yudho.
Tumenggung Krido Laksono masih menyiram Patih Singo Yudho dengan rangkaian kalimat serapah yang tak sedap dicerna. Dianggapnya angin lalu, Patih Singo Yudho segera berpaling dan bergegas menuju petirtaan Wendit untuk menenangkan diri.
***********

“Bumiku gemah ripah loh jinawi. Tak kalah dengan Mataram. Sudah tekad lamaku ingin bebas dari cengkeraman keturunan Panembahan Senopati itu. Walalupun dia dikenal shalih dan bijaksana, tapi keinginannya menguasai Bumi Brang Wetan ini harus kuhempas dengan segera.” Gumam Adipati Ronggo Tohjiwo dari balik jendela kamarnya.
Matanya menerawang kedipan bintang pada hamparan dirgantara. Adipati Ronggo Tohjiwo menitipkan segenggam harapan pada lintang-lintang rinonce, sepintas terbayang pertempuran melawan Mataram. Ratusan senjata bersinggungan, tanah bersimbah darah dengan mayat-mayat bergelimpangan. Malang hancur dilumpuhkan, sungguh suatu mimpi buruk yang meniupkan kegelisahan di benak Adipati Ronggo Tohjiwo.
Semburat cahaya putih dari dirgantara melesat turun, menerpa rimbunan melati yang tertanam di tepian taman kaputren. Sayup-sayup terdengar suara orang sedang memainkan pedang menebas angin malam. Adipati Ronggo Tohjiwo mengalihkan pandangan ke taman kaputren yang tampak dari balik jendela kamarnya. Ia bertanya-tanya dalam hati, siapa yang sedang berlatih senjata di tengah malam sunyi seperti ini.
“Siapa yang bermain pedang tengah malam begini, Kanda?” tanya Prameswari yang terbangun karena mendengar suara pedang dimainkan.
“Aku tidak tahu, Dinda. Entah siapa, pakaiannya bukan seperti pejabat atau abdi dalem. Para dayang mustahil memainkan senjata karena tidak punya keahlian. Dan jikalau itu prajurit juga tidak mungkin.” Jelas sang Adipati sambil terus menatap ke taman kaputren.
Adipati Ronggo Tohjiwo dan Prameswarinya masih terus menanti sosok yang memainkan pedang di tengah malam itu. Pandangan mereka tak beralih sedikitipun. Tak mempedulikan waktu yang semakin menapak tengah ratri. Sosok itu masih saja tak menampakkan diri, bahkan permainan pedangnya semakin keras terdengar. Nampak bahwa betapa lihainya sosok itu dalam bersenjata. Adipati Ronggo Tohjiwo teringat akan perseteruan para pejabatnya perihal Senopati di Kadipaten Malang.
Dia pun mampu memimpin pasukan sendiri, namun suatu kebanggaan baginya jika ada Senopati yang membantunya. Meskipun Patih Singo Yudho dan Tumenggung Krido Laksono terbilang tangguh di antara pejabat yang lain, sang Adipati masih ingin menambah lagi pertahanan. Senopati Muda, itu yang dia inginkan. Jikalau sosok yang sedang sibuk dengan pedang itu adalah seorang yang mumpuni maka tanpa pikir panjang akan ia angkat sebagai panglima penyerangan Mataram kedepannya.
Sekelebat bayangan melesat memasuki bilik Adipati Ronggo Tohjiwo. Sang Prameswari segera berlindung di balik punggung suaminya. Sang Adipati siaga, dia meraih keris yang tergeletak di meja di sampingnya. Rasa hati hendak menghunus, Sang Adipati dan Prameswarinya tersentak bersamaan.
“Ngaturaken sembah pangabekti mugi kunjuk. Sayalah yang bermain pedang di taman kaputren itu.”sahut sosok misterius itu sambil menyembah.
Sang Prameswari seketika belari, menghamburkan pelukan pada seseorang yang tengah menyembah di hadapannya.

************
Alfath Wisnuwardhana
Malang, 12 Januari 2018

Please follow and like us:

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *