Pernah

Pernah
Hujan datang dengan warna berbeda
Berbingkai mutiara ia leburkan seluruh rasa

Pernah
Ia titipkan asa pada sebuah genggaman yang dipercayainya untuk dijaga
Agar suatu saat dapat dibuka kembali ketika waktu sudah beranjak tua

Pernah
Ia abaikan segala luka nestapa
Demi senyum ceria yang tak seberapa

pixabay.com

Pernah pula
Ia telan pahit kecewa
Ketika genggaman itu terlepas, lantas tanpa ragu mencerai-beraikan asanya
Seperti tutur kata orang tua, kepercayaan tak beda kaca rapuh
Bila retak, bilakah lagi bisa utuh?

Hujan menyapa
Luka tak lagi dirasa
Percaya berakhir kecewa
Segalanya hanya pernah
Tak lagi jadi telah
Apalagi jadi akan

Hanya pernah

Septi Nofia Sari 

Magelang, 08 Januari 2018

Please follow and like us:

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *