The Closet Game

Ting … Ting … Ting,

Suara notifikasi WhatApps terdengar berturut-turut dari sebuah laptop yang tergeletak di atas meja belajar tanpa ditemani oleh pemiliknya itu meminta agar sang pemilik akun untuk membuka pesan. Tak butuh satu menit Evelyne Wistle memasuki kamar, setelah pergi mengambil air minum dan membiarkan laptopnya menyala, untuk membuka pesan masuk. Gadis berambut pirang panjang yang akrab dipanggil Eve itu tersenyum membaca beberapa pesan masuk dari teman-teman kampusnya bahkan dari sang kekasih, Adam Gray.

Eve adalah gadis periang yang mudah bergaul, selalu membuat lelucon, sangat suka hal-hal yang berhubungan dengan dunia mistis. Tak heran jika teman-teman bahkan orang lain menganggapnya sebagai orang gila, meskipun begitu mereka tidak menjauh dengan alasan mereka merasa nyaman ketika bersama dengannya. Tentu saja ia senang memiliki teman-teman yang sangat baik dan ia berharap agar selalu ditemukan oleh orang-orang yang baik padanya.

Ting … Ting … Ting,

Suara notifikasi WhatApps kembali terdengar membuyarkan lamunan Eve. Dengan segera, ia membuka satu pesan masuk dari salah satu sahabatnya yang lama tidak berjumpa, Lucy Meilin. Ia tersenyum, namun dengan cepat berubah serius ketika membaca isi pesan Lucy. Ia pun dengan segera mengirim balasan.

—————————————————————————————————————-

Lucy Meimei

Online

11.00 PM – Hey Eve. Miss me?
 Eve, Cobalah ini. Kau pasti suka!
https://theghostinmymachine.wordpress.com/2016/04/04/the-most-dangerous-games-the-closet-game/
11.02 PM – But, You must be carefull!

Karena level tingkat bahayanya sangat tinggi.

“Ya ampun, Lucy. Kau mengirimkanku hal itu?” seru Eve dalam balasan pesannya. Bagaimana tidak, sahabat sejak kecil yang tidak pernah bertemu karena terbatas oleh jarak dan waktu mengirim sebuah pesan yang tidak terlalu penting.

“Betapa lucunya dirimu Luc. Tapi terima kasih atas kirimannya” Eve melanjutkan sembari tersenyum memikirkan rencana untuk memainkan permainan tersebut. Masih beberapa jam lagi, kurasa aku harus bersiap-siap, pikirnya setelah melihat jam digital yang terpampang pada layar laptopnya.

Eve beranjak untuk menyiapkan apa saja yang dibutuhkan dan membiarkan laptop tetap menyala. Ia memastikan jendela dan pintu rumahnya terkunci dengan rapat. Beberapa lampu ruangan dibiarkan menyala agar tak seperti rumah kosong yang siap diterjang oleh pencuri. Maklum saja ia harus berjaga-jaga agar tidak terjadi sesuatu yang buruk karena hanya ia seorang saja yang tinggal di rumah berlantai dua itu, rumah yang besar untuk ukuran satu orang. Orang tuanya sedang melakukan perjalanan bisnis luar negeri, sedangkan kakaknya sedang berlibur bersama teman-teman kampusnya.

Setelah selesai, Eve berjalan menuju kamar kesayangannya yang berada di lantai dua sambil membawa persediaan yang dibutuhkan; sekotak korek. Ia berjalan menaiki anak tangga kayu membuat suara deritan yang bisa membuat bulu kudu berdiri. Kriieek … kriiiek … kriieeek, begitulah bunyinya. Namun ketika ia sampai pada anak tangga yang ke sepuluh, terdengar suara ketukan pintu membuatnya terhenti dan menengok ke arah sumber suara tersebut.

Tok … tok … tok,

Eve masih terdiam di tempat, terpaku dengan segala pikirannya. Sebenarnya, sendirian di rumah adalah hal yang paling menguntungkan sekaligus merugikan. Menguntungkannya ketika ia bebas melakukan apa saja yang diinginkan, namun merugikannya adalah seperti saat ini, tiba-tiba ada yang bertamu saat waktu menjelang tengah malam. Jadwal pulang orang tua dan kakaknya masih lama, sedangkan teman-temannya juga tidak memberitahu kalau ingin bertamu. Bukannya tidak mau menerima ataupun takut, tapi tamu di waktu saat ini?, yang benar saja, padahal ia ingin segera memainkan permainan yang dikirim oleh Lucy.

Eh? Ia baru saja menyadari sesuatu yang membuat buku kuduknya berdiri. Meskipun, Eve penyuka hal-hal mistis dan adrenalin tetapi ia juga memiliki rasa takut yang selalu ditutup-tutupi.

Perlahan ia menuruni anak tangga menuju pintu utama rumahnya dengan harapan tidak ada orang gila yang ingin menggeledah rumah mencari sesuatu berharga. Ia menaruh korek di atas meja furnitur di ruang tamunya dan mencari tongkat baseball kesayangan milik kakaknya.

Sssssh … huuu, baiklah, Eve mencoba menenangkan sekaligus meyakinkan dirinya untuk berani.

Setelah sampai di depan pintu, ia memosisikan sebelah mata di depan lubang intip pintu rumahnya. Ia terbelalak sekaligus bertanya-tanya saat mengetahui bahwa tidak ada orang di sisi lain pintu itu tetapi suara ketukannya sangat terasa.

“Hahaha fiiuuh … mungkin aku salah dengar,” serunya saat menyadari kesalahan yang ia buat, “Sebaiknya aku kembali dan memainkan permainan itu.” Eve berbalik menuju korek berada dan menukarkan tongkat baseball dengan dua benda tersebut kemudian ia melanjutkan perjalanan menuju kamar kesayangannya.

Tak lama kemudian, Eve sampai pada kamar tersayangnya. Kamar berukuran 3×3 meter itu memiliki perpaduan warna putih dan coklat dengan 2 jendela berukuran medium. Ketika masuk akan mendapati di sisi kanan terdapat kasur Queensize, di kiri kasur terdapat meja rias, di depan kasur itu terdapat lemari pakaian dengan dua pintu berukuran besar, dan di tengah-tengah 2 jendela terdapat meja belajar miliknya. Lampu kamarnya belum ia matikan karena ia belum mengantuk sama sekali.

Eve berjalan mendekati meja belajar, menaruh korek di samping laptop yang masih menyala dan duduk kembali menghadap laptop, membuka pesan-pesan yang belum ia buka saat meninggalkan kamarnya. Diliriknya jam digital laptop. 11.30 PM, begitulah yang terpampang di sana. Masih setengah jam lagi, pikirnya sambil melanjutkan kegiatan membalas pesan-pesan yang telah menumpuk itu.

—————————————————————————————————————-

Matchiversity

Online

11.30 PM

Teman-teman, aku ingin memberitahu kalian

aku hari ini akan memainkan sebuah permainan

berjudul Closet Game. Ada yang mau ikut? *smile*

11.30 PM – Anna

Apa? Kau gila? Permainan itu dapat memanggil iblis terkuat

Sebaiknya jangan kau lakukan!

11.31 PM – Andrew

Aku dengar permainan itu sangat berbahaya, inginku cegah

tetapi aku sudah sangat penasaran dengan hasilnya, jangan

lupa beritahu padaku bagaimana hasilnya! Dan berhati-hatilah!

11.32 PM – Lisa

Eve, jangan kau lakukan permainan itu. Jika kau gagal maka

jiwamu akan dibawa oleh sang iblis dan kau akan mati

11.33 PM – Boy
Apa kau gila?

 

Ting … Ting … Ting … Ting … Ting,

Notifikasi grup WhatsApp kampusnya terus berbunyi pertanda bahwa mereka merespon pesan tersebut dan belum terkapar dalam indahnya mimpi di malam hari. Eve tersenyum melihat reaksi teman-temannya. Segitu khawatirnya kah kalian? pikirnya. Sekali lagi ia sangat senang memiliki teman-teman yang peduli padanya.

“Tenanglah teman-teman. Aku akan baik-baik saja! Aku sudah memainkan beberapa permainan seperti itu dan sampai saat ini aku baik-baik saja,” serunya dalam chatting grup kampus itu.

Jam digital laptop menunjukkan waktu 11.58 PM pertanda ia harus segera mengakhiri kegiatannya di depan laptop dan memulai permainannya, tapi sebelum itu ia menulis beberapa kata di grup WhatsApp miliknya.

“Sampai jumpa esok di kampus. Doakan aku akan baik-baik saja!” serunya. Belum ia membaca balasan dari teman-temannya, semua aplikasi yang menyala ia matikan begitu juga dengan laptop miliknya, dan setelah benar-benar mati, laptop itu ia tutup. Dia mengambil satu kotak korek, berjalan menuju pintu kamar untuk menutupnya dan mematikan lampu kamar sesuai dengan prosedur permainan tersebut. Untung saja lampu lorong depan kamarnya telah ia matikan tadi, jadi lantai 2 rumahnya benar-benar dalam keadaan gelap kecuali kamar orang tuanya ia biarkan menyala di balik pintu yang tertutup.

Setelah pintu tertutup dan tidak ada cahaya apapun di dalam kamarnya, ia melanjutkan langkah menuju lemari berwarna putih tersebut. Dibukanya pintu lemari dan ia singkirkan beberapa pakaian yang tergantung di sana ke sisi lain agar ia dapat masuk ke dalamnya tanpa terganggu pakaian-pakaian tersebut. Ia kemudian duduk di dalamnya menghadap pintu lemari sambil memegang korek, setelah posisinya nyaman untuk memulai permainan dengan segera ia menutup pintu lemari tersebut. Ia mengambil sebatang korek api, memosisikannya di depan muka, lalu ia berkata dengan lirih, “Show me the light or leave me in darkness.”

Eve menunggu sambil mendengarkan dengan seksama. Menit pertama telah berlalu tanpa gangguan apapun. Namun, pada menit kedua ia mendengar kegaduhan yang berasal dari lantai bawah; sebuah dentuman benda-benda, ketukan pada dinding rumah, dan deritan lantai kayu. Ia khawatir sekaligus bimbang; khawatir karena takut si pencuri memasuki rumahnya, bimbang karena ia harus melanjutkan permainannya. Pada menit selanjutnya, suara-suara itu terhenti membuatnya lega sekaligus khawatir. Semoga tidak ada pencuri yang masuk, pikirnya. Ia pun melanjutkan permainannya, ia mengulang sebuah kalimat, “Show me the light or leave me in darkness.”

Lagi-lagi menit setelah ia membacakan sebuah kalimat tersebut tidak terjadi apapun. Ini konyol, apa Lucy mengirimkanku hal yang tidak pernah terbukti?, pikirnya. Ketika ia berniat untuk beranjak dari lemari itu, ada sebuah bisikan sangat pelan. Ia terdiam, untuk memastikan suara tersebut. “Show me the light or leave me in darkness,” ia mengulang kalimat tersebut untuk yang ketiga kalinya. Ia terdiam kembali, menajamkan indera pendengarannya. Kembali terdengar suara bisikan sangat pelan, namun perlahan suara itu terdengar jelas dan menjauh. Eve dengan cepat menyalakan korek api yang ia pegang, saat ia teringat akan beberapa kalimat “Jika suara yang ditimbulkan oleh makhluk halus mendekat berarti ia berada jauh dari kita, namun jika suara tersebut menjauh berarti ia berada dekat dengan kita.”

Creesh … Creeessh,

Korek api itu tidak mau menyala. Tangan Eve bergetar, tubuhnya berkeringat dingin, jantungnya berdegup kencang, ia ketakutan karena keberanian kali ini tidak berpihak padanya. “Ku mohon, menyalalah, ku mohon, ku mohon,” ia terus mencoba menyalakan korek api tersebut.

Di tengah usahanya, lemari itu perlahan bergetar, membuat suara dentuman antara lemari, lantai dan dinding, gantungan pakaian pun ikut bergerak. Bulu kuduknya berdiri, jantungnya berdegup lebih kencang dari sebelumnya, keringat dingin bercucuran dengan derasnya, kepalanya berdenyut-denyut panas, otot-ototnya menegang, perut dan dadanya terasa sakit, tangannya dingin dan bergetar. Hawa di dalam lemari pun semakin dingin, ia tidak dapat berkonsentrasi. Ia mempercepat usahanya, mencoba batang korek api yang baru.

Percikan api yang terlihat sekilas membuatnya sedikit bernafas lega, sekali lagi ia menyalakan kembali dan kali ini ia berhasil. Satu batang korek api itu menyala menerangi kegelapan lemari, kemudian ia merasakan sebuah hembusan nafas di tengkuk leher, sangat dingin untuk sebuah hembusan nafas. Dengan sontak ia berbalik dan menemukan hal yang paling mengerikan. Sebuah mata merah menyala di dalam kegelapan, gigi taring yang panjang dan tajam, ia tersenyum pada Eve. Segera ia berlari keluar dari lemari menuju saklar lampu kamarnya yang berada di sebelah pintu tanpa menutup pintu lemari. Ia tahu bahwa di dalam lemari itu ada sesuatu yang mencoba menariknya ke dalam neraka. Saklar lampu kini berada pada posisi on yang berarti lampu telah menyala dan lemari itu kini terdiam tenang. Ia memperhatikan lemari yang masih terbuka, ‘makhluk itu’ tidak ada di sana.

“Kurasa sekarang telah aman,”serunya sambil menghembuskan nafas lega. “Sebaiknya aku segera tidur dan mengejutkan teman-teman keesokan harinya.”

Setelah merasa aman, ia berjalan menuju lemari yang masih terbuka untuk menutup pintunya. Lampu kamar dibiarkan menyala, ia meringkuk di balik selimut tebalnya dengan posisi menghadap lemari untuk memastikan semua akan baik-baik saja, karena dalam permainan ia terlalu lama menyalakan korek api dan ia juga berbalik setelah mendengar bisikan.

Jam weker miliknya menunjukkan pukul 03.00 AM, Eve sedang tertidur dengan lelap tanpa sadar jendela yang awalnya tertutup kini terbuka dan membuat angin kencang berhembus masuk ke dalam kamarnya. Angin itu menerbangkan kertas-kertas yang tersusun rapi di atas meja ke segala arah, hawa dinginnya menelisik masuk ke dalam kulit Eve namun ia tetap tertidur di balik kehangatan selimut tebal miliknya, angin itu juga membuka kedua pintu lemari yang tidak ditutup rapat oleh Eve memperlihatkan pakaian-pakaian yang bergantung di sana bergerak tertiup angin, menampakkan beberapa goresan kuku di dinding kayu lemari. Lemari itu terbuka, membuat suara dentuman yang sangat keras membangunkan Eve dari tidur nyenyak. Ia mencoba menenangkan nafasnya yang terengah-engah karena terkejut oleh dentuman keras pintu lemari itu.

Sebelum ia berhasil menenangkan diri, mata coklatnya menangkap goresan-goresan kuku tajam yang menghiasi dinding kayu lemarinya. Mata coklat itu terbelalak, badannya kembali berkeringat dingin.

“Tak apa! Tak apa! Selama ada cahaya aku akan …” belum sempat ia meyakinkan dirinya.

Daaarrrr,

Lampu kamar tidurnya tiba-tiba pecah dengan sendirinya, secara bersamaan Eve memperhatikan lampu kamarnya yang tergantung di atas. Oh tidak! Pikirnya, kini kamar tidurnya berada dalam kegelapan, angin dingin telah pergi dari kamarnya.

Krrreeettkk … krrreettk … tak … tak,

Beberapa detik kemudian, terdengar suara goresan kuku yang berasal dari dalam lemari. Eve dengan spontan mengalihkan pandangannya ke arah lemari. Pakaian-pakaian yang tergantung diam, perlahan bergerak membuat jarak-jarak seperti ada yang menggesernya. Mata coklatnya menangkap jari-jari dengan kuku panjang berwarna hitam di antara pakaian yang bergeser. Di tengah-tengah lemari, dua buah mata merah menyala menatap matanya dan sebuah taring panjang yang menampakkan senyuman padanya. Eve dengan cepat mencari sebuah senter di dalam laci meja riasnya dan ia tidak menemukannya, kemudian ia melirik meja belajar dan menemukan senter beserta ponsel miliknya di sana.

Sebelum menuju meja itu, ia menyempatkan untuk melirik lemari dan ‘makhluk itu’ masih berada di sana. Perlahan mata merah dan taring panjang itu maju menyeruak keluar dari celah-celah pakaian yang bergantung serta tangan berkuku panjang itu sudah berada di engsel pintu lemari. Dalam kegelapan ia melihat kepalanya seperti kepala unta, kedua mata merahnya terbelah pada sepanjang permukaan wajah, lubang hidungnya terbuka seperti ketel tukang bekam, kedua bibirnya seperti bibir lembu, taring panjangnya keluar seperti taring babi hutan dan janggutnya terdapat tujuh helai rambut. ‘makhluk itu’ mencoba untuk keluar dari dalam lemari dan untuk membawa Eve–tidak! Bukan Eve, tapi jiwanya–ke dalam neraka.

Setelah Eve melihat dengan jelas muka dari ‘makhluk itu’, ia segera berlari menuju meja belajar dan mengambil senter agar ‘makhluk itu’ tidak menggapai dirinya.

Ccccttth … Cccttth,

Senternya tidak mau menyala, ia menyempatkan untuk melirik kembali ke arah ‘makhluk itu’. “Oh, tidak! Menyalalah! Kumohon!” serunya sambil mengetuk-ketuk senter dengan telapak tangannya, ia panik kali ini. Bagaimana tidak, ‘makhluk itu’ telah menampakkan kedua kakinya yang berbulu lebat berwarna hitam seperti kaki kambing, tubuhnya seperti daging yang menonjol di atas pungungg, wajahnya yang ada di antara dada dan kepala itu seperti wajah kera, tinggi ‘makhluk itu’ melebihi tinggi lemari yang berukuran 2 meter, ia berdiri tegap kukunya ia luruskan, matanya tetap merah padam, senyumannya sangat mengerikan, dan ‘makhluk itu’ telah keluar. Eve semakin panik, dilemparkannya senter ke sembarangan tempat, ia mengambil ponsel miliknya mencari aplikasi senter di sana dan menyalakannya.

Eve berhasil menyalakan senter ponselnya dan secepat mungkin mengarahkan ke ‘makhluk itu’ yang berjarak beberapa langkah dari tempatnya berdiri. ‘makhluk itu’ menghilang ketika sinar senter ponsel Eve menyinari wajahnya. Eve masih belum merasa lega, ia mengarahkan senter ponsel ke berbagai arah, wajahnya serius mencari kemana ‘makhluk itu’ pergi. Ia teringat kamar orang tuanya menyala, kemudian ia berlari ke sana mencari perlindungan.

Di tengah jalan ia berhenti, ia melihat bayangan melalui celah bawah pintu kamar orang tuanya dan beberapa detik kemudian lampu itu padam. Perlahan pintu kamar itu terbuka manampakkan dua buah mata merah tajam, Eve kemudian berlari menuruni tangga untuk mencari ruangan yang masih menyala. Ruangan pertama adalah dapur, meskipun gelap ia mencoba menyalakan lampu dan untungnya itu baik-baik saja. Ia kini merasa sedikit lega, kemudian ia menghubungi kekasihnya namun yang ada hanyalah suara operator yang berkata bahwa tidak ada jawaban dari nomor kekasih. Berulang kali ia mencoba menelpon kekasihnya, namun pada usaha ke sepuluh ia berhasil.

“Halo? Adam? Biasakah kau kemari? Aku membutuh …” kalimatnya terputus ketika ia mendengar suara telepon terputus, “Halo? Halo? Adam?”

Pada detik selanjutnya terdengar suara gaduh di lantai atas, dentuman langkah kaki yang berat dan besar bersamaan dengan deritan lantai kayu. Jantung Eve kembali berdegup kencang, ia cemas, gelisah. Seharusnya aku mendengarkan mereka untuk tidak memainkan permainan itu, pikirnya. Namun apa yang terjadi tidak bisa dicegah maupun diulang kembali agar tidak terjadi, ia menyesal namun ia harus menerima kenyataan ini. Sebuah langkah kaki yang berat dan besar itu berjalan menuruni anak tangga, Eve mengambil sebuah pisau yang ia harapkan dapat melindunginya dari ‘makhluk itu’ meskipun sebenarnya mustahil.

Deemm … deeeem … drap … drap … drap,

Suara langkah itu terdengar kencang seperti langkah orang bertubuh besar yang sedang marah, namun suara itu terhenti di depan perbatasan dapur dengan ruang sebelah. Eve menghadap perbatasan itu sambil mengarahkan mata pisaunya ke depan. Suara langkah itu terhenti hanya beberapa detik saja. Perlahan sebuah tangan berkuku panjang keluar dan menyentuh dinding dapur bersamaan dengan kegelapan yang menyeruak masuk ke dalam membuat lampu dapur tersebut pecah seperti lampu kamar Eve. Secepat mungkin Eve menyalakan senter ponselnya yang mati ketika ia menelpon kekasihnya tadi.

Crasssh,

“Aw” teriak Eve ketika merasakan sesuatu yang tajam menggoresnya dalam kegelapan dan secara bersamaan senter ponselnya menyala. Ia menyinari bagian tubuhnya yang terasa perih dan ia terkejut ketika melihat ada goresan –yang sama seperti di dinding lemari– berada di kaki kirinya. Darah segar itu mengalir sempurna dari kaki mulusnya menuju lantai kayu.

Ggggrrrrhh,

Suara geraman terdengar berasal dari ujung ruangan yang terlihat gelap, dengan segera Eve menyinari tempat itu. Nampaklah wujud ‘makhluk itu’ yang sedang tersenyum ke arahnya. Eve ketakutan dan panik, ia segera berlari keluar rumah namun sayang pintunya terkunci rapat dan ia harus mencari kunci rumah yang berada di laci furnitur ruang tamu.

Eve membongkar semua laci-laci furnitur itu, dan berhasil menemukan kunci rumahanya. Dengan segera ia berlari menuju pintu dan mencoba menaruh kunci pada lubangnya. Sayangnya tangannya terlalu banyak bergetar membuat kunci itu susah untuk masuk ke lubangnya dan dengan mulusnya kunci itu terjatuh.

Eve meruntuki kebodohannya yang menjatuhkan kunci itu di saat-saat yang tidak tepat. Mendengar kembali suara langkah kaki, ia mengambil kunci itu dan kali ini ia sukses memasukkannya ke dalam lubang. Namun ketika ia ingin memutar untuk membuka, sesuatu menarik tubuhnya ke atas meninggalkan sebuah ponsel dan pisau yang terjatuh. Setengah menit kemudian, tubuh Eve mendarat keras di atas lantai, namun ia sangat beruntung karena masih hidup. Wajahnya membiru, darah mengucur dari bibirnya, nafasnya tersengal, kaki dan tangannya terluka, namun dengan sisa tenaganya ia membuka kunci dan berlari keluar rumah mencari pertolongan.

Sebelum ia mendapatkan pertolongan yang diinginkan, sayangnya ia tertabrak mobil saat mencoba berlari mencari bantuan dari sekitarnya. Tubuhnya terpental beberapa meter dari kejadian itu, tulang-tulangnya patah, darah mengalir membanjiri wajah dan tubuhnya. Sebelum ia kehilangan kesadaran, ia melihat ‘makhluk itu’ berdiri di atas tubuh rusaknya dengan tersenyum. Eve ketakutan namun ia tak bisa menjauh, ia hanya bisa menangis antara kesakitan dan ketakutan yang luar biasa. Dunianya mulai menggelap, ‘makhluk itu’ tetap berada di sana.

10.00 PM, muncul sebuah berita yang berisi tentang kejadian kecelakaan pada dini hari namun tidak ditemukan satupun mayat korban kecelakaan meskipun di tempat kejadian ditemukan genangan dan bercak-bercak darah yang sudah mengering. Dan tiga bulan sejak kejadian itu, kabar korban tidak pernah terdengar bahwa telah ditemukan. Keluarga, kerabat, dan kekasih korban terus berharap agar korban segera ditemukan apapun keadaannya.

 

– THE END –

 

Surabaya, 24 Agustus 2017

Shina Scarletta

 

Please follow and like us:

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *