Semusim Setelah Berlalu

Ada tatap hambar yang kau torehkan pada insan-insan polos itu
Dahimu membentuk ombak, geram kau sulurkan
Sudut malam kau abai
Pinta tak kau sanggupi

Ada anai-anai yang kau terbangkan di bawah lampu jalan
Lalu melibasnya tanpa sapa
Dan mereka menunaikan pulang setelah kau tiada

pixabay.com

Musim kedua setelah hujan mulai redup
Petani menelungkupkan gagal meraup untung
Pengayuh becak tetap dengan betis yang mengeras
Pedagang kaki lima menghias trotoar
Sedangkan yang berdiri di meja kantor, melipat tangan; tampak sahaja

Lalu, di mana kau berada?
Saat ombak melarungkan sejarah
Saat panas melelehkan perjuangan
Mungkin kau bersama takdir?
Atau masih merangkai nasib?

Ketahuilah, setelah kisahmu panjang dengan sendirinya. Ibumu mengharap bersua denganmu.

Shofiyah

Jember, 09 Januari 2018

Please follow and like us:

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *