Too Good At Goodbyes

And everytime you heart me, the less that I cry
And everytime you leave me, the quicker these tears dry
And everytime you walk out, the less I love you
(Too Good at Goodbyes – Sam Smith)

Ini kesalahanku. Membukakan (lagi) pintu yang memang selama ini kukunci rapat, demi menghindari adanya kehancuran. Bukan, bukan hanya kehancuran kurasa, melainkan juga perasaan tak bernama lainnya.
Ini kesalahanku. Mengapa harus mengizinkan (lagi) orang asing menyinggahi rumah yang kubangun dengan kepercayaan bahwa rasa sakit itu tidak akan ada. Bukan, bukan hanya rasa sakit kurasa, melainkan juga warna dunia lainnya.
You must think that I’m stupid 
You must think that I’m a fool
You must think that I’m new to this
But, I have seen this all before
Meski telah berulang kali terjadi, dan tiap kali hendak kuhindari, tetap saja Tuhan menghadirkan kembali rasa itu, bahkan jauh lebih indah dari sebelumnya, juga lebih pahit dari yang lama.
Aku mencoba menjaga perasaanku untuk tidak tegiur rayuan itu lagi. Sial! Lagi, aku harus mengaku kalah karena memang kau adalah rencana Tuhan di hidupku.
***
Maaf karena aku yang pernah tak acuh padamu, pada akhirnya harus jadi bulan-bulanan dari kekesalanmu. Tidak ada maksud apapun untuk menyakitimu. Hanya saja… Tuhan memang perencana paling handal, kau tahu? Tuhan sudah mengaturnya, bahkan jauh sebelum kita dilahirkan ke dunia.
Maaf untuk dua belas bulan yang kau habiskan denganku, pada akhirnya menyisakan kenangan dan luka di ingatanmu. Atau paling tidak, ada saat-saat termanis dalam hidupmu bukan? Aku ingat, kau pernah tertawa bersamaku saat menikmati kesiur angin sore yang mengantarkan senja dan gerimis bersamaan. Kau mencicipi pesona itu sebagai hidangan ter-menakjubkan, katamu juga, kau tidak akan pernah kenyang.
Sejujurnya, aku tidak bisa menutup diriku terlalu lama. Aku selalu ingin mencoba hal baru ketika ada yang menawarkan untuk itu. Ada yang datang membawakanku harapan, mana bisa kutahan diri untuk menolak? Tidak, aku tidak suka membuang kesempatan.
“Kita harus membuat rencana, aku ingin kita memulai dengan baik, sampai hari esok yang lebih jauh lagi.” Aku masih ingat kata-katamu, semangat itu tampak membara di mata apimu. Ya, mata api yang bisa membakar mataku sampai ke hati bila menatap lingkaran coklat itu. Dua bola mata, rasanya… Ah! Bulat sempurna, dihiasi lentik bulu mata, sedikit guratan usia, juga kantung mata.
“Ingat, kita hanya bisa berencana ya, Ra. Bagaimanapun nantinya, Tuhan-lah sejatinya yang sudah menentukan.”
Kau mengangguk. “Ya… Ya…,” suaramu manja sekali, berdesir di telingaku hingga tak sanggup kugambarkan sesendu-merdu suaramu itu. “Aku tahu, aku paham. Kita jalani saja. Oke?”
“Ya, bismillah, Ra!”
Ra… Kita memiliki kesamaan yang perlu dibicarakan. Kita sama-sama pernah kecewa karena kehilangan. Bukankah begitu? Kau menangis di saat orang lain yang menyakitimu justru merayakan kemenangan atas penderitaanmu. Pun sama denganku, aku menangis ketika orang-orang bersuka-ria akan kepergianku.
Kita sama-sama menjadi kenangan dalam kehidupan mereka, Ra… Kelak suatu masa dimana Tuhan telah menghancurkan senarai nama dalam almanak, Ra, mereka akan tahu bahwa betapa pentingnya aku dan juga kau yang pernah ditinggalkan. Penyesalan, Ra. Ya, penyesalan-lah kawan mereka yang menyia-nyiakanku.
Dulu, Ra… Aku melihatmu bahagia dengan kekasihmu, maaf, mantan kekasihmu itu. Kau berjalan bersamanya, beriringan, bergandengan. Tawa saja yang kau punya, Ra. Sementara aku? Aku sedih menatapmu. Aku takut kau kehilangan senyum manismu itu. Ketakutan ini beralasan, kau tahu?
Biar kujelaskan alasannya ya, Ra. Aku tidak suka dengan hal berbau kesedihan. Tidak! Aku sangat membencinya. Itu memuakkan, menyesakkan dada, membuat hari-hariku selalu tampak suram dan sunyi. Jika sudah begitu, susah untuk kembali berjalan menghadapi masa depan.
Kesedihan itu datang karena kita yang menciptakan, Ra. Jika kita tidak memulainya, tentu tidak ada akan ada berakhir. Tapi semua pasti dimulai, seperti hidup ini. Kita mulai bernapas untuk kemudian tiada. Kita mulai bicara untuk kemudian bisu. Kita mulai melihat untuk kemudian buta. Kau tahu maksudku? Kematian Ra. Dan kematian adalah bentuk dari kepergian yang mana orang selalu menamainya kehilangan.
KEHILANGAN, kan akhirnya kau mendapatinya, Ra? Usai pertemuanmu dan kusaksikan bertahun-tahun kau jalani bersama dengannya, harus kandas digilas kekecewaan. Ia tidak baik untukmu, itulah kesadaran terlambat yang tidak pernah bisa kita baca sebelumnya.
Ia, laki-laki itu, Ra, mengambil hati dan jiwamu. Lantas bertahun-tahun pula kau memulihkan perasaanmu. Aku tahu, bisa kurasakan kesedihanmu jauh lebih besar dari rasa cinta yang sempat kau berikan padanya. Tersebab apa bisa begitu Ra? Tidak lain adalah kebodohanmu yang menyimpan harapan terlalu besar. Seketika harapanmu sirna! Kau tidak mendapat apa-apa. Mimpimu ripuk, hancur…
***

pixabay.com

Baby we don’t stand a chance, it sad but it’s true 
I’m too good at goodbyes 
Dan aku menyesal, Ra. Sebagai bagian dari kenanganmu nantinya, aku hanya bisa menyuguhkan kerinduan padamu. Kau pasti ingin memulai lagi hari-hari denganku di masa lalu, kau ingin mengubah kisah ceritamu. Tapi sayang Ra, kau tidak akan bisa melakukannya selain melanjutkan ke depan.
Lihat, Ra… Di depan sana, masih banyak hari harus kau lalui, tapi bukan denganku.
Itulah sebab aku mengucapkan beribu maaf padamu. Maaf pernah membuatmu berkenalan denganku Ra dan pada akhirnya kau mendapati kekosongan lagi usai kepergianku.
Sebenarnya, aku tidak ingin membuka hatiku kembali, aku takut memberi harapan padamu dan kau hancur untuk itu. Aku tidak ingin melihatmu rapuh lagi.
Ra, banyak orang sudah kukecewakan karena harapan mereka kandas sampai padaku. Tapi, di hari mendatang mereka harus sadar, bahwa masih ada aku-aku yang lain. Mereka hanya kurang berjuang untukku, Ra. Sama sepertimu.
Meski aku tahu, bahwa dua belas bulan belakangan ini, kau mengatur rencana bersamaku. Kuamini, Ra, dengar? Aku mengaminkan apa yang kau impikan itu. Usahamu pun tak luput dari pandanganku. Aku bahagia jika pada perpisahan kita nanti, kau tutup dengan senyuman juga semangat ke depan untuk memulai awal lebih baik lagi.
Ra, penghujung tahun, aku Drutjula, mengucap salam perpisahan untukmu. Maaf, maaf lagi harus jadi kenanganmu. Pada akhir kau tahu kan, aku adalah ahli dalam perpisahan yang selalu dirayakan oleh kebanyakan orang.
Drutjula, Dua Ribu Tujuh Belas, namaku Ra. Sudah setahun kutemani kau. Saatnya aku meninggalkanmu dan aku berlalu. Kita seimbang, Ra. Kita sama-sama meninggalkan dengan beban di ingatan!
Ingat aku ya Ra, ingat sebagai sejarah yang pernah ada dalam hidupmu. Dan aku ingin meminta maaf sekali lagi padamu, besok, ketika denting jarum jam bergema di kesunyian rumahmu, pukul dua belas malam lebih satu detik saja, aku sudah lahir kembali, Ra. Lahir sebagai harapan barumu.
Dan ingatlah, aku tidak ingin aku seperti yang lain. Yang melepasku dengan pesta dan menyambutku dengan segala keriuhan sampai meninggalkan banyak timbunan sampah karena kegilaan mereka. Mereka pikir dengan begitu, harapan ke depan akan mulus-mulus saja. Mereka mengira aku akan mengabulkan harapan mereka.
Tidaklah! Yang Maha Mengabulkan itu Tuhan. Aku tidak bisa apa-apa, hanya sekadar menjalani perintah Tuhan untuk menemanimu dan mereka semua.
Satu hal lagi, Ra! Jangan melabuhkan hidupmu ada harapan lagi. Kau boleh saja berharap padaku, tapi jangan kau gantungkan terlalu tinggi. Aku tidak mau kau terjatuh.
Mari kita nyanyikan lagu Sam Smith saja, Ra, Too Good at Goodbyes, ahli dalam perpisahan. Ya, akulah ahlinya Ra. Memulai untuk mengakhiri. Semakin kutinggalkan dirimu, akan semakin sedikit airmatamu. Aku-lah kenanganmu, Ra. Sampai jumpa tahun depan, mari kita mulai berkenalan.
I’m way too good at goodbyes…
I’m way too good at goodbyes…

Kharisma De Kiyara
Selamat tahun baru. Magetan, Desember Penghujung 2017

Please follow and like us:

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *