Nanti

Sore itu, aku memudar bersama luruh butir-butir air matamu
Engkau berselimut kaca mengembuni selasar tepi-tepi mentari
Debar ini masih saja bersorak kala mataku melepas pandang
Pada sayu wajahmu yang tergores nama tak bertuan

Lagi, sepatah kata terucap diterbangkan suara dingin
Berputar menyenggol sisi dari bisik sanubari,
Dan pekat langit memayungi gemuruh hatiku yang meragu
Bimbang melayangkan ragaku pada sebuah persimpangan jalan

pixabay.com

Ah, aku akan ucapkan saja
Biarlah mentari merebak pergi hingga esok lusa

Sayang, bolehkah aku pinta satu hal padamu?

Apa? 

Akan kuberitahu, 

Kapan?

Nanti. 

Dani Hestina P

Selembar puisi ini didedikasikan teruntuk Kakakku, Viga PC. 

Kulon Progo, 02 Januari 2018

Please follow and like us:

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *