Pasien 454

Hari itu, ketika aku berumur 6 tahun. Aku bermain di taman bersama teman-temanku. Akan tetapi, mereka menjauhiku, meneriakiku, melempariku dengan batu, menginjak-injak tubuh ringkukku. Aku tidak menangis. Aku hanya bisa terdiam. Apa salahku? Aku tidak pernah menjahili mereka, aku hanya ingin berteman dengan mereka.

Saat aku pulang ke rumah, ibuku bertanya padaku, “Kau kenapa anakku? Apa mereka menjahatimu lagi?”

“Tidak ibu, mereka menemaniku bermain. Tapi bu, mereka memberitahuku jika aku ini anak haram. Ibu apa itu anak haram? Ketika aku bertanya, mereka hanya terdiam saja, bu.” aku bertanya tanpa ekspresi pada ibuku yang terkejut.

“Tidak nak, kau bukan anak haram tapi kau anak ibu yang ibu sayangi. Kau lapar, bukan? Mandilah dulu, selepas itu kita makan sama-sama, ya?”

“Iya. Oh ibu aku membawakan daging untukmu. Ini dari teman-temanku.” Setelah memberi sebungkus plastik besar, aku pun segera menuju kamar mandi dan meninggalkan ibuku yang sibuk di dapur menyiapkan makanan untuk kami berdua.

Sejak kecil aku hidup berdua dengan ibuku, aku tidak tahu kemana ayahku pergi selepas ia bertengkar dengan ibuku. Akan tetapi, selepas ayah kandungku pergi ibuku berulang kali menikah hingga sekarang. Sebenarnya aku penasaran kemana semua ayahku pergi namun aku tidak ada niat untuk bertanya pada ibuku. Mungkin bagiku hidup berdua dengan ibuku sudah membuatku bahagia, terlebih lagi dengan masakannya yang lezat.

Meskipun kami hidup miskin tetapi kami masih bisa merasakan apa yang namanya daging. Bahkan hampir setiap hari kami selalu makan daging. Mungkin itu menu yang ibu masak hari ini. Aku sudah tidak sabar untuk itu.

Setelah selesai mandi aku pergi menuju ibuku yang sedang memasak untuk kami berdua. Dia tersenyum saat menyadari aku telah usai mandi.

“Kau semakin cantik saja.”

“Ah ibu bisa aja. Aku kan anak ibu. Ibu juga cantik kok.” Ibuku hanya tersenyum mendengar hal itu sembari membawa masakannya yang telah siap disajikan.

“Nah, masakannya sudah siap. Ayo kita makan!”

Kami pun makan bersama. aku sangat menyukai masakan ibuku, terlebih lagi masakan dagingnya yang sangat enak.

Pernah dulu, ada tetangga kami yang berbaik hati membagikan makanan kepada kami. Akan tetapi, jujur saja aku tidak menyukai masakan mereka walaupun masakan mereka sama dengan masakan ibuku. Bumbu yang dipakai pun sama seperti yang dipakai ibuku. Akan tetapi bahan yang dipakai ada yang berbeda, yaitu daging. Aku bisa tahu karena aku memiliki kemampuan untuk mencicipi masakan. Daging yang dipakai ibuku jauh lebih enak dan lembut daripada yang dipakai oleh tetanggaku.

Pernah juga dulu, kami diajak tetanggaku untuk makan bersama di restoran. Restoran itu menyuguhi masakan steak sebagai menu utama. Aku memilih itu karena aku menyukai daging. Akan tetapi, masakan mereka tetap tidak enak. Aku melihat tetanggaku makan steak itu dengan lahapnya. Aku hanya bisa mendengus kesal. Ibuku hanya bisa tersenyum ketika melihat ekspresiku.

Bicara tentang senyuman, aku tidak menyukai senyuman ibuku saat itu. Aku menyukai senyuman ibuku ketika ia memotong-motong daging untuk bahan masakan. Aku melihat ibuku menikmati setiap gerakkan ketika menguliti daging-daging itu, memotong-motong setiap senti tulang-tulang itu dan mengeluarkan setiap organ-organ tubuhnya serta tak lupa ia memeras kencang di setiap pembuluh maupun serat-serat untuk mengeluarkan darah-darah segar. Serta tak lupa ia menikmati suara-suara indah yang keluar saat ia mulai mengulitinya dan suara-suara lembut dari goresan-goresan pisau tumpul yang ia gunakan.

Namun kini, senyuman beserta masakannya tak bisa kunikmati lagi. Ibuku sudah meninggal dan aku juga tidak pernah bertemu dengan teman-temanku, ketika aku berusia 10 tahun. Ya! Saat ini aku berusia 20 tahun, hidupku tak seperti dulu lagi. Kini aku hidup dalam serba cukup, aku pun memiliki banyak teman.

Beberapa hari yang lalu, aku diajak oleh salah satu temanku yang baru kemarin aku temui untuk makan malam di rumahnya. Ini aneh sekali, baru sekali bertemu dan ia sudah mengajakku makan malam bersama. Terlebih aneh lagi, baru-baru ini ia terlibat pada sebuah ajaran agama yang aneh. Ia menyuguhiku dengan berbagai macam masakan yang terbuat dari daging. Aku mengira jika itu adalah daging manusia, tetapi setelah aku memakannya, masakannya tidak selezat masakan yang selalu aku dan ibuku masak. Dan daging itu benar-benar bukan daging manusia. Ini semakin aneh.

Setelah makan malam, aku pun pulang ke apartemen dan bermain dengan mainanku yang tertunda bersama temanku yang telah menunggu. Suara-suara yang ditimbulkan membuatku mengenang mendiang ibuku. Suara-suara itu bahkan lebih indah dari sebelumnya. Aku menyukainya, tapi temanku tak menyukainya. Aku mendengus kesal. Aku pun pergi meninggalkannya untuk mandi karena tubuhku kotor akibat permainan tadi.

Keesokan harinya, aku melihat ke ruangan di mana aku meninggalkan temanku berada. Namun sayang, ia telah pergi semalam dan meninggalkan mainannya di sini. Akhirnya, akulah yang harus membereskan semuanya. Setelah usai dengan itu aku pergi untuk memasak sarapan sekaligus makan siang nanti.

Hari ini, hari minggu, saatnya aku mengecek semua keperluan untuk hari mingguku. Bahan memasak masih tersedia, minuman juga masih tersedia, mainan? Ah aku lupa mainannya tidak ada, itu berarti aku harus keluar untuk mencari mainan lagi. Akhirnya aku memutuskan untuk keluar mencari hal yang menyenangkan.

Kini aku berada di sebuah stasiun, duduk di bangku dan menunggu kedatangan kereta. Tak lama kemudian, seorang wanita datang dan duduk di sebelahku. Ia melihat ke arahku dan ia bertanya padaku, “Bayi anda imut sekali.”

“Ini bukan bayi, tapi tas.” Aku menjawabnya sembari tertawa. Lalu aku memutar bayi yang kubawa, melepaskan pakaian dan menunjukkan resleting di perut bayi itu.

Sepertinya ia sadar jika mata bayi yang kubawa ini terlihat seperti terbuat dari kaca. “Wow itu tampak sangat realistis sekali!” katanya

“Iya aku tahu itu.” aku menjawab dengan senyuman, “Butuh kerja keras dan menyita banyak waktu untuk membuat ini. Tapi itu tidak apa-apa bagiku, karena aku benci untuk membuang benda sia-sia dan aku suka daur ulang.”

Tak lama kemudian kereta telah berhenti, aku pun berdiri dan menaiki kereta tersebut. Anehnya, ia tidak naik kereta yang sama denganku walaupun tujuannya sama seperti kereta yang kunaiki saat ini. Lalu aku melihatnya duduk kaku sembari melihat kereta yang kutumpangi pergi menjauh. Aku hanya tersenyum dan berkata pelan “Ah, dia sadar. Tidak asyik!”

Lalu aku mengingat pertanyaan dari wanita itu tentang suamiku dan aku bilang padanya jika aku belum menikah. Bukan berarti aku tak ingin menikah, tetapi aku masih ingin bersenang-senang saja dan ingin menggapai cita-citaku sebagai seorang dokter. Aku bahkan pernah mendaftar sebagai dokter dan belajar dengan sungguh-sungguh. Membutuhkan kerja keras dan banyak tenaga akhirnya aku mendapatkan nilai sempurna, khususnya pada tes otopsi pada hari jumat lalu. Semua itu berkat bantuan dari teman sekamarku saat aku di asrama. Aku berharap bisa berterima kasih padanya mengingat ia pernah membantuku saat mencari mayat untuk diotopsi, tapi sayang ia sudah tidak ada di sini lagi.

Setelah menikmati udara segar dan mencari kesenangan meskipun tidak mendapatkannya, aku pergi ke kamarku untuk melihat email-email masuk. Mengingat tentang email, beberapa hari yang lalu kekasihku mengirimkanku sebuah email yang berisi sebuah video. Aku tidak tahu tentang video itu. Ketika aku menonton video itu, aku dibuat terkejut. Video itu menayangkan bagaimana kekasihku melakukan aksi bunuh dirinya, di awali dengan ia mengikatkan tali di sekitar lehernya dan melompat dari kursi. Aku sangat menyesali kepergiannya. Akan tetapi karena alasan tertentu aku tidak menghadiri upacara pemakamannya di keesokan harinya.

Setelah aku mengecek email-email masuk, aku lalu membaca cerita seram pada sebuah website. Meskipun banyak yang mengatakan hal itu menyeramkan namun menurutku itu sama sekali tidak menyeramkan. Satu-satunya hal yang membuatku ketakutan adalah ketika aku selesai mandi dan kembali. Aku mendengar suara gaduh di depan pintu apartemenku. Aku menyiapkan sebuah pisau dari dapur dan berjalan mengendap-endap ke arah pintu. Aku bersiap-siap karena sebelum aku sampai pada pintuku, seseorang membuka paksa pintu malang itu.

Munculah beberapa orang dengan menggunakan topeng dan bersenjata. Mereka mulai masuk dan menangkapku. Aku sempat menghindar dan berhasil melukai beberapa orang dengan pisauku sebelum akhirnya aku benar-benar tertangkap oleh mereka. Untuk menghindari amukanku, mereka membuang pisau dan memukul tengkukku yang membuat pandanganku menggelap. Akan tetapi, aku masih bisa menangkap apa yang mereka bicarakan meskipun tidak seluruhnya.

“Ikat dia yang kuat! Jangan sampai lolos! Periksa apartemennya!”

Aku membuka perlahan mataku. Cahaya putih menusuk mataku. Aku mengerjap-ngerjap mataku agar bisa melihat dengan jelas. Akan tetapi, tetap saja yang terlihat hanyalah warna putih. Apa aku di surga? Eh tunggu, ruangan ini? Ruangan ini yang pernah aku lihat di sebuah film kriminal. Jangan-jangan?!? Oh tidak! Aku berada dalam sel. Inginku berdiri dan menuju pintu di depanku tetapi sesuatu menghalangiku, ketika aku melihatnya tanganku sedang dirantai dengan kuat.

“Sial.” Ucapku.

“Oh kau sudah sadar?” ucap salah seorang yang baru saja memasuki ruanganku.

“Siapa kau? Dan di mana aku?”

“Perkenalkan aku adalah inspektur kepolisian di kota kau tinggal dan kau sekarang berada dalam sel 454. Kau berada di sini karena catatan kehidupanmu yang membuat orang-orang ketakutan.”

“Ketakutan? Mereka takut dengan kehidupanku? Kau salah! Mereka semua takut dengan hantu-hantu gentayangan.”

“Iya hantu-hantu gentayangan yang merupakan korbanmu sampai saat ini. Kau tahu korban yang kau dan ibumu bunuh itu ada 10000 orang. Kami juga sudah memeriksa rumah masa kecilmu, di sana ditemukan banyak sekali kuburan yang berisi tengkorak-tengkorak manusia dan hewan dan di sana ditemukan mayat ibumu yang berada dalam kulkas. Dan kami menemukan hal seperti itu pada apartemenmu. Apa kau mengakui hal itu?”

“Oh itu ya. Iya aku dan ibuku yang melakukannya dengan ayah-ayahku, teman-temanku, kekasihku, hewan-hewan peliharaanku. Aku melakukan hal itu untuk bersenang-senang.”

“Bisa kau jelaskan bagaimana kau membunuh mereka?”

“Apa kau ingin aku memraktekkannya? Jika iya, sebaiknya kau yang menjadi korbannya? Sekaligus aku bisa bersenang-senang karena kemarin belum menemukan mainanku.”

“Tidak perlu, kau jelaskan saja.” Aku mendengus ketika mendengar hal itu.

“Aku akan dapat apa jika aku jelaskan semuanya?”

“Kau akan dapat kata terima kasih dariku.”

“Cih.” aku kesal orang ini tidak asyik.

“Baiklah. Hihihih tapi dengarkan aku baik-baik karena aku tidak akan mengulangnya lagi.”

“Baiklah”

Kami terdiam selama satu menit sebelum akhirnya aku tertawa lepas.

“HAHAHAHAHAHA… Aku tahu kau ingin melakukannya juga kan? Seharusnya kau ada di sana ketika aku bersenang-senang. Baiklah begini. Kau carilah mereka yang terjebak dengan rayuanmu, apalagi kau tampan pasti para wanita senang mendekatimu. Setelah kau mendapatkannya, bawa dia ke rumahmu, manjakan saja dia hingga dia terlena. Setelah itu kau lancarkan saja aksimu dengan perlahan. Hmmmm aku biasanya memulai dengan memukulnya dengan palu tapi tentu saja tidak sampai mati. Jika mati maka permainannya tidak akan menyenangkan. Aku pukul sampai dia tak sadarkan diri, lalu aku ikat dan menunggu dia sadar. Nah…” aku tidak melanjutkannya karena ingin bermain-main dengannya dulu.

“Kau penasaran? Hahahah kulanjutkan tidak, ya? Hmmmm.” Aku sengaja diam untuk melihat ekspresinya dan benar ekspresinya membuatku ingin tertawa lepas lagi.

“Pffffttt kau lucu sekali. Pfffftttt hahahahaaa huuuh. Setelah dia sadar dan mulai mengeluarkan suara-suara indahnya, perlahan-lahan kudekati. Ah pastinya aku sudah menyiapkan alat-alatnya, mulai dari gergaji, pisau dapur, pisau daging, pinset, scalpel, gunting dan lain sebagainya. Ada yang paling kusuka dari semua alat itu. Kau ingin tahu apa itu? Scalpel. Hihihih karena dia akan mengeluarkan suara-suara yang membuat tubuhku bergairah. Aku memulainya dari menggores dadanya secara perlahan inchi demi inchi dengan scalpel itu sampai terlihat organ-organnya yang berdenyut-denyut.”

“Apa kau mengambil organ-organ itu?”

“Ooooh tidak, aku tidak mengambilnya. Jika aku mengambilnya itu tidak akan menyenangkan lagi. Karena bagiku organ-organ itu adalah pemandangan yang menyenangkan. Seperti, jantung merahnya yang berdetak-detak tak karuan, paru-paru yang kembang kempis, hati, usus, alat kelamin, ginjal  dan lambung yang masih berdenyut-denyut.”

“Kau benar-benar gila. Setelah itu apalagi?”

“Hmmmm coba kau tebak sendiri?”

“Mata?”

“Tidak tidak. Kalau mata dulu yang diambil maka dia tidak bisa melihat seluruh tubuhnya dengan jelas. Dan ah iya, aku juga menempatkan cermin tepat di depan tubuhnya jadi dia bisa melihat organ-organnya sendiri. Yang ku lakukan selanjutnya adalah memisahkan semua sendi-sendinya. Kali ini aku menggunakan gergaji. Srek… srek… srek… begitu bunyinya, aaaah mengingat itu membuatku bergairah saja. Aku mulai dari pundaknya lalu ke siku-siku tangannya, lalu ke sendi atas kakinya, lalu lalu ke lututnya. Hihihihi ah tak lupa pergelangan kaki dan tangannya juga aku potong.” Aku terus menerus tertawa mengingat semua itu benar-benar membuatku bergairah.

“lalu kau apakan semua potongan-potongan itu?”

“Hmmmm aku melupakan bagian terpentingnya, sebelum melakukan semua itu aku terlebih dahulu mengulitinya. Kau ingin tahu bagaimana proses menguliti? Begini kau taruh scalpel atau apapun itu pastikan jangan terlalu tajam karena akan menyakitinya dan tidak membuat permainan itu menyenangkan. Lalu kau gerakkan seperti kau menggores sebuah kertas dengan pinset, setelah itu kau buka kulitnya dengan alat tadi sampai terbuka dan meninggalkan daging dan tulang di sana. Setelah itu yaaaa seperti yang kujelaskan tadi. Aku memotong-motongnya, kupisahkan antara daging dan tulang. Ah tak lupa aku memeras serat-serat itu agar darah dan lemaknya keluar.”

“Apa yang kau lakukan setelahnya?”

“Hmmm kau berisik sekali. Dengarkan aku dulu.”

“Setelah itu baru aku menguliti kepalanya. Pertama aku kuliti semua rambutnya sampai terlihat tengkorak kepalanya, kemudian bagian wajahnya tanpa melepas matanya. Hihihi aku suka dengan ekspresinya kala itu. Setelah semua lepas, aku membuka tempurung kepalanya hingga terlihat otaknya yang berwarna merah muda. Hihihi lalu aku berpindah pada organ-organnya, pertama aku motongnya dari bawah. Alat kelamin kemudian ginjal, usus-ususnya, lambungnya, hatinya, paru-parunya, dan yang terakhir adalah jantungnya. Setelah organ-organ itu lepas, baru aku congkel kedua matanya, memotong lidahnya, mencabuti satu persatu gigi-gigi putihnya, melepaskan kedua telinganya dan mengambil otaknya yang masih segar. Hihihihi menarik bukan?”

“Lalu semua itu mau kau apakan?”

“Hmmmm untuk organ-organnya aku pajang, tulangnya aku buat campuran untuk semen, dagingnya aku masak, kulitnya kujadikan aksesoris, rambutnya kujadikan sebagai wig, dan darahnya terkadang aku buat sebagai sirup terkadang pula sebagai selai. Apa kau mau satu? Aku punya banyak persediaan.”

“Kalau begitu sesuai perjanjian kita. Aku berikan kata terima kasihku untukmu.”

“Hey hey itu tidak adil. Setidaknya lepaskan rantai ini. Tanganku sakit, ah tidak maksudku tanganku gatal sekali dan aku tidak bisa bergerak bebas ini. Hoi mau kemana kau? Lepaskan aku dulu! Hoi! Hoi! Kau dengar aku tidak?” aku terus berteriak ketika inspektur itu keluar dari selku.

10 tahun kemudian aku dibebaskan karena mereka mengatakan jika aku telah sembuh. Aku pergi ke rumah masa kecilku, tidak banyak berubah. Ayah dan ibuku tidak bekerja, mereka menghabiskan waktunya duduk di ruang keluarga bersama kekasihku, teman-temanku juga berada di taman belakang. Namun, tak seorangpun dari mereka yang berbicara kepadaku lagi. Meskipun mereka tak sama lagi dan aku kesepian, tapi aku senang mereka masih mau berada di dunia ini bersamaku lagi. Aku harus membuat makanan sendiri dan mulai mencari pekerjaan baru serta kehidupan baru yang lebih menyenangkan dibandingkan dengan sebelumnya.

 

Jangan percaya dengan siapapun!

Karena masih ada ‘aku’ yang siap membunuhmu kapan pun dan dimana pun itu.

Jadi bersiaplah!!!

 

Surabaya, 15 November 2017

Shina Scarletta

Please follow and like us:

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *