Alana (Shoera 4)

“Mademoiselle Alana,” ucap Darrel tanpa mengalihkan pandangannya dari panggung pertunjukan, takjub akan keindahan yang disajikan di hadapannya.

Begitu pun Algazar. Dua mata elang berwarna hitam pekatnya menatap tajam pada seorang balerina yang tengah mempertunjukkan tarian balet di atas panggung sebuah bar. Lekuk tubuhnya yang indah meliuk gemulai membentuk gerakan-gerakan balet diiringi musik yang sendu dan menyayat perasaan. Hati Sang Raja Agung Negeri Duke terasa seperti dicabik-cabik hingga berdarah ketika senar biola saling bergesekan menciptakan alunan pilu. Balerina berkulit pucat dengan mata sayu di depan sana terus memasang wajah sedih, seolah tariannya adalah hal yang menyedihkan. Entah tekanan apa yang sedang ditanggungnya atau memang ekspresi penuh kepedihan dibuat sebagai bumbu pertunjukan malam itu. Bahasa tubuh sang penari telah membuat atmosfer bar berubah menyilukan.

pixabay.com

Tarian ditutup dengan satu gerakan en pointe yang menggetarkan dan pertunjukan pun berakhir. Alana membungkuk dalam-dalam sebagai ucapan terima kasih kepada penonton yang telah hadir.

Musik berhenti, lampu bar kembali dihidupkan, Alana sang penari digiring kembali ke dalam setelah semuanya usai.

Pandangan Algazar masih terpaku pada panggung. Menelusuri jejak-jejak tarian Alana yang tertinggal. Pun alunan nyanyian dari The Goddess of The Light World yang ia kenali sebagai lagu kepahlawanan Dewi Shoera yang amat populer di Negeri Duke pada masa itu. Algazar lalu memejamkan mata.

“Dewi Shoera telah berpulang. Cukup percayai kalimat itu, Paduka.” Darrel menyela. Ia paham isi pikiran Algazar usai pertunjukan barusan.

“Kau benar-benar seorang pengganggu.” Algazar menarik cangkir teh yang mengepulkan asap beraroma ginseng sambil menoleh pada pengawal setianya. Darrel hanya tersenyum sedikit menanggapi.

“Paduka tidak bisa terus memikirkan seseorang yang sebenarnya tidak pernah ada di dunia ini.”

“Dewi Shoera itu nyata. Percayalah.”

“Hamba percaya karena Paduka berkata bahwa Paduka percaya. Berhenti mengagumi sesuatu yang tak ada, sebab itu hanya akan menjadi hal yang sia-sia pada akhirnya.”

Algazar tersenyum penuh arti. Sejak dulu Darrel memang selalu bijak dalam berkata-kata. “Kau salah. Karena aku memuja Dewi Shoeralah hari ini pula aku ingin memiliki titisannya, Mademoiselle Alana.”

Algazar bangkit dari tempatnya duduk. Sementara Darrel hanya melihat dengan heran.

“Mau apa lagi? Segera pertemukan aku dengan Balerina itu.”

Sadar dirinya terbawa obrolan tuannya hingga lupa untuk berdiri ketika Algazar berdiri, Darrel pun bergegas bangkit mengikuti Algazar.

“Tapi Paduka ingatlah lagi maksud dan tujuan kita datang ke kota ini!”

Algazar tertawa. “Tentu saja. Kita ke sini sebagai utusan dari Negeri Duke dalam rangka perjanjian kerja sama dua negara.”

Darrel menundukkan kepalanya. Ia senang, rupanya Algazar tidak lupa tujuan mereka hanya karena selama dua hari keduanya terlalu banyak menghabiskan waktu dengan bersantai.

“Baiklah Paduka.”

oOo

Alana menatap refleksi dirinya di dalam cermin. Memang indah. Meski rapuh. Dihelanya udara yang masuk menyesaki rongga dada. Terasa menyakitkan ketika ia harus menari di atas panggung terlebih jika diiringi musik The Goddess of The Light World kesukaan ibunya. Hal yang lebih menyakitkan adalah kenyataan bahwa dirinya adalah seorang penari di tempat-tempat hiburan malam yang begitu hina dan rendah. Dunia memang sekejam itu. Rasa pahit setelah ditinggalkan kedua orang tuanya saat perang berlangsung sangat lama masih terasa di hatinya. Alana harus hidup dan mencari kehidupannya seorang diri. Siang dan malam bertarung dengan rasa sepi dan kelaparan. Tiap saat ketakutan akan dunia menghantuinya seperti bayang-bayang hitam pada tanah ketika terik panas menghantam. Sungguh perjalanan yang panjang untuknya sampai di atas panggung dan lalu memperoleh gelar Mademoiselle dari seorang bangsawan karena kepiawaiannya dalam menari.

Usai berganti pakaian dengan gaun lusuh berwarna navy yang sudah pudar di sana-sini Alana membalut tubuhnya dengan sebuah jubah beledu tebal bertudung. Lalu meraih tas selempangnya dari gantungan. Ia pun berpamitan untuk pulang. Di luar langit gelap tertutupi awan yang hitam; udara dingin menusuk hingga ke tulang dan persendian. Alana mengeratkan pelukannya pada jubah yang ia kenakan. Gadis itu melewati bangunan-bangunan yang tersusun dari batu-batu berwarna cokelat. Suasana sunyi senyap. Seluruh penghuni kota sepertinya sudah terlelap dalam mimpi mereka. Jendela-jendela rumah tertutup rapat; lampu-lampu dimatikan. Alana bersiul ria dalam kesendirian.

Sampai di sebuah tikungan segerombolan bandit mencegatnya di tengah jalan. Alana terperanjat kaget, bandit-bandit itu mengepung Alana dari semua sisi.

“Ini dia, Mademoiselle Alana si penari balet yang terkenal di kalangan bangsawan hingga kalangan budak.”

Alana bersiaga. Tangan kirinya meraih sebuah belati yang segaja ia simpan di dalam tas.

“Apa yang kalian inginkan?”

Alana menghitung jumlah kepala para bandit. Sialnya mereka berjumlah lima lengkap dengan senjata tajam di tangan masing-masing, sementara dirinya sendiri dengan sebuah belati. Dari teorinya saja sudah tidak masuk akal Alana akan menang.

“Memangnya kau membawa apa?” tanya seorang bandit bertubuh paling besar dan garang di antara mereka. Pria itu menyeringai jahat.

“Aku,” suara Alana mulai bergetar merasakan ketakutan, “membawa uang dan emas. Jika memang itu yang kalian inginkan.”

Bandit bertubuh paling besar tertawa keras. Lugu sekali wanita di hadapannya. “Bawa dia!” perintahnya pada empat bandit lain.

“Berhenti!” Alana mengacungkan belati dari tangannya. Ia benar-benar tersudut. Pikirannya buntu sekadar memikirkan cara untuk lari. Langit gelap. Tak seorang pun melintasi jalan itu. Ia memejamkan mata. Siapa pun tolong aku! Jika Dewa benar-benar ada di dunia ini tolonglah aku!

Saat itu sebuah anak panah melesat menembus dingin dan langsung menancap di dada seorang bandit. Satu orang ambruk seketika. Disusul panah-panah lain hingga semua bandit bernasib sama. Kelimanya tumbang. Alana masih memejamkan mata karena takut.

Sementara di kejauhan Darrel meniup ujung jarinya.

“Fyuh, jangan remehkan kemampuan lulusan terbaik akademi militer Negeri Duke.”

Algazar menepuk bahu pengawalnya.

“Kerja bagus.”

Keduanya keluar dari persembunyian untuk menghampiri Alana.

“Mademoiselle Alana, kau sudah aman. Dewi Shoera telah melindungimu.”

Alana membuka matanya sebelah, melirik Algazar dan Darrel. Ia pun membuka kedua mata dan tersentak kaget bukan main ketika melihat lima mayat tergeletak di dekat kakinya.

“Ka-kalian siapa?”

“Jika kau tidak mengingatkanku pada Dewi Shoera yang agung, aku tidak akan membuntutimu, dan kecil kemungkinan kau selamat dari para bandit ini.” Algazar berujar.

“Dewi Shoera?” Alana menunjukkan air muka kebingungan.

“Ya, Dewi Agung dari dunia cahaya. Seperti yang terkandung dalam nyanyian yang mengiringi tarianmu malam ini.”

Darrel hendak menyela perbincangan Alana dan Algazar yang sepertinya akan panjang sementara mereka berdiri di bawah langit gelap dengan lima mayat yang mesti dikuburkan. Namun urung begitu melihat keduanya beradu tatapan yang tidak mampu ia terjemahkan.

“Aku tidak pernah percaya pada mereka. Dewa-dewi penghuni dunia langit di atas sana. Jika mereka ada, dunia kita tidak akan dipenuhi peperangan.” Alana berspekulasi. Entah pria yang baru saja menyelamatkan hidupnya itu bisa begitu saja memancing perdebatan di antara mereka.

“Manusialah pencipta peperangan. Para Dewa hanya bertugas menaruh dan mengambil nyawa.” Algazar menyangkal. Menarik. Wanita di depannya sungguh menarik.

“Termasuk ketika Dewa membiarkan ibuku dipersembahkan sebagai upeti negara kepada mereka yang berkuasa? Dan mati sebagai budak? Lantas kekuasaan bahkan mampu memberi harga pada sebuah nyawa? Jika hanya itu pantaskah Dewa menyandang nama Dewa? Sungguh tak berbelaskasihan!”

Algazar tersenyum. “Namaku Algazar. Maukah kau ikut bersamaku?” ajaknya seraya menyodorkan tangan.

Alana hanya memandangi tangan Algazar beberapa saat sebelum menjawab. “Hamba tidak pantas berada di sisi Baginda.”

Kedua alis Algazar saling bertautan. Begitu pula Darrel yang merasa heran dari mana Alana bisa tahu jika pria di depannya adalah seorang Raja.

“Kau bisa menjadi permaisuri Negeriku, dan memiliki kekuasaan.”

“Hamba hanyalah gadis yang dipenuhi rasa dendam, hingga rasanya terdapat api yang menyala berkobar-kobar di dalam hati ini kemudian merambat sampai ke seluruh tubuh.”

Algazar memandang pilu Alana. Terlihat jelas rasa sakit yang tadi ditunjukkannya melalui tarian. Dengan hati berat ia pun merelakan Alana pergi bersama pendiriannya.

“Jika berjodoh. Kita akan bertemu kembali.”

“Meski mungkin bukan di dunia ini.” Alana menyahut.

Malam yang singkat itu pun berakhir. Pertemuan Algazar dan Alana tak pernah tertulis dalam sejarah kerajaan mana pun. Hanya Darrel sang pengawal dan malam berbalut awan hitam menjadi saksi dua insan itu pernah menaruh hati dalam sebuah wadah perbedaan. Dulu maupun sekarang, kisah cinta sejenis cinderella memang tak pernah berakhir bahagia.

Tak lama kemudian tersiar kabar terbunuhnya seluruh pengunjung bar-bar malam. Mereka diracun secara bengis oleh seorang pembunuh bayaran yang sengaja disewa negara untuk menghabisi para koruptor, pencuci uang, preman, dan semua penjahat-penjahat kriminal yang berkumpul menjadi satu kesatuan di dalam bar.

Alana.

Sang pembunuh bayaran berkedok penari malam.

oOo

Dua puluh tahun kemudian,

Dalam kurun waktu yang cukup panjang sebuah kerajaan runtuh dan dibangun. Algazar duduk di atas singgasana. Negaranya kacau balau oleh pemberontakan para pengkhianat yang menginginkan kehancuran dirinya. Para menteri pergi meninggalkannya seorang diri. Sebagian besar rakyatnya mati. Kini ia sendiri ditemani Darrel yang semakin hari semakin lemah karena usia.

“Sampai di sini apakah Paduka hendak berhenti?”

“Darrel,” Algazar bersandar pada sandaran takhta berukiran naga.

“Ya Paduka?”

“Aku tidak pernah berniat membunuh rakyatku. Aku hanya mengambil sedikit pajak dari mereka karena telah tinggal di tanahku apa itu salah? Aku hanya menyingkirkan kalangan budak yang rendah agar rakyatku bisa memiliki kasta yang tinggi. Aku hanya memberikan sedikit wanita-wanita dari negaraku untuk negara adikuasa sebagai hadiah demi kemakmuran rakyatku. Dan aku hanya … Apakah aku salah?”

“Niat Paduka memang mulia, hanya saja mungkin caranya yang salah.” Darrel menunduk dalam-dalam. Ia tidak berani mengatakan kejujuran untuk menyangkal kalimat Algazar.

Hari itu langit cerah. Pintu istana tiba-tiba saja terbuka. Seorang wanita masuk dan berjalan mendekati singgasana Algazar. Wajah yang sama dengan wajah dua puluh tahun lalu pada suatu malam di atas panggung sebuah bar. Kedua matanya masihlah menunjukkan kepedihan yang coba terus ia sembunyikan. Hanya saja tubuhnya masih sama seperti terakhir kali mereka berjumpa pada sebuah perpisahan yang memilukan.

“Alana?”

Wanita di depan Algazar tersenyum penuh arti. Saat itu muncullah dua sayap api di punggung Alana. Rambutnya berubah merah menyala dan kedua iris matanya berwarna merah. Algazar nyaris melompat dari tempatnya duduk karena terkejut.

“Ka-kau iblis?”

“Aku masihlah sama seperti sebelum aku mati dipenggal karena kejahatanku dan kemudian aku dikutuk menjadi penghuni dunia api. Hari ini aku ditugaskan untuk mencabut nyawamu Algazar. Raja yang bengis.”

Liara Divya 

-Selesai-
Tuesday, January 9, 2018

Please follow and like us:

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *