Bidak Kata, Resah Bahasa

Cerita perjalanan menjelma air panas
Melarutkan buntu malam, luruh pada secangkir kopi
Kita yang barusan datang
Adalah prajurit-prajurit catur yang baru saja pulang.

Meja polos tak bertaplak menguap
“Hilangkan saja semua garis, batas antara hitam dan putih.”
Tapi bukankah perbedaan sesuatu yang kita sukai?
Acapkali kita yang bermain-main dengan memunculkannya.

pixabay.com

Semalam seorang penyair lari terbirit di kedai ini: lari dari sepi dan mati.
Malam di kotanya sedang banjir bandang
Dari sempit dada dan tipis tanggul miliknya
Pergi melarikan tangis.

Malam memang pengasuh dan penjebak
Bagi kita anak peradaban
Hilang ibu, tak tahu di mana ayah.

Hingga nanti pagi akan kembali datang:
Di mana harapan akan diasuh sebagai piatu
Dan mimpi akan dirawat seperti fajar kepada embun
Sejenak kemudian menguap

Kedai kopi mungil ini menjelma rumah
Walau di sini tak ada ibu yang tersenyum ramah
Aku leluasa bermain pada bidak-bidak kata
Mengingat awal perjalanan, dan menggembirakan resah bahasa

 

Saestu_Saget

Nganjuk, 12 Januari 2018

Please follow and like us:

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *