Kecewa

Berpijak pada anak tangga bambu, Rasa memandang juluran tali yang baru selesai ia ikatkan pada rangka atap, Ia tinggal membuat simpul laso pada ujung bawahnya, juga memastikannya kuat untuk menjerat beban lebih dari setengah kwintal. Soal tali temali, ia ahlinya. Ia ingin, sekali ini saja tidak membuat kesalahan. Dan ia yakin bakatnya itu akan berguna untuk mengakhiri ribuan kesalahan yang pernah ia lakukan selama hidup.
Rasa menuruni anak tangga, menuju ujung bawah tali yang terjulur. Setelah membuat simpul laso yang kokoh, ia tersenyum puas. Itu adalah ekspresi asing yang hilang selama puluhan tahun. Ia sudah lupa kapan kali terakhir tersenyum, sekarang tanpa sadar, ia melakukannya. Ironi! Ekspresi tersebut tercipta demi sebuah cara yang ia belum yakin sepenuhnya ingin melakukannya.
Tidak ingin gagal lagi, itu harapan terakhirnya. Ia kurang begitu yakin sebenarnya, mengingat nyaris tak ada harapannya yang terwujud. Oh, ia mengeluh, karena bahkan untuk mati saja ia harus berjuang keras, apalagi untuk mencapai kebahagiaan?
Pada menit-menit terakhir yang Rasa sisakan, ia masih berharap kegagalan menjauh darinya. Ia bosan menerima kegagalan demi kegagalan, membuatnya putus asa. Pengalaman mengajarkannya untuk tidak meremehkan segala sesuatu. Bahkan untuk menjemput ajal pun, ia harus memastikan semuanya siap. Tak boleh ada yang menghalanginya. Maka ia berdoa untuk kali terakhir, semoga tali di depannya tidak mengkhianati usahanya.
Dengan langkah gamang Rasa turun dari tangga, memindahkannya, menggantinya dengan kursi reot, lantas menaikinya. Simpul laso tepat berada di depan wajahnya. Ia tinggal memasukkan leher ke sana, lantas menendang kursi. Setelahnya, ia akan biarkan malaikat maut menunaikan tugas.
Berdebar dada Rasa saat kedua tangannya mengalungkan tali ke lehernya. Ada perasaan takut terselip di antara gunungan putus asa. Ia pejamkan mata, mengusir keraguan. Diingatnya semua kenangan pahit yang tersimpan dalam otaknya. Dirasakannya segala rasa sakit yang telah mencabik-cabik hatinya, berusaha mengembalikan tekad untuk mengakhiri hidup.
Malam terus beranjak, menjemput pagi. Derik jangkrik menegaskan sunyi pada sebuah kamar remang. Embusan angin kemarau mendesak ke segala arah, menelisik ventilasi rumah. Hawa dinginnya tak mampu menghalau keringat dalam tubuh Rasa. Ia terus mengumpulkan keberanian. Napasnya memburu. Matanya terpejam. Hatinya masih belum sepenuhnya mantap.
“Rasa!”
Mendengar namanya disebut, Rasa membuka mata. Didapatinya sebuah sosok sedang melayang tanpa sayap yang tiba-tiba sudah berada di hadapannya, hanya berjarak dua meter darinya. Wajahnya cantik, bersinar keperakan, mengulas senyum tanpa mengurangi ketajaman sorot matanya. Rambutnya tergerai dengan warna keemasan, berkibar-kibar meski embusan angin tak tak terlalu kencang. Sosok itu mengenakan gaun indah, menjuntai sampai menutupi mata kaki. Aroma tubuhnya sangat harum.
“Apakah kau malaikat maut?” Rasa menebak, setengah berharap. Jika benar, ia akan meminta dicabut nyawanya segera tanpa harus menyakiti diri pada tali gantungan. Ia ingin mati dalam posisi terlentang di atas kasur sambil bersedekap.
“Bukan. Kau boleh memanggilku Asa!” Sosok yang mengaku bernama Asa itu turun naik di udara dengan lembut. Senyumnya terus mengembang.

pixabay.com

Rasa yakin makhluk di hadapannya bukan manusia biasa, meskipun sosoknya menyerupai perempuan kebanyakan. Dalam pikirannya, kalau memang sosok itu bukan malaikat, kemungkinan Peri karena bisa terbang. Namun ia meralat dugaannya, karena sepengetahuannya, Peri bersayap dan bertubuh kecil.
“Kamu tidak yakin dengan apa yang kamu lakukan. Jadi, hentikan kekonyolan itu!”
“Jangan ikut campur!” Wajah Rasa menegang. Tangannya teracung lurus ke muka Asa. Ia kesal karena setiap melakukan sesuatu selalu ada saja halangannya. Selalu begitu, bertahun-tahun, seolah ia dilahirkan hanya untuk merasakan kekecewaan.
“Gaya gravitasi akan menarik tubuhmu, saat tubuhmu tergantung tali itu. Kau akan tercekik, sulit bernapas karena lehermu terjerat semakin kuat. Matamu akan melotot menahan sakit dan nyeri, menjalar dari tenggorokan sampai tengkuk dan dada. Penyumbatan udara dan pembuluh darah ke otak akan terjadi akibat tekanan tersebut. Kemudian terjadilah kontraksi diafragma dengan hebat. Wajahmu akan berwarna ungu kemerahan. Dari sudut bibirmu akan keluar air liur dan busa halus. Tenggorkanmu akan mengalami pendarahan. Dan lidahmu akan terjulur. Kabar buruknya, saat itu belum tentu kau langsung mati. Kau akan meronta-ronta, berayun ke sana kemari, membuat tulang lehermu patah, sehingga terjadilah pendarahan di otak. Kalau kau langsung mati pada saat itu, kau akan menyesal telah melakukan kekonyolan itu. Namun, jika tali itu putus, kemungkinan hidupmu akan kau habiskan dalam koma berkepanjangan.”
“Pergi kau dari sini! Aku tak mengenalmu! Jangan sok peduli!” Rasa melotot tajam. Teriakannya sangat kuat, membuat kursi pijakannya bergetar. Jantungnya serasa mau copot, ketika kursi tersebut nyaris oleng. Masih ada perasaan takut mati dalam hatinya.
“Kau mengenalku dengan baik.” Asa bergerak mengitari Rasa dengan tubuh mengambang. Senyumnya terus mengembang. “Aku adalah harapan, akumulasi dari semua keinginan yang pernah terbersit dalam hatimu. Lihatlah wajahku cantik, wangi, dan bisa bergerak ke sana kemari tanpa terikat gravitasi.”
“Harapan?” Hati Rasa sakit, menyebut kata itu. Betapa sebagian besar harapannya selalu berbuah kekecewaan. Jika ada yang terwujud, itu belum cukup untuk membuatnya merasakan arti kebahagiaan.
“Semua harapan itu indah. Orang hidup karena memiliki rasa itu. Orangtua berharap anak-anaknya bisa lebih baik dari mereka. Anak-anak berharap agar bisa membalas budi orangtuanya. Namun, inti dari harapan adalah agar hidup lebih baik lagi setelah mati.”
Rasa mencibir. Ia tak memercayai ucapan Asa. Ia adalah korban dari keegoisan orangtua. Mereka berpisah tanpa memedulikan nasibnya. Ia telan mentah-mentah perasaan kecewa sejak masih belum tahu apa itu arti hidup, mengumpulkannya satu persatu dengan airmata, sampai-sampai ruang hatinya sesak karenanya. Kemudian setelah dewasa, ia dikecewakan harapan sendiri karena perempuan yang telah memberinya satu anak pergi, tidak tahan hidup dalam kemiskinan. Dulu ia berharap akan memiliki kehidupan lebih baik setelah berkeluarga, kenyataannya semua hanya angan-angan belaka. Bahkan dalam mimpi pun kebahagiaan seolah enggan menyapanya.
“Kau boleh tidak memercayainya sekarang, tetapi kelak kau akan menyesal setelah nyawamu lepas dari raga. Kau akan meminta dihidupkan kembali hanya karena ingin mengubah cara pikir. Kau ingin memperbaiki kesalahan, tetapi saat itu, semua sudah terlambat.”
“Orang mati tidak bisa apa-apa lagi, apalagi untuk menyesal!”
“Mati hanyalah pintu dari keabadian, Rasa!”
Rasa menyeringai. Kalimat Asa terdengar seperti lelucon baginya. “Keabadian hanyalah dongeng sebelum tidur! Dongeng hanya membuat orang berangan-angan tinggi. Angan–angan yang tidak terwujud hanya melahirkan kekecewaan.”
“Jadi kau akan mengakhiri hidup karena kecewa?”
Rasa membuang muka. Ia kesal pada diri sendiri karena terbawa suasana yang diciptakan Asa. Jika terus-terusan menanggapinya, kematiannya akan semakin lama. Ia benci hidup.
“Tadinya aku bersemayam dalam hatimu. Gunungan kecewa mendesakku keluar. Dan sekarang aku berada di sini. Tapi aku masih belum bisa meninggalkanmu karena kau masih memiliki satu harapan. Lucunya, harapan itu adalah kematian. Ya, kau berharap malam ini akan menjemput ajal. Padahal malaikat maut belum beranjak dari tempatnya. Tugasnya masih lama!”
“Jadi berharap mati pun harus membuatku kecewa?”
“Mati bukan harapan. Itu adalah takdir!” Asa mendekat. Kedua tangannya mengusap dahi Rasa yang basah oleh keringat. Ia melakukannya dengan lembut sambil terus mengulas senyum. “Kau tidak berharap sepenuh hati. Masih ada perasan takut mati, terselip dalam sudut hatimu, tertimbun gunungan kecewa. Dengarkanlah ia!”
“Kenapa aku harus mendengarkannya?”
“Karena hati bisa berubah. Dan tahukah kau, siapa yang bisa membolak-balikkan isi hatimu?”
“Pergilah!” dengus Rasa. Ia tak peduli siapa yang dimaksud Asa. Makhluk itu terus saja mengguruinya. Celakanya lagi, sosok itu datang untuk membuatnya mengoleksi kekecewan lagi. Jika, ia tidak jadi mati, akan bertambah lagi kegagalan dalam hidupnya.
“Ia adalah Raja dari semua raja.”
Sorot mata Rasa yang tadi melemah, mendadak tajam. “Kalau Ia bisa membolak-balikkan hati, kenapa Ia tidak mengusir perasaan kecewa dalam hatiku, kemudian merubahnya dengan kebahagiaan?”
“Karena kau hanya fokus kepada harapan, tanpa mau fokus kepada-Nya yang akan mewujudkan harapanmu. Kau meminta sesuatu, tetapi tidak tahu siapa yang kau pinta. Apa kau mengenalnya?”
Rasa bungkam. Kalimat Asa baru saja menampar isi hatinya yang paling dalam. Ia mengakui, selama ini tidak mengenal Raja seperti yang diceritakan Asa. Maka itu ia merasa ada sesuatu yang kurang dalam hidupnya.
Sekarang Rasa mulai paham, kenapa orang-orang pergi ke tempat peribadatan. Setiap hari mereka melakukan ritual yang menurutnya sia-sia. Mereka membuang-buang waktu dan tenaga untuk memuja Raja yang tidak terlihat. Dulu, ia menertawakannya, menganggap itu ulah konyol.
Ia sering melihat teman dan tetangganya sudah ke tempat peribadatan sejak matahari belum terbit. Juga pada waktu siang, sore, dan petang. Kemudian malamnya, sebelum tidur, mereka kembali melakukan pemujaan. Alih-alih lelah, mereka berwajah cerah, dan memiliki semangat hidup.
Sedangkan dirinya? Rasa menghela napas berat, menatap Asa yang terus saja melayang di hadapannya sambil mengulas senyum. “Apa kau bisa dipercaya?”
“Aku tak akan memintamu untuk percaya. Itu bukan tugasku. Aku hanya ingin kembali ke dalam hatimu. Bukalah, Rasa!”
Sepasang telapak tangan Rasa bergetar, membuat juluran tali bergerak-gerak. Ia tak mengerti kenapa tiba-tiba hatinya bergemuruh. Seperti ada desiran halus sedang menjalar melalui aliran darahnya, entah apa, ia tak tahu.
Getaran tangan Rasa seperti efek pegas, merambat ke seluruh tubuh. Lututnya terasa lemas. Akibatnya ia kehilangan keseimbangan. Kursi yang ia pijak bergoyang-goyang, tak terkendali. Kursi oleng, terpental, menjauh dari kakinya yang tergantung di udara.
Sepersekian detik kemudian, tali langsung menjerat leher Rasa. Tubuhnya tertarik gravitasi. Reflek kedua tangannya mencengkeram tali. Terlambat! Ia tidak bisa bernapas akibat tercekik. Matanya melotot. Pada saat itu, hatinya berteriak meminta tolong kepada Asa agar menolongnya.
Senyum asa semakin mengembang. Ia melayang, merasuk ke dalam tubuh Rasa yang sudah tidak berdaya.
Waktu terus menjauh dari malam, menuju dini hari. Sepasang telapak tangan Rasa terus berusaha melonggarkan tali yang menjerat lehernya. Semakin lama semakin lemah cengkeramannya, lantas terkulai. Sementara, tubuhnya terayun ke sana kemari.
Kreoott! Tiba-tiba simpul tali pada rangka atap rumah terlepas. Tadi Rasa tidak mengikatnya dengan baik, karena buru-buru. Tubuhnya meluncur ke bawah dengan cepat, lantas berdebam di lantai.

Akhmad Al Hasni

Kendal, 08 Januari 2018

Please follow and like us:

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *