Jangan Halangi!

Jangan halangi!
Semua ini belum rampung.
Tiga nyawa telah berakhir di ujung Keris Brongot Setan Kober, semua memandang tajam padaku. Membenci kebiadaban yang telah kulakukan. Bagiku, sudah sepatutnya terjadi. Aku punya hak hidup di sini, aku punya kekuasaan dan berjuta kekuatan. Apa saja, membelah puncak gunung ataupun menyerap air samudra bukan hal yang mustahil bagiku. Kanuraganku telah merasuk, jiwaku terpatri pada suatu harapan tinggi. Tentu saja, pemegang Mahkota Kasultanan. Tak peduli apapun caraku, jalanku sudah gelap gulita. Jalan membentang penuh duri tajam masih dapat kuhindarkan.
Manusia berhati Iblis!
Begitu yang ingin diteriakkan oleh mereka padaku, entah dari kalangan rendah setingkat petani desa hingga ke tingkat tinggi pemangku kekuasaan. Namun, aku tak boleh gegabah. Lawan main masih nampak gagah di singgasananya. Segenap kebijakannya mengayomi rakyatnya, para kawulanya setia mendampingi. Persetan!
Sampailah kakiku di Pungkuran Danaraja, pertapaan dengan ratusan pemuda sebagai pertahanannya. Tak ketinggalan, gadis-gadis cantik sebagai dayang di sana. Mengabdi, bersembah hormat pada Ratu Kalinyamat. Kami satu nenek moyang keturunan langsung dari pendiri Kasultanan Demak Sultan Alam Akbar AlFattah Sayyidin Panatagama Khalifatullah. Sebuah perisai kebesaran untuk Raden Patah, anugerah dari sesepuh Eyang Sunan Ampel Rahmatullah.
Mungkin, kekuasaan telah membutakan mata hati. Aku tetap tak peduli. Inilah aku, Pangeran Aryo Penangsang penguasa Jipang Panolan. Aku manjakan kebiadaban dalam napasku. Ucapan pedasku, tatapan tajam mataku, sepak terjangku akan membuat siapapun bergidik ngeri dan menaruh hormat.
Kalinyamat begitu geram, sehari-hari hidupnya memendam benih kebencian. Sunan Hadiri yang dicintainya telah musnah bersimbah darah di tanganku. Kalinyamat begitu meratapi, lantas memilih untuk menyepi. Pertahanan di Pungkuran Danaraja demi suatu maksud terselubung, dengan mulut manisnya yang meracuni para pemuda tangguh dan dayang-dayang cantik untuk bahu membahu. Demi suatu tujuan licik yang diinginkan, melebur panasnya hati yang lama mengerubungi.
Tanganku mengepal rapat, kutahan pandangan tajamku walau rasa dendam memaksanya untuk melirik Kalinyamat dari balik caping petani. Sembah sungkemku hanya bualan semata, hidangan pembuka kejahatan murni. Bilik berbalut tirai putih nan bersih, dihuni dua jasad yang beradu dalam prahara. Bersinggungan tanpa belas kasihan.
“Sudah kau mantapkan hatimu untuk mengabdi padaku?”
“Sampun, Kanjeng Ratu.” Jawabku dengan nada lugu. Diriku di sini adalah Joko Gentong, penjelmaan Aryo Penangsang. Penjelmaan merakyat, membuang jejak kekejaman yang selama ini bersarang.
Sebelumnya, telah kulepas segala kemewahan yang melekat di badan. Aku menyatu sebagaimana adat wong cilik dalam berpakaian. Benar saja, Kalinyamat tak menaruh sejuta curiga saat menatapku. Kusandangkan gelar Joko, menandakan usia yang begitu muda. Aku semakin geram, sengaja aku pakai nama Joko setelah kudengar ulah Kalinyamat yang telah mencoreng citra keluarga Kasultanan. Menghimpun segenap tenaga dari wajah-wajah tampan nan gagah, dirayunya dengan sejuta kemewahan bahkan hendak dijadikan sebagai pengganti Sunan Hadiri. Anjing jalang! Busuk benar kau Kalinyamat! Bila mereka sudah terperangkap, disuruhnya menerjang ke Jipang. Menebas kepalaku. Telan mimpimu Kalinyamat!
“Aku menghargai kesanggupanmu, Joko Gentong. Berlatihlah sampai kau terampil dalam gladen peperangan. Jika kau sudah terampil, tidak mempan dengan tajamnya pusaka berangkat menerobos penyerangan ke Jipang Panolan! Bawakan kepala Aryo Penangsang ke hadapanku!” Tegas Kalinyamat sambil melotot tajam kepadaku. Sengaja aku terdiam, menunduk dengan pandangan sayu. Sebab bila aku pandang wajahnya bisa robek mulut Kalinyamat.
“Mohon maaf, Kanjeng. Apakah Kanjeng tidak takut dengan kesaktian Adipati Aryo Penangsang?” Aku berani bertanya demikian. Pertanyaan umpan untuk memicu api pertempuran. Aku menanti jawaban dari mulutnya, aku gerah berlama-lama dalam penyamaran.
Kalinyamat menoreh raut sinis. Matanya berkilat tajam, berkicau sambil terus mengelilingiku. Menghujamkan sejuta sumpah serapah kebenciannya pada sosok yang kini ada di hadapannya. Kutunggu jawaban pedas itu, memanas di telingaku. Tanpa ia sadari sedikitpun, aku berdiri dan menyingkap tabir. Suatu bahaya mengejutkan bagi Kalinyamat.
“Kalinyamat!! Mau lari kemana kau sekarang??” Telunjukku mengarah lurus pada Kalinyamat yang masih dicekam rasa takut setelah mengetahui siapa jati diri Joko Gentong bercaping itu. Kalinyamat memberanikan diri, melangkahkan kedua kakinya dan menghampiriku. Singa perempuan ini hendak menerkamku, ia memang tak sedang bercanda dengan sumpah serapahnya.
“Kau mencoreng trah luhur Keluarga Demak!”
“Apa maksudmu, Penangsang?”
“Sepeninggal Hadiri, kau naik ke Pungkuran Danaraja ini. Menghimpun para pemuda untuk kau beri rayuan kasih mesra. Bila perlu kau jadikan sebagai suamimu!”
Amarahku sudah memuncak. Wajahku merah padam. Telingaku memanas.
“Kau perbudak mereka dalam nafsu birahimu, mencumbui alunan rasa untuk bercinta. Demi satu tujuan untuk menghabisiku! Dan bila mereka menolak, kau tumpas nyawa mereka! Biadab!” Kemarahanku sudah tak terbendung.
Dinding bilik Kalinyamat bergoncang seketika. Para abdinya ketakutan, saling menyembunyikan diri. Mereka enggan bersangkut paut dengan apa yang dialami junjungannya. Sudah cukup para keluarga dalem yang jadi sasaran keganasanku.
“Peduli apa dirimu? Memang sudah aku niatkan dalam hati! Tekadku sudah bulat, aku ingin memenggal kepalamu! Hei Penangsang, jika memang kau lelaki sejati tangkaplah aku!”
Kalinyamat melarikan diri meninggalkan tantangan bagiku.
Jangan halangi!
Semua ini belum rampung.
Aku tak tinggal diam, kakiku sudah bergerak cepat menyusul Kalinyamat. Tak akan bisa menghindar dari kejaranku. Aryo Penangsang bukan satria kemarin sore yang mudah kau rendahkan.
Buruan telah masuk perangkap, tepat pada pintu gerbang hutan belantara di kaki Pungkuran Danaraja. Kalinyamat terdesak, napasnya tersengal-sengal. Keringat dingin terperas deras di wajahnya. Hendak mungkir dari kenyataan, tak ada guna. Ia berlindung di balik rimbunan tanaman liar, agar tanganku tak dapat menyentuhnya. Aku tak pedulikan masa iddahnya yang belum tuntas. Sudah panas mataku menatap istri Hadiri itu.
Kalinyamat tetap berada di tempatnya, di balik tumbuhan liar di mana tak dapat kujangkau tubuhnya.
“Bunuh saja aku, Penangsang!” Teriak Kalinyamat dalam kepasrahannya.
Aku mendelik sejenak, Kalinyamat mungkin menyerah. Namun, aku buang jauh pemikiran itu. Sekitarku hutan belantara merangkum hening, tak ada seorangpun di sana. Aku melompat, membumbung ke udara dan melesat turun tepat di hadapan Kalinyamat yang miris ketakutan.
Tanganku sudah tak mau berdiam lama, mengingat segala sumpah serapah yang terucap dari mulut Ratu Jepara itu membuat api dendam semakin berkobar. Tak ada sekat pembatas di antara kami. Dengan mudah aku dapat meluapkan murka pada istri Hadiri itu. Sebuah kepalan tinju mendarat tepat di wajah Kalinyamat, membuatnya mundur, mengerang kesakitan. Aku tak akan luluh dengan rintihannya. Sudah sampailah pada puncak amarah yang selama ini kupendam rapat.
Tanpa memberi salam pada belas kasihan, pukulan terus mendarat menyiksa Kalinyamat. Ia mencari lengahku, mencari lorong untuk keluar dari badai kekejaman ini. Sia-sia saja menurutku.
“Keparat kau Kalinyamat!”
Dasss!!
“Aaakkkhhh!!”
Terus berlanjut, aku mengulang sejuta pukulan dengan suara rintihannya yang memilukan. Sekeras apapun, tak akan ada yang datang menyelamatkan. Dedaunan berguguran di tengah pembantaian itu. Kiranya pepohonan tak ingin melihat pemandangan seperti itu. Mereka ingin menghalau segenap pukulanku, namun dedaunan utusan tak mampu menghentikanku. Tangan ini masih bermain ganas menghujam wajah Kalinyamat. Tetesan merah mengalir perlahan dari bibir pedas itu.
Jangan halangi aku!
Semua ini belum rampung.
Kalinyamat menangis sesenggukan, sungguh seorang wanita yang terlunta-lunta. Belum genap usia perkawinannya dengan Hadiri namun suaminya telah musnah mendahului. Tiada lain buah keganasanku. Siapapun yang menghalangi, jangan harap bisa lari.
Aku redam amarahku sejenak, melihatnya menangis sampai puas. Wajah anggunnya masih terasa. Aku memahami naluri hatinya yang berserakan. Dengan liar memangsa para pemuda tak berdosa, bercumbu buaian cinta. Gila! Tangannya pun telah dikotori, menghujamkan kerisnya di dada mereka yang menampik hasrat buasnya. Lebih biadab dariku. Jika detik ini Gusti Maha Agung menakdirkan pungkasan nyawa Kalinyamat, lereng Pungkuran Danaraja akan digenangi darah Ratu Jepara itu.
Sang surya menyembunyikan wajahnya di balik gumpalan awan, angin menderu-deru menyelinap di antara pepohonan yang menjulang. Wajahku dihajar semilir hawa panas, meresap ke ubun-ubun kemudian jatuh pada lubuk rasa. Kerongkonganku tak kenal lelah, berteriak terhadap sebuah ketidakadilan.
Sisa-sisa Demak Bintara perlu aku kembalikan, dan jauh di sana Joko Tingkir berjuluk Sultan Hadiwijaya dengan keagungannya menjadi trah pewaris Bintara. Keputusan yang tidak adil. Aku tidak menyalahkan Para Wali, tapi keputusannya sungguh tidak memihak sedikitpun padaku. Joko Tingkir hanyalah putra menantu, sedangkan aku adalah keponakan langsung dari Sultan Trenggono sinuwun Demak yang ketiga.
Jika tidak sebab itu, aku tak akan demikian. Satu lagi, biarkan semuanya menyalahkanku ataupun membenciku perihal pembunuhan berantai sebulan silam. Mereka yang bergelimpangan telah merenggut nyawa Ayahku Suryawirata. Sebagai putra tentu harus nyambung watang-wutunge wong tuwo.
Siapa yang meminjam harus mengembalikan, siapa yang berhutang harus membayar. Kaidah yang tak dapat dipungkiri.
Hutang nyawa dibayar nyawa. Jika Kalinyamat berakhir di tanganku, aku tidak akan kesulitan menggebrak peperangan ke Istana Joko Tingkir. Bukan isapan jempol dan bukan perkara sulit. Keadaan genting sudah memanas, semakin sedap semenjak pemberontakan ini menari pada jalurnya. Rona merah penderitaan terkatung megah. Rakyat sedemikian resahnya. Joko Tingkir hanya tersenyum, penghinaan bagiku!
“Cukup Penangsang! Jangan kau semena-mena pada perempuan, kau bakal rasakan akibatnya!” Jerit Kalinyamat menahan pilu sebab kujambak rambutnya.
“Persetan! Mana Sultanmu Hadiwijaya? Laporkan sana!!” Bentakku seraya menghempaskan wajah Kalinyamat ke tanah, berulang kali demikian.
Kalinyamat tersungkur tak dapat bangkit, kakiku menapak tajam di punggungnya. Sesekali tendangan keras menyapa kasar, jeritan Kalinyamat semakin memilukan. Aku tak peduli. Tapi, Ratu Jepara itu lincah juga. Janda muda itu lolos dari kebengisanku, hendak mengambil langkah seribu namun diurungkannya. Hutan belantara ini sungguh lebat. Tak terlihat setapak jalan untuk pelarian. Kalinyamat hendak berlari, tanganku mendahului menarik jarik yang menutupi pinggang hingga kakinya. Jarik putih dengan motif parang rusak itu terlepas dari tubuh tuannya. Kalinyamat memegang erat jarik putihnya. Tangan ini gagal merebutnya, walau jarik itu terlepas dari tubuh pemiliknya.
Mataku masih beringas, tanganku mengarah pada kain luar penutup tubuh Kalinyamat. Ratu Jepara yang masih cantik itu menjerit, mengira bila aku akan mengajaknya bersenang-senang. Pikiran gila! Mana mungkin, niatku hanyalah memberi pelajaran pada sosok Kalinyamat.
Beruntunglah kain kuning panjang masih enggan berpisah dari Kalinyamat. Dipeganginya kain terakhir penutup tubuhnya, di sini aku masih dapat menyadap keindahan tubuhnya. Namun tak lama berselang. Bara api kemarahan masih berkobar, tanganku belum kenyang. Kakiku masih lapar, ingin menghajar Kalinyamat habis-habisan. Kalinyamat berlindung di balik semak, aku tersandung batu besar kala hendak menyeretnya.
“Biarlah, aku kau hajar hingga seperti ini! Tunggu saja…..”
Kalinyamat tidak melanjutkan ucapannya. Wanita itu memandangku setajam pandangan serigala, aku pun balik memandangnya dengan mata menyala. Hasratku menggebu, ingin mencabik-cabik istri Hadiri itu. Tanpa disangka…
“Bakal sial hidupmu, Penangsang!!” Teriak Kalinyamat seraya melemparkan jarik putihnya tepat di wajahku. Keparat! Ini bukan sembarang jarik, api membara menjilati wajahku, panas tak terkira. Sekujur tubuh hilang daya, kadigdayanku sirna. Pungkasan ini aku harus kehilangan segala ilmu kanuragan yang melekat dalam sukma.
Gending Ketoprak terus bertalu, mengiringiku yang jatuh terduduk seraya memegang jarik putih yang menutupi wajah. Kalinyamat memandang dengan wajah sayu bercampur dendam dari balik semak. Gemuruh tepuk tangan para pemirsa. Lakon malam pertama ini telah usai dari pandangan. Alunan gending paripurna menutup sepak terjangku malam ini.
Akulah pemeran Aryo Penangsang. Dan pemeran Kalinyamat adalah Aulia.
Secara tak sengaja aku memilihnya untuk menempati posisi di mana dia harus baku hantam secara lahir batin denganku. Naskah ini begitu berat.
Jangan halangi aku!
Semua ini belum rampung.

Alfath Wisnuwardhana

Ruang Latihan, 09 Januari 2018

Please follow and like us:

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *